Teleskop Pemburu Planet Sejenis Bumi

Kompas.com - 31/01/2009, 07:35 WIB

TITUSVILLE, SABTU — NASA mengumumkan segera diluncurkannya teleskop sederhana, Jumat (30/1), yang akan mengemban misi besar, yakni menemukan berbagai planet sejenis Bumi yang mengorbit bintang-bintang jauh.

Sekalipun para astronom telah menemukan lebih dari 330 planet yang mengelilingi bintang-bintang pada berbagai tata surya lain, tak ada dari mereka berukuran dan berlokasi yang diduga menjadi unsur penting untuk mendukung kehidupan.

Menyandang nama astronom abad 17 yang menguraikan gerakan planet-planet, teleskop Kepler dijadwalkan akan diluncurkan pada 5 Maret dengan roket tak berawak Delta 2 dari Stasiun AU Tanjung Canaveral.

Begitu mencapai posisi yang mengikuti orbit Bumi, Kepler memfokuskan kegiatannya selama tiga setengah tahun pada wilayah langit bertabur banyak bintang antara konstelasi Sygnus dan Lyra.
 
Dilengkapi dengan kamera 95 megapiksel, kamera terbesar hingga sejauh ini yang pernah diterbangkan ke antariksa, Kepler akan berupaya menemukan planet-planet seukuran Bumi yang mengorbit di dekat bintang-bintang induk mereka.

Para ilmuwan menyatakan kegiatan ini akan seperti berupaya menemukan agas atau nyamuk kecil di tengah cahaya kemilau.

Menurut seorang pengamat dari luar NASA, sebuah planet sebesar Jupiter mengecil di depan cahaya matahari. Jalan lintasan berbagai dunia seperti Bumi menghasilkan perubahan kecemerlangan sekitar 84 bagian dalam sejuta.

"Ini sinyal yang kecil sekali dan sulit sulit diprediksi," kata James Fanson, manajer proyek Kepler di Laboratorium Proplusi Jet badan antariksa AS tersebut di Pasadena.

"Rencananya akan mengamati tempat ini selama tiga tahun dan menunggu sampai bintang-bintang itu berkedip."

Kepler akan mengirimkan data dari 170.000 target kepada para ilmuwan di Bumi untuk dianalisa.


Hanya sebagian kecil

Bintang-bintang yang dipilih hanya sebagian kecil dari sekitar 4 juta obyek yang diamati Kepler, tetapi para ilmuwan ingin memaksimalkan waktu pengamatan teleskop untuk memastikan mereka dapat menangkap sebanyak mungkin bintang yang berkelap-kelip.

Untuk menemukan planet seperti Bumi, para ilmuwan akan membutuhkan sedikitnya empat transit, suatu proses yang memakan waktu sekitar tiga setengah tahunan. Teleskop-teleskop berbasis darat akan digunakan untuk memverifikasi hasilnya.

"Terdapat beberapa fenomena astrofisika yang menyamar sebagai planet," ujar Michael Bicay, direktur sains pada Pusat Riset Ames NASA di California, kepada para wartawan di Tirusville, Florida, tempat teleskop Kepler sedang disiapkan bagi peluncurannya.

"Kami harus memilah-milah mereka," kata Bicay, seperti dilaporkan Reuters.

Tak seorang pun tahu seberapa banyak bintang yang memiliki planet bertubuh padat seperti Bumi yang mengorbit di berbagai kawasan yang dapat dihuni, tempat adanya air cair.

Air diyakini sebagai unsur terpenting bagi kehidupan, kendatipun bukti ini hanya didasarkan pada satu contoh, yakni Bumi.

"Kita berhak hidup dalam suatu masa dan sebuah negara yang memiliki teknologi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ini secara ilmiah," kata Fanson.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau