Warga Rohingya Tolak Pulang

Kompas.com - 05/02/2009, 04:07 WIB

ACEH TIMUR, RABU - Para pengungsi Myanmar dari suku minoritas Rohingya menolak rencana pemulangan mereka ke daerah asal oleh Pemerintah Indonesia. Tidak terjaminnya keselamatan mereka di wilayah asalnya menjadi alasan utama penolakan tersebut.

Beberapa pengungsi yang berasal dari Myanmar ketika ditemui Kompas di dua lokasi penampungan sementara, yaitu di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Idi Rayeuk dan Kantor Camat Idi Rayeuk, Rabu (4/2), mengatakan, mereka sama sekali tidak berkeinginan untuk kembali ke negara asalnya. Mereka mengaku ingin mencari tempat yang lebih baik untuk mencari penghidupan.

Nurullah (20), salah satu pengungsi Myanmar, saat ditemui di ruang perawatan RSUD Idi Rayeuk menyatakan, dirinya tidak mau kembali ke kampung halamannya karena—selain faktor tidak tersedianya lapangan pekerjaan bagi suku minoritas oleh pemerintahan negara tersebut— faktor keselamatan diri menjadi pertimbangan utama.

Nurullah, yang mengaku sempat bekerja di Thailand, mengatakan, ketiadaan lapangan kerja di negara asalnya yang membuat dirinya terpaksa bekerja secara ilegal di Thailand. Meski sempat dikejar-kejar pihak otoritas Thailand, dia baru sekali ini ditangkap dan diusir secara bersama-sama dengan sekitar 1.200 orang dari suku yang sama oleh pemerintah negara tersebut.

Nurullah mengaku mengalami pemukulan di beberapa bagian tubuhnya saat menjalani masa tahanan dan pengusiran oleh aparat keamanan Thailand.

Hal senada dikatakan Rahmat, salah satu pengungsi Rohingya. Rahmat yang mengaku pernah tinggal di Malaysia selama beberapa tahun menyatakan, mereka akan mengalami kekerasan verbal dan fisik oleh pemerintah yang berkuasa apabila kembali ke kampung halamannya.

Dia menuturkan, sebagian besar pengungsi yang datang ke Indonesia adalah laki-laki. Menggunakan sembilan perahu, sekitar 1.200 orang asal suku Rohingya ini dilepaskan oleh aparat keamanan Thailand di lautan lepas.

Direktur RSUD Idi Rayeuk Edi Gunawan saat ditemui di kantornya menjelaskan, sampai saat ini terdapat 115 pengungsi yang telah mendapatkan perawatan darurat di rumah sakit tersebut. Sebanyak 45 orang sudah dibawa kembali ke tempat penampungan sementara di Kantor Camat Idi Rayeuk. Sampai saat ini masih sekitar 70 pengungsi yang mendapatkan perawatan di rumah sakit tersebut.

Komandan Pos Satuan Radar TNI Angkatan Laut Idi Rayeuk Letnan Dua Tedi Sutardi mengatakan, sampai saat ini belum ada perintah dari pimpinannya untuk memindahkan seluruh pengungsi Myanmar ke instalasi militer seperti yang terjadi di Sabang. ”Semua sudah ditangani oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Timur,” katanya.

Persoalan logistik

Di Jakarta, Juru Bicara Departemen Luar Negeri Teuku Faizasyah mengatakan, orang-orang Rohingya itu tetap harus dipulangkan ke tempat asal mereka. ”Ada beberapa orang yang mengatakan sukarela untuk dipulangkan. Yang lain masih ragu-ragu. Bagi yang bersikeras, memang akan sulit menghadapinya, tetapi Indonesia tidak membuka diri untuk migran bermotif ekonomi,” paparnya.

Selain masih menunggu kepastian soal asal negara dan status orang-orang Rohingya itu, masih ada persoalan logistik menyangkut penampungan dan pemulangan mereka.

”Kami tidak ingin persoalan ini berlarut-larut karena akan membebani pemerintah daerah dan pusat. Setelah mendapat jaminan perlakuan baik dari negara asal, kami siap memulangkan mereka,” ujar Faiza. (mhd/fro)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau