Taliban Culik Polisi dan Tentara Pakistan

Kompas.com - 04/02/2009, 15:57 WIB

MINGORA, PAKISTAN, RABU — Kelompok Taliban menculik 29 tentara paramiliter dan polisi, Rabu (4/2), kata polisi. Sementara gerilyawan itu meningkatkan serangan mereka terhadap pasukan pemerintah.
    
Situasi keamanan memburuk secara tajam di daerah-daerah barat laut di sepanjang perbatasan Afganistan serta Lembah Swat. Pasukan pemerintah berperang untuk membendung meluasnya pengaruh Taliban.
     
Dalam aksi kekerasan terbaru, para gerilyawan dan milisi menyerang satu kantor polisi di Desa Shamzoi, Lembah Swat, dan mendudukinya setelah mengepung selama 24 jam, kata pejabat senior intelijen polisi, Mohabat Khan.
      
"Mereka agaknya kehabisan amunisi setelah pengepungan selama sehari penuh," kata Khan tentang tentara Korps Perbatasan (FC) paramiliter dan polisi yang menjaga kantor itu.
      
"Para gerilyawan menculik 29 orang termasuk 23 personel FC dan enam polisi," katanya dan menambahkan para gerilyawan itu meledakkan kantor polisi itu sebelum mereka mundur.
      
Lembah Swat, hanya 130 kilometer barat laut ibu kota Islamabad. Selama bertahun-tahun merupakan daerah tujuan wisata utama.
     
Para gerilyawan menyusup lembah itu dari pangkalan-pangkalan Al Qaeda dan Taliban di perbatasan Afganistan dan mulai menyerang pasukan tahun 2007 ketika berusaha memberlakukan hukum Islam.

Penduduk mengatakan, para gerilyawan sesungguhnya menguasai seluruh lembah itu. Kenyataan itu menjadi ujian bagi pemerintah untuk mengekang perluasan kekuasaan Taliban.

Para pejabat militer mengatakan, pasukan keamanan mulai dikirim ke Shamzoi, Selasa, dalam usaha dan membantu mereka yang terkepung di kantor polisi, tetapi pasukan bantuan itu mendapat serangan dan empat tentara tewas.
      
Seorang juru bicara Taliban Pakistan, Muslim Khan, mengatakan, prajuritnya menculik 30 polisi dan tentara dalam serangan itu, dan para pemimpin Taliban akan memutuskan nasib mereka.

Pertempuran di lembah itu meningkat sejak panglima militer Jenderal Ashfaq Kayani mengunjungi daerah itu pekan lalu, yang berikrar akan menguasai kembali daerah itu.
      
Militer mengatakan, belasan gerilyawan tewas dalam hari-hari belakangan ini, dan penduduk mengatakan sekitar 40  warga sipil juga tewas, banyak di antara mereka akibat serangan udara dan darat oleh pasukan pemerintah yang ditujukan terhadap mereka.
      
Terperangkap pertempuran antara pasukan pemerintah dan para gerilyawan, puluhan ribu orang melarikan diri dari lembah itu.
       
Di tempat-tempat lain di barat laut, para gerilyawan menyerang truk-truk di sisi jalan dari kota Pesawar melalui Khyber Pass ke perbatasan Afganistan, membakar delapan peti kemas, kata para pejabat pemerintah distrik.
      
Jalan itu adalah rute utama bagi pasokan untuk pasukan Barat di Afganistan. Semua lalu lintas di sepanjang jalan itu terhenti, pada Selasa kemarin, setelah para gerilyawan meledakkan sebuah jembatan.

Peti-peti kemas yang hancur dekat kota Landi Kotala telah dibongkar di perbatasan Afganistan dan kosong, kata para pejabat.
     
Pasukan paramiliter akan berusaha untuk memulihkan lalu lintas melalui Khyber Pass dengan membersihkan satu rute di seberang sungai yang kering untuk menghindari jembatan yang hancur itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau