JAKARTA, SABTU — Untuk menjaga keseimbangan ekosistem Jakarta, Universitas Indonesia di kampus UI Depok terus melakukan penghijauan di Hutan Kota UI. Penghijauan dilakukan dengan penanaman meranti jenis Shorea leprosula seluas 5 hektar dengan jumlah tanaman yang ditanam sebanyak 5.000 bibit. Ini merupakan hasil kerja sama dengan Departemen Kehutanan RI melalui Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung dengan Universitas Indonesia selama 3 tahun.
Kerja sama ini berkenaan dengan rencana enrichment yang akan dilakukan pihak Hutan Kota UI untuk mengganti jenis tanaman akasia dengan berbagai spesies yang ada di Indonesia. "Ini merupakan bagian dari rencana strategis UI untuk menjadikan Hutan Kota UI sebagai Miniatur Hutan Tropis Indonesia," kata Deputy Director Corporate Communications UI, Devie Rahmawati, Sabtu (7/2) di Depok.
Dia mengatakan, Jumat (6/2) Menteri Kehutanan Republik Indonesia MS Kaban melakukan penanaman di Hutan Kota UI bersama civitas akademika UI dipimpin langsung oleh Rektor UI. Kunjungan ini dimaksudkan untuk terus memberikan dukungan yang luas kepada UI yang secara konsisten membantu menjaga keseimbangan ekosistem Jakarta, dengan terus memelihara hutan kota UI. Menteri meninjau dua konsentrasi penanaman hutan UI, yaitu kawasan demplot meranti dan arborectum.
Penanaman meranti dilakukan tersebar pada 20 petak dengan ukuran rata-rata 2.500 meter persegi, baik berbentuk lingkaran, maupun jalur. Areal yang ditanam berupa alang-alang, bekas ladang, ataupun tegakan akasia. Tujuan utama aktivitas ini adalah melakukan regenerasi tanaman akasia, sekaligus menjadikan hutan kota UI sebagai plot, baik untuk penelitian civitas akademika Universitas Indonesia, lembaga penelitian, maupun perorangan yang peduli terhadap jenis tanaman meranti yang semakin terdegradasi di hutan tropis Indonesia.
Lokasi kedua yaitu kawasan arborectum. Ini merupakan kawasan yang akan menjadi museum tanaman UI. Penanaman kawasan dilakukan di satu hamparan seluas 5 ha dengan jumlah bibit 4.500 buah dan terdiri dari berbagai jenis tanaman (74 jenis, terdiri 29 jenis keluarga Dipterocarpaceae dan 45 jenis Non-Dipterocarpaceae).
Tujuan utama pembuatan arborectum ialah mengoleksi jenis-jenis tanaman hutan utamanya Dipterocarpaceae. Selain itu, Universitas Indonesia berharap mampu memiliki cadangan plasma nutfah sebagai areal konservasi eks situ. Harapan ke depan, sumber plasma nutfah tersebut dapat dijadikan pohon induk ataupun keperluan penelitian dan pengembangan, utamanya sebagai sumber kekayaan genetik Indonesia.
"Sampai saat ini sedang dikembangkan kerja sama dengan berbagai pihak terkait pemeliharaan areal arborectum. Harapannya, semakin cepat dan banyak jenis-jenis yang terkumpul di areal hutan kota, mengingat kecepatan degradasi plasma nutfah di Indonesia semakin meningkat," jelasnya.
Menurut Devie, musnahnya satu spesies akan berakibat terputusnya mata rantai makanan yang menyebabkan terganggunya komponen spesies yang ada dalam lingkaran mata rantai tersebut. Norman Myers, pakar ekologi Oxford University dalam The Sinking Ark tahun 1980, memperkirakan, setiap dua hari satu spesies akan punah. World Conservation Union tahun 1992 mengatakan bahwa jumlah kepunahan spesies mencapai 2.300 spesies per tahun.
Kemajuan teknologi sekarang memasuki abad di saat dunia konservasi akan memasuki era genetika. Saat ini, kita tidak tahu berapa jumlah keragaman genetik yang kita miliki telah beralih ke tangan bangsa lain; dan berapa yang telah diproduksi oleh negara tersebut sebagai bahan komersial, baik seperti obat-obatan, maupun makanan konsumsi lainnya.
Universitas Indonesia sebagai lembaga yang memiliki SDM memadai dan tonggak World Class University diharapkan mampu berperan. Peran Hutan Kota Universitas Indonesia diharapkan mampu menjadi transformer pembentukan agen-agen lingkungan, yang berperan untuk mengatasi berbagai kerusakan ekosistem. (NAL)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang