Beban Pengusaha Angkutan Makin Berat

Kompas.com - 10/02/2009, 18:59 WIB

TEGAL, SELASA — Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah dalam beberapa hari terakhir, semakin membebani pengusaha angkutan. Selain kehilangan pemasukan akibat tidak beroperasinya kendaraan, mereka juga harus menanggung kenaikan biaya perawatan kendaraan yang terendam banjir.

Ketua Organisasi Angkutan Darat Kota Tegal, Edi Utomo, Selasa (10/2), mengatakan, sejak terjadi banjir di Kendal beberapa hari lalu, hampir semua armada dari Tegal menuju ke Semarang dan Surabaya tidak beroperasi. Kalau pun beroperasi, biasanya bus hanya berhenti hingga Pekalongan.

Begitu pula, sebagian bus dari arah timur (Semarang dan sekitarnya) juga tidak beroperasi, seperti armada Dewi Sri, jurusan Purwodadi-Jakarta. Sejak terjadi banjir hingga saat ini, tujuh armada dari wilayah tersebut tidak dijalankan.

Menurut Edi, tidak beroperasinya kendaraan menyebabkan kerugian bagi pengusaha karena mereka tidak mendapatkan pemasukan. Padahal, para pengusaha angkutan harus tetap menanggung biaya pajak kendaraan dan gaji pegawai yang bekerja di kantor. Selain itu, mereka juga harus menanggung bunga pinjaman bank yang digunakan untuk modal usaha.

"Selain kerugian akibat tidak adanya pemasukan, banjir juga mengakibatkan kerusakan pada mesin kendaraan. Hal tersebut terjadi pada kendaraan yang sudah terlanjur jalan dan terjebak banjir. Kerugian kalau sampai turun mesin, satu bus mencapai puluhan juta rupiah," ujarnya.

Belum lagi saat ini komponen kendaraan sulit diperoleh sehingga jangka waktu perbaikan kendaraan menjadi lama, sekitar dua pekan. Kemacetan di jalan akibat banjir juga mengakibatkan membengkaknya biaya bahan bakar. Rata-rata setiap macet satu jam, kenaikan biaya bahan bakar mencapai 5 persen.

Edi mengatakan, banjir juga mengakibatkan berkurangnya jumlah penumpang hingga mencapai lebih dari 50 persen. Padahal sebelumnya, jumlah penumpang bus juga sudah berkurang akibat melemahnya daya beli masyarakat dan munculnya armada angkutan darat lainnya. "Dalam kondisi normal, rata-rata satu bus hanya terisi 20 hingga 25 orang," katanya.

Kereta terlambat

Banjir tidak hanya menghambat angkutan bus, tetapi juga kereta. Hingga Selasa siang, hampir semua perjalanan kereta yang melewati Stasiun Besar Tegal, termasuk KA Kaligung jurusan Tegal-Semarang mengalami keterlambatan.

Kepala Stasiun Besar Tegal, Wahono, mengatakan, kereta yang terlambat datang di antaranya KA Kaligung jurusan Tegal-Semarang, KA Argo Sindoro jurusan Semarang-Jakarta, KA Fajar Utama jurusan Semarang-Jakarta, KA Matarmaja jurusan Malang-Jakarta, KA Gumarang jurusan Surabaya-Jakarta, dan KA Tawangjaya jurusan Semarang-Jakarta.

Waktu keterlambatan berkisar antara 43 menit hingga 8,5 jam. Menurut Wahono, keterlambatan tersebut sebagai imbas dari kerusakan lintasan di Kaliwungu, Kendal, akibat banjir dan longsor, Minggu lalu. "Meskipun sudah dapat dilalui secara normal, kecepatan kereta di lokasi tersebut dibatasi hanya 5 kilometer per jam. Kereta harus antre juga," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau