SOLO,SELASA-Banjir yang terjadi di Kota Solo 23 Januari lalu disebabkan, antara lain curah hujan yang cukup tinggi yang berlangsung lama.
Untuk wilayah Solo bagian selatan, banjir juga disebabkan oleh perubahan tata guna lahan di daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo, dan kapasitas sungai berkurang akibat sedimentasi. Sedangkan untuk Solo bagian utara, banjir juga disebabkan sistem drainase yang menurun fungsinya.
Ini dikatakan dosen Jurusan Teknik Sipil Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo Yusuf Muttaqin dan Agus Hari Wahyudi, Selasa (3/2).
Penelitian tentang perubahan luasan tata guna DAS Bengawan Solo mulai dari hulu hingga ke pintu air Jurug di Solo tahun 1965-2000 mendapati kecenderungan perubahan kawasan hutan dan kebun menjadi pemukiman terbangun. "Setelah tahun 1998, kawasan hutan juga banyak berkurang akibat penjarahan," kata Agus.
Kondisi ini menyebabkan air hujan yang seharusnya bisa menyerap langsung mengalir ke sungai membawa tanah yang menyebabkan tingginya sedimentasi di sungai. Kapasitas sungai pun berkurang sehingga saat curah hujan tinggi, sungai mudah meluap.
Sedimentasi juga menyebabkan sistem drainase menurun. Sedimentasi ini, menurut Yusuf, disebabkan oleh sampah, rusaknya lereng drainase, dan penyumbatan. "Di beberapa tempat, di atas drainase justru dibuat bangunan sehingga menyumbat," katanya.
Keduanya menyarankan agar masyarakat membuat sumur resapan. Ini harus didorong dengan adanya peraturan daerah (perda). "Selain itu sudah saatnya muncul wacana revitalisasi DAS karena di jangka panjang, perbaikan kondisi DAS yang bisa menyelesaikan masalah banjir. Revitalisasi ini harus melibatkan multisektor agar bisa berjalan baik," kata Agus.
Pejabat Humas Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo Sukoco mengatakan, saat banjir terjadi, tinggi muka air di Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri 133,62 meter atau di bawah batas maksimal 136 meter yang masuk kategori siaga III. Saat itu, waduk hanya mengeluarkan air 42 meter kubik per detik untuk memutar turbin listrik. "Jika banjir air yang dikeluarkan maksimal 400 meter kubik per detik," katanya.
Banjir terjadi karena durasi hujan yang lama dengan curah hujan cukup tinggi, 100-120 mm di Klaten utara dan Boyolali timur atau lereng Gunung Merapi. "Curah hujan sebenarnya tidak setinggi saat banjir tahun lalu, akan tetapi hujannya lama sehingga sungai meluap," kata Sukoco.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang