Demonstran Tamil Minta Gencatan Senjata

Kompas.com - 01/02/2009, 05:42 WIB

LONDON, SABTU — Lebih dari 50.000 demonstran berbaris melalui London dalam demonstrasi Tamil, Sabtu (31/1), untuk minta diakhirinya pertempuran di Sri Lanka. "Lebih dari 50.000 orang dalam demonstrasi itu," kata juru bicara Polisi Metropolitan London.
   
"Ada satu penangkapan karena kepemilikan sebuah senjata ofensif," imbuhnya.
   
Juru bicara itu mengatakan, demonstrasi tersebut berlangsung damai dan riang.
   
Demonstrasi itu mulai di Atterbury Street, dekat Galeri Tate Britain, dan melalui sepanjang tepi Sungai Thames dan Temple Place di London utara. Demonstran menabuh drum serta melambaikan bendera dan spanduk di sepanjang rute itu.
   
Demonstran mengirim petisi ke Kantor Perdana Menteri Inggris Gordon Brown di Downing Street, meminta pemerintah untuk meyakinkan pasukan Sri Lanka agar mengumumkan gencatan senjata.
   
Militer Sri Lanka telah memerangi pemberontak Macan Tamil yang telah tersudut di bagian utara pulau itu. Palang Merah telah berusaha untuk merundingkan evakuasi lebih banyak warga sipil yang terluka dari zona konflik.
   
Militer mengatakan, mereka sedang dalam tahap terakhir dari serangan setahun lamanya untuk membasmi pemberontak Macan Tamil dan mengakhiri konflik etnik terlama di Asia itu. Pemberontak Macan Tamil mengangkat senjata pada 1972. PBB mengatakan, sebanyak 250.000 warga sipil mungkin telah terperangkap oleh pertempuran itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau