Hutan Kota UI sebagai Museum Tanaman Indonesia

Kompas.com - 07/02/2009, 18:58 WIB

JAKARTA, SABTU — Untuk menjaga keseimbangan ekosistem Jakarta, Universitas Indonesia di kampus UI Depok terus melakukan penghijauan di Hutan Kota UI. Penghijauan dilakukan dengan penanaman meranti jenis Shorea leprosula seluas 5 hektar dengan jumlah tanaman yang ditanam sebanyak 5.000 bibit. Ini merupakan hasil kerja sama dengan Departemen Kehutanan RI melalui Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citarum-Ciliwung dengan Universitas Indonesia selama 3 tahun.  

Kerja sama ini berkenaan dengan rencana enrichment yang akan dilakukan pihak Hutan Kota UI untuk mengganti jenis tanaman akasia dengan berbagai spesies yang ada di Indonesia. "Ini merupakan bagian dari rencana strategis UI untuk menjadikan Hutan Kota UI sebagai Miniatur Hutan Tropis Indonesia," kata Deputy Director Corporate Communications UI, Devie Rahmawati, Sabtu (7/2) di Depok.

Dia mengatakan, Jumat (6/2) Menteri Kehutanan Republik Indonesia MS Kaban melakukan penanaman di Hutan Kota UI bersama civitas akademika UI dipimpin langsung oleh Rektor UI. Kunjungan ini dimaksudkan untuk terus memberikan dukungan yang luas kepada UI yang secara konsisten membantu menjaga keseimbangan ekosistem Jakarta, dengan terus memelihara hutan kota UI. Menteri meninjau dua konsentrasi penanaman hutan UI, yaitu kawasan demplot meranti dan arborectum.

Penanaman meranti dilakukan tersebar pada 20 petak dengan ukuran rata-rata 2.500 meter persegi, baik berbentuk lingkaran, maupun jalur. Areal yang ditanam berupa alang-alang, bekas ladang, ataupun tegakan akasia. Tujuan utama aktivitas ini adalah melakukan regenerasi tanaman akasia, sekaligus menjadikan hutan kota UI sebagai plot, baik untuk penelitian civitas akademika Universitas Indonesia, lembaga penelitian, maupun perorangan yang peduli terhadap jenis tanaman meranti yang semakin terdegradasi di hutan tropis Indonesia.

Lokasi kedua yaitu kawasan arborectum. Ini merupakan kawasan yang akan menjadi museum tanaman UI. Penanaman kawasan dilakukan di satu hamparan seluas 5 ha dengan jumlah bibit 4.500 buah dan terdiri dari berbagai jenis tanaman (74 jenis, terdiri 29 jenis keluarga Dipterocarpaceae dan 45 jenis Non-Dipterocarpaceae).

Tujuan utama pembuatan arborectum ialah mengoleksi jenis-jenis tanaman hutan utamanya Dipterocarpaceae. Selain itu, Universitas Indonesia berharap mampu memiliki cadangan plasma nutfah sebagai areal konservasi eks situ. Harapan ke depan, sumber plasma nutfah tersebut dapat dijadikan pohon induk ataupun keperluan penelitian dan pengembangan, utamanya sebagai sumber kekayaan genetik Indonesia.  

"Sampai saat ini sedang dikembangkan kerja sama dengan berbagai pihak terkait pemeliharaan areal arborectum. Harapannya, semakin cepat dan banyak jenis-jenis yang terkumpul di areal hutan kota, mengingat kecepatan degradasi plasma nutfah di Indonesia semakin meningkat," jelasnya.

Menurut Devie, musnahnya satu spesies akan berakibat terputusnya mata rantai makanan yang menyebabkan terganggunya komponen spesies yang ada dalam lingkaran mata rantai tersebut. Norman Myers, pakar ekologi Oxford University dalam The Sinking Ark tahun 1980, memperkirakan, setiap dua hari satu spesies akan punah. World Conservation Union tahun 1992 mengatakan bahwa jumlah kepunahan spesies mencapai 2.300 spesies per tahun.

Kemajuan teknologi sekarang memasuki abad di saat dunia konservasi akan memasuki era genetika. Saat ini, kita tidak tahu berapa jumlah keragaman genetik yang kita miliki telah beralih ke tangan bangsa lain; dan berapa yang telah diproduksi oleh negara tersebut sebagai bahan komersial, baik seperti obat-obatan, maupun makanan konsumsi lainnya.

Universitas Indonesia sebagai lembaga yang memiliki SDM memadai dan tonggak World Class University diharapkan mampu berperan. Peran Hutan Kota Universitas Indonesia diharapkan mampu menjadi transformer pembentukan agen-agen lingkungan, yang berperan untuk mengatasi berbagai kerusakan ekosistem. (NAL)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau