Capek Antre, Dua Pasien Bocah Dukun Tewas

Kompas.com - 09/02/2009, 21:20 WIB

JOMBANG, SENIN - Dua calon pasien pasien tabib cilik M. Ponari di Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, masing-masing bernama Muhtasor (56) dan Maruwi (57), Senin (9/2) tewas.

Korban bernama Muhtasor (56) asal Desa Karangsono, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, itu tewas sekitar pukul 13.00 setelah fisiknya tak kuat lagi usai mengantre dan berdesakan dengan puluhan ribu pasien lain selama dua hari terakhir. Sementara Maruwi (57) yang asal Dusun Ngrombot , Desa Kalangsemanding Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang tewas sekitar pukul 17.00 disebutkan polisi adalah seorang penjual kacang yang tewas sekitar dua kilometer dari lokasi praktik M. Ponari dan tidak sedang berada dalam antrean.

Sejumlah calon pasien asal Kediri yang turut membantu memindahkan Muhtasor dari barisan antrean memastikan korban sebelumnya jatuh pingsan di tengah antrean ribuan calon pasien. Setelah itu almarhum Muhtasor sempat dibawa ke kebun pisang tak jauh dari lokasi antrean dan berusaha disadarkan dengan segala cara.

Namun, keterangan resmi Wakil Kepala Kepolisian Resor Jombang Komisaris Deden Supriyatna Imhar menyebutkan Muhtasor tewas saat dalam posisi istirahat di rumah tetangga Ponari. "Lokasi pengobatan sudah kita tutup sejak pukul 12.30, korban tewas pada pukul 13.15 ketika tidak sedang mengantre," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau