SBY Perfeksionis, Mega Emosional, SB Manjakan Artis

Kompas.com - 01/02/2009, 14:58 WIB

JAKARTA, MINGGU — Beberapa calon anggota legislatif (caleg) yang hadir dalam Uji Publik Visi Masa Depan Caleg Aktivis dan Kaum Muda, Minggu (1/2) di Jakarta, berani buka-bukaan mengenai dosa atau keburukan ketua umum atau ketua dewan pembina partai mereka ketika ditanya salah seorang wartawan.

Menurut caleg Nova Riyanti Yusuf dari Partai Demokrat, dosa dari Ketua Dewan Pembina PD Susilo Bambang Yudhoyono adalah dorongan terhadap kesempurnaan. "Beliau mempunyai dorongan bahwa segala sesuatu harus sempurna. Hal ini agak sulit dalam pengimplementasiannya," ujar Nova.

Caleg Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Budiman Sudjatmiko, yang tidak setuju dengan kata 'dosa', mengutarakan beberapa kekurangan Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri. "Ibu Mega, yang merupakan tokoh kharismatik yang dibesarkan oleh para pendukungnya, menginginkan generasi muda yang rasional. Tapi tampaknya beliau sedang kebingungan bagaimana merasionalisasikan generasi muda," ujarnya.

Budiman melanjutkan, hal ini diperparah dengan kenyataan bahwa tidak semua kader PDI-P di sekitarnya dapat membantu. Selain hal tersebut, Megawati juga memiliki kekurangan lain. "Jika sudah menyangkut hal ideologi, beliau sosok yang emosional," imbuhnya.

Caleg Partai Amanat Nasional (PAN) Asep Supriatna lain lagi. Menurutnya, dia belum tahu dosa Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir, yang memang belum menjabat sebagai pejabat publik. "Tapi, yang saya tidak sukai, beliau memanjakan artis dan tidak membantu caleg dari kalangan aktivis," katanya.

Sementara itu, tiga caleg lainnya, Rama Pratama dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Ahmad Kamal dari Partai Persatuan Pembangunan (P3), dan Iwan Dwi Laksono dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tidak menjawab. "Saya tidak pernah terpikir tentang aib dan dosa kawan saya," tegas Rama.

Hal yang sama diungkapkan Iwan. "Saya diminta jadi caleg satu bulan sebelum batas akhir penyerahan berkas caleg. Jadi saya kurang tahu," ujarnya.

Menanggapi keberanian beberapa caleg di atas untuk angkat suara mengenai dosa atau kekurangan pemimpin mereka, Direktur Eksekutif CIRUS Andrinof A. Chaniago mengatakan, hal tersebut merupakan hal yang wajar. "Yang disampaikan oleh mereka adalah kondisi objektif," ujarnya.

Bagi caleg yang enggan menyebutkan kekurangan pemimpin mereka, bagi Andrinof, menunjukkan adanya unsur kompromi." Kemungkinan, mereka terbentur oleh etika partai," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau