Ibu negara Perancis, Carla Bruni, punya pengaruh besar dalam penentuan kebijakan politik Presiden Nicolas Sarkozy. Ini diakui sendiri oleh Sarkozy.
Pengakuan mengejutkan itu disampaikan Sarkozy kepada majalah Perancis, Le Point, Senin (2/2). "Saya setuju bahwa banyak hal penting yang dia (Bruni) sampaikan kepada saya. Pandangan-pandangannya memperluas wawasan dan pemikiran saya," kata Sarkozy.
Pengakuan itu muncul ketika pasangan yang banyak menyita perhatian publik itu merayakan ulang tahun pertama perkawinan mereka, Senin. Selain itu, pernyataan Sarkozy menarik karena muncul desas-desus Bruni terlalu mengintervensi keputusan politik suaminya.
Dalam beberapa hari terakhir, perempuan cantik yang pandangan politiknya kekiri-kirian itu menegaskan bahwa ia tetap melanjutkan kariernya sebagai penyanyi sambil mendukung tugas-tugas resmi suaminya. Pertengahan Januari lalu, Bruni dalam wawancara di televisi membantah ikut menentukan keputusan politik.
Pengaruhnya juga dikabarkan semakin besar atas sang suami, mulai dari memecat menteri hingga mendatangkan pelatih pribadi untuk mengencangkan perut Sarkozy. Ketika Menteri Kehakiman Rachida Dati mengungkapkan bahwa dia dipecat, banyak pihak berspekulasi itu hasil kerja Bruni.
Bruni juga diduga terlibat dalam membujuk Pemerintah Brasil agar memberikan suaka kepada seorang teroris Italia. Soal ini ia membantah. "Istri seorang presiden republik tidak akan mendatangi dan berbicara dengan presiden Brasil tentang sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan Perancis," katanya.
Meski begitu, ada tanda yang jelas bahwa pada Oktober 2008 ia memengaruhi keputusan untuk membebaskan satu teroris Italia lainnya. Ia berhasil meyakinkan Sarkozy membatalkan putusan pengadilan untuk mendeportasi Marina Petrella, aktivis Brigade Merah, dari Perancis ke Italia. Bersama saudara perempuannya, Valeria Bruni-Tedeschi, Bruni menyampaikan langsung keputusan itu kepada Petrella yang dirawat di rumah sakit. Tentu saja, sepak terjang Bruni ini membuat marah banyak warga Italia.
Dalam manuver lain, Sarkozy agaknya memanfaatkan Bruni untuk menyelamatkan diri. Itu terjadi ketika ia memerintahkan sang istri menemui pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama. Dengan begitu, Sarkozy terhindar dari kewajiban bertemu Dalai Lama yang bisa membuat berang China.
Maka, pantas jika banyak pihak menyebut Bruni sebagai "presiden di balik layar Perancis". (ap/afp/tel/sas)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang