Barack Obama Ingatkan Bahaya "Beli Produk AS"

Kompas.com - 05/02/2009, 04:37 WIB
 
 

WASHINGTON, SELASA - Presiden Barack Obama memperingatkan bahwa klausul stimulus ekonomi soal ”Beli Produk Amerika” dapat memicu perang dagang. Jika ini terjadi, hal itu justru bisa semakin menurunkan pertumbuhan perdagangan dunia.

”Saya rasa hal itu salah jika dilakukan sekarang. Ada potensi perang dagang yang tidak dapat kita tanggulangi ketika itu terjadi di tengah penurunan perdagangan global,” kata Obama, Selasa (3/2) di Washington.

”Beli Produk Amerika” merupakan salah satu klausul dalam paket stimulus yang masih diperdebatkan di Senat AS. Dengan klausul itu, Senat AS melarang penggunaan dana stimulus untuk membeli baja, besi, atau bahan manufaktur buatan luar negeri untuk proyek infrastruktur.

Wacana tersebut menuai protes dari mitra dagang AS, seperti Kanada, Jerman, Jepang, dan China. Uni Eropa dan Kanada mengirim surat kepada Kongres dan mendesak klausul itu tidak digunakan.

Kanselir Jerman Angela Merkel memprotes klausul tersebut. ”Kita harus menghindari proteksionisme karena hal itu adalah jawaban yang salah,” ujar Merkel, yang mengatakan telah berdiskusi melalui telepon dengan Obama pekan lalu soal itu.

Perdana Menteri Kanada Stephen Harper menyatakan itu adalah masalah yang sangat serius.

”Saya sepakat, kita tidak boleh mengirimkan pesan soal proteksionisme. Saya ingin tahu bahasa macam apa yang dapat mengatasi isu ini,” kata Obama ketika wawancara dengan Fox News. ”Saya rasa akan salah jika, pada saat perdagangan global sedang menurun, kita mengirimkan pesan yang hanya mementingkan diri sendiri dan tidak memerhatikan perdagangan dunia,” lanjutnya.

Menurut Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), pertumbuhan perdagangan tahun 2008 hanya mencapai 4 persen, turun dari 5,5 persen tahun 2007.

Ketua Komisi Perdagangan Uni Eropa Catherine Ashton menyatakan, mendukung Obama bahwa klausul ”Beli Produk Amerika” dapat memicu perang dagang. ”Saya sangat lega dengan pernyataan Presiden Obama,” ujar Ashton.

”Dia menyadari, seperti yang kami lakukan di Eropa, kita perlu berdagang untuk bisa keluar dari kesulitan ekonomi. Perdagangan adalah salah satu solusi, sama seperti stimulus. Kami sangat senang dengan apa yang diucapkan oleh Presiden Obama mengenai klausul itu,” lanjutnya lagi.

Presiden Obama sendiri meminta Kongres AS melakukan modifikasi atas klausul, yang masih diperdebatkan itu.

Dalam stimulus dengan total dana 888 miliar dollar AS itu, ada klausul yang dinamai ”Seksi 1604”. Isinya menyebutkan, tak tepat jika dana-dana untuk biaya proyek infrastruktur dioakai membeli barang-barang buatan asing.

Kongres AS menginginkan agar dana-dana tersebut dipakai untuk membeli produk buatan AS sendiri.

Perluas stimulus

Masih dalam rangka stimulus, AS memperpanjang program darurat dengan menyalurkan miliaran dollar AS ke pasar global. Tujuannya adalah mencoba memancing atau bahkan memicu peredaran uang tetap lancar selama krisis berlangsung.

Bank Sentral AS mengatakan, kredit ”currency swap” atau pertukaran cadangan devisa, dengan sejumlah bank sentral dunia, diperpanjang menjadi 30 Oktober 2009.

Pertukaran cadangan devisa, atau cadangan uang tunai, di antara 13 bank sentral dunia sudah dilakukan pada akhir 2008. Dana-dana itu digunakan sejumlah bank sentral untuk dipompakan ke pasar.

Program itu relatif berhasil mengurangi gejolak besar di pasar uang. Program itu didorong dengan adanya fasilitas pinjaman murah dan berjangka pendek di antara sejumlah bank sentral.

Pinjaman dana darurat di antara bank sentral ini antara lain melibatkan Australia, Brasil, Kanada, Denmark, Inggris, Korea Selatan, Meksiko, Selandia Baru, Norwegia, Singapura, Swedia, Swiss, dan Bank Sentral Eropa (European Central Bank/ECB).

Bank Sentral Korea Selatan mengakui, dalam pernyataannya, bahwa ”currency swap” itu relatif berhasil menolong dalam rangka meredakan gejolak di pasar. Korea Selatan juga mengalami pelarian modal asing dan ditolong lewat pinjaman itu. (AP/AFP/joe)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau