PPN Perak Membebani Perajin

Kompas.com - 04/02/2009, 19:35 WIB

YOGYAKARTA, RABU — Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DIY telah mengajukan permohonan penghapusan pajak pertambahan nilai (PPN) perak kepada pemerintah. Penerapan PPN sebesar 10 persen untuk setiap pembelian bahan baku perak yang diproduksi PT Aneka Tambang dinilai sangat membebani perajin.

Wakil Ketua Dekranasda DIY Syahbenol Hasibuan mengatakan, penerapan PPN itu membuat daya saing produk perak dari Indonesia semakin rendah dibanding negara lain. "Kami sudah mengajukan penghapusan PPN itu kepada Menteri Keuangan sebanyak dua kali. Namun, sampai sekarang belum ada tanggapan," katanya, Rabu (4/2).

Menurut dia, selama ini pengembangan perak di DIY terkendala oleh kurangnya sumber daya manusia dan keterbatasan desain. Penerapan PPN itu semakin menambah masalah dalam upaya mengembangkan kerajinan perak di DIY. "Ekspor perak tidak dikenai PPN, tapi menjual perak dalam negeri malah dikenai PPN. Ini sangat aneh," tambahnya.

Sebelumnya, pemilik Borobudur Silver Selly Sagita juga menyebut penerapan PPN itu kontraproduktif dengan upaya memajukan pelaku usaha kecil di bidang perak. Kemajuan para perajin perak sangat tergantung pada penerimaan pasar terhadap produk mereka. Dengan daya saing produk yang lemah, otomatis minat pasar menurun sehingga penghasilan para perajin ikut menurun.

Penerapan PPN juga semakin terasa berat di tengah terus naiknya harga bahan baku perak. Menurut pemilik Toms Silver Nevi Ervina, dalam tiga bulan terakhir, harga bahan baku perak dari PT Aneka Tambang telah naik dari Rp 4,2 juta per kilogram menjadi Rp 4,7 juta per kilogram. Harga itu belum termasuk PPN sebesar 10 persen.

Selain terkena PPN saat membeli bahan baku, pengusaha perak masih terkena pajak penjualan sebesar 10 persen. Penerapan pajak ganda itu membuat harga perak semakin mahal. "Di Thailand, kalung perak besar-besar dijual dengan harga Rp 750.000, di sini mungkin jutaan. Kalau salah satu pajak itu bisa dihapus, saya yakin perak Indonesia bisa bersaing sehingga angka ekspor bisa meningkat," tutur Nevi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau