WASHINGTON, SELASA - Presiden Barack Obama memperingatkan bahwa klausul stimulus ekonomi soal ”Beli Produk Amerika” dapat memicu perang dagang. Jika ini terjadi, hal itu justru bisa semakin menurunkan pertumbuhan perdagangan dunia.
”Saya rasa hal itu salah jika dilakukan sekarang. Ada potensi perang dagang yang tidak dapat kita tanggulangi ketika itu terjadi di tengah penurunan perdagangan global,” kata Obama, Selasa (3/2) di Washington.
”Beli Produk Amerika” merupakan salah satu klausul dalam paket stimulus yang masih diperdebatkan di Senat AS. Dengan klausul itu, Senat AS melarang penggunaan dana stimulus untuk membeli baja, besi, atau bahan manufaktur buatan luar negeri untuk proyek infrastruktur.
Wacana tersebut menuai protes dari mitra dagang AS, seperti Kanada, Jerman, Jepang, dan China. Uni Eropa dan Kanada mengirim surat kepada Kongres dan mendesak klausul itu tidak digunakan.
Kanselir Jerman Angela Merkel memprotes klausul tersebut. ”Kita harus menghindari proteksionisme karena hal itu adalah jawaban yang salah,” ujar Merkel, yang mengatakan telah berdiskusi melalui telepon dengan Obama pekan lalu soal itu.
Perdana Menteri Kanada Stephen Harper menyatakan itu adalah masalah yang sangat serius.
”Saya sepakat, kita tidak boleh mengirimkan pesan soal proteksionisme. Saya ingin tahu bahasa macam apa yang dapat mengatasi isu ini,” kata Obama ketika wawancara dengan Fox News. ”Saya rasa akan salah jika, pada saat perdagangan global sedang menurun, kita mengirimkan pesan yang hanya mementingkan diri sendiri dan tidak memerhatikan perdagangan dunia,” lanjutnya.
Menurut Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), pertumbuhan perdagangan tahun 2008 hanya mencapai 4 persen, turun dari 5,5 persen tahun 2007.
Ketua Komisi Perdagangan Uni Eropa Catherine Ashton menyatakan, mendukung Obama bahwa klausul ”Beli Produk Amerika” dapat memicu perang dagang. ”Saya sangat lega dengan pernyataan Presiden Obama,” ujar Ashton.
”Dia menyadari, seperti yang kami lakukan di Eropa, kita perlu berdagang untuk bisa keluar dari kesulitan ekonomi. Perdagangan adalah salah satu solusi, sama seperti stimulus. Kami sangat senang dengan apa yang diucapkan oleh Presiden Obama mengenai klausul itu,” lanjutnya lagi.
Presiden Obama sendiri meminta Kongres AS melakukan modifikasi atas klausul, yang masih diperdebatkan itu.
Dalam stimulus dengan total dana 888 miliar dollar AS itu, ada klausul yang dinamai ”Seksi 1604”. Isinya menyebutkan, tak tepat jika dana-dana untuk biaya proyek infrastruktur dioakai membeli barang-barang buatan asing.
Kongres AS menginginkan agar dana-dana tersebut dipakai untuk membeli produk buatan AS sendiri.
Perluas stimulus
Masih dalam rangka stimulus, AS memperpanjang program darurat dengan menyalurkan miliaran dollar AS ke pasar global. Tujuannya adalah mencoba memancing atau bahkan memicu peredaran uang tetap lancar selama krisis berlangsung.
Bank Sentral AS mengatakan, kredit ”currency swap” atau pertukaran cadangan devisa, dengan sejumlah bank sentral dunia, diperpanjang menjadi 30 Oktober 2009.
Pertukaran cadangan devisa, atau cadangan uang tunai, di antara 13 bank sentral dunia sudah dilakukan pada akhir 2008. Dana-dana itu digunakan sejumlah bank sentral untuk dipompakan ke pasar.
Program itu relatif berhasil mengurangi gejolak besar di pasar uang. Program itu didorong dengan adanya fasilitas pinjaman murah dan berjangka pendek di antara sejumlah bank sentral.
Pinjaman dana darurat di antara bank sentral ini antara lain melibatkan Australia, Brasil, Kanada, Denmark, Inggris, Korea Selatan, Meksiko, Selandia Baru, Norwegia, Singapura, Swedia, Swiss, dan Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB).
Bank Sentral Korea Selatan mengakui, dalam pernyataannya, bahwa ”currency swap” itu relatif berhasil menolong dalam rangka meredakan gejolak di pasar. Korea Selatan juga mengalami pelarian modal asing dan ditolong lewat pinjaman itu. (AP/AFP/joe)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang