Stimulus AS Jadi Alat Politik

Kompas.com - 10/02/2009, 05:26 WIB

WASHINGTON, MINGGU - Para politisi Demokrat dan Republik seharusnya meninggalkan perbedaan pandangan politik mereka dan segera menyetujui paket stimulus. Diharapkan, pekan ini paket tersebut sudah selesai dibahas.

”Jika ada saat di mana ada hal lain yang lebih penting dari politik, inilah saatnya,” ujar Lawrence Summers, Kepala Dewan Ekonomi Gedung Putih, kepada televisi Fox News Sunday, Minggu (8/2) di Washington.

Saat ini dunia tengah menantikan bagaimana Presiden AS Barack Obama dan Kongres menanggapi resesi terburuk AS dalam 70 tahun terakhir. Tampaknya lebih banyak kepentingan politik yang bermain dalam pengambilan keputusan soal ekonomi.

Perseteruan di antara para politisi akan mencapai puncak pada hari Senin waktu setempat atau Selasa dini hari ketika kubu Demokrat yang memimpin Senat dan beberapa orang Republik akan melakukan pemungutan suara. Diharapkan, mereka akan segera mengakhiri perdebatan mengenai paket stimulus yang jumlahnya mencapai 827 miliar dollar AS. Hasil pemungutan suara itu diharapkan akan memuluskan langkah selanjutnya.

Presiden Obama berupaya maksimal untuk mendapatkan dukungan publik dan legislatif agar paket stimulus itu dapat segera diimplementasikan. Presiden Obama mengunjungi Elkhart, Indiana, Senin, dan Ft Myers, Florida, Selasa. Di dua lokasi itu, dia berpartisipasi dalam pertemuan soal ekonomi. Di antara dua perjalanan itu, Obama akan menyelenggarakan jumpa pers di Gedung Putih.

”Perjalanan ini merupakan kesempatan bagi Presiden untuk langsung berbicara dengan rakyat AS mengenai pendapatnya soal ekonomi,” ujar juru bicara Gedung Putih, Robert Gibbs. Dia juga menambahkan, tampaknya Obama akan ditemani beberapa anggota legislatif.

Alot

”Negosiasi akan sulit, tetapi menarik untuk diamati,” ujar seorang anggota kubu Republik. Senator Charles Schumer dari New York, seorang anggota Demokrat, mengatakan kepada CNN bahwa DPR, Senat, dan Gedung Putih telah sepakat akan saling ”memberi” dan ”menerima”.

Obama telah meminta rancangan akhir undang-undang tentang stimulus itu harus ada di mejanya Senin pekan depan untuk ditandatangani.

Dalam wawancara dengan CBS, Senator John McCain dari Republik, yang dikalahkan Obama dalam pemilihan presiden, mengatakan, paket stimulus yang ditawarkan Obama hanya menghamburkan uang dan dua kali lebih besar dari yang diperlukan. Dia juga mengatakan hanya ada tiga dari 100 anggota Senat Republik yang mendukung paket tersebut.

McCain mengatakan, dia yakin paket itu hanya sedikit membantu perekonomian, tetapi biayanya membebani generasi mendatang karena menumpuk utang pemerintah pusat.

Christina Romer, salah satu penasihat Obama soal anggaran pemerintah, mengatakan, ”Jika mereka dapat meloloskan paket ini, kita dapat segera mengubah arah perekonomian. Perekonomian kita akan segera kembali bertumbuh. Jika sampai gagal, meminjam istilah Presiden, akan terjadi bencana,” ujar Romer.

Kubu Republik tampaknya tidak mau memudahkan pemerintahan baru untuk mengatasi krisis ekonomi lewat pengucuran stimulus, yang diwariskan pemerintahan Republik di bawah George W Bush.

Beberapa negara juga terus mengucurkan paket stimulus untuk melawan krisis global, seperti Australia, Norwegia, Italia, Taiwan, dan Turki.(Reuters/AP/AFP/joe)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau