Kondisi DAS dan Drainase Penyebab Banjir

Kompas.com - 03/02/2009, 14:38 WIB

 

 

SOLO,SELASA-Banjir yang terjadi di Kota Solo 23 Januari lalu disebabkan, antara lain curah hujan yang cukup tinggi yang berlangsung lama.

Untuk wilayah Solo bagian selatan, banjir juga disebabkan oleh perubahan tata guna lahan di daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo, dan kapasitas sungai berkurang akibat sedimentasi. Sedangkan untuk Solo bagian utara, banjir juga disebabkan sistem drainase yang menurun fungsinya.

Ini dikatakan dosen Jurusan Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Yusuf Muttaqin dan Agus Hari Wahyudi, Selasa (3/2).

Penelitian tentang perubahan luasan tata guna DAS Bengawan Solo mulai dari hulu hingga ke pintu air Jurug di Solo tahun 1965-2000 mendapati kecenderungan perubahan kawasan hutan dan kebun menjadi pemukiman terbangun. "Setelah tahun 1998, kawasan hutan juga banyak berkurang akibat penjarahan," kata Agus.

Kondisi ini menyebabkan air hujan yang seharusnya bisa menyerap langsung mengalir ke sungai membawa tanah yang menyebabkan tingginya sedimentasi di sungai. Kapasitas sungai pun berkurang sehingga saat curah hujan tinggi, sungai mudah meluap.

Sedimentasi juga menyebabkan sistem drainase menurun. Sedimentasi ini, menurut Yusuf, disebabkan oleh sampah, rusaknya lereng drainase, dan penyumbatan. "Di beberapa tempat, di atas drainase justru dibuat bangunan sehingga menyumbat," katanya.

Keduanya menyarankan agar masyarakat membuat sumur resapan. Ini harus didorong dengan adanya peraturan daerah (perda). "Selain itu sudah saatnya muncul wacana revitalisasi DAS karena di jangka panjang, perbaikan kondisi DAS yang bisa menyelesaikan masalah banjir. Revitalisasi ini harus melibatkan multisektor agar bisa berjalan baik," kata Agus.

Pejabat Humas Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo Sukoco mengatakan, saat banjir terjadi, tinggi muka air di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri 133,62 meter atau di bawah batas maksimal 136 meter yang masuk kategori siaga III. Saat itu, waduk hanya mengeluarkan air 42 meter kubik per detik untuk memutar turbin listrik. "Jika banjir air yang dikeluarkan maksimal 400 meter kubik per detik," katanya.

Banjir terjadi karena durasi hujan yang lama dengan curah hujan cukup tinggi, 100-120 mm di Klaten utara dan Boyolali timur atau lereng Gunung Merapi. "Curah hujan sebenarnya tidak setinggi saat banjir tahun lalu, akan tetapi hujannya lama sehingga sungai meluap," kata Sukoco.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau