Usai Kunjungan Wapres, PKL Tetap Tak Boleh Jualan

Kompas.com - 12/02/2009, 16:45 WIB

PADANG, KAMIS — Puluhan pedagang kaki lima (PKL) yang selama ini berdagang di muka Universitas Bung Hatta, Padang, tidak diperkenankan berjualan kembali kendati kunjungan Wakil Presiden Jusuf Kalla sudah selesai. Sebelumnya, mereka diminta berhenti berdagang sejenak selama kunjungan.

Menyikapi hal ini, LBH Padang, mahasiswa Universitas Bung Hatta, dan Komnas HAM Perwakilan Sumatera Barat, dan Persatuan PKL Bung Hatta, Kamis (12/2), mengeluarkan pernyataan sikap.

Sesuai dengan Perda Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat mendesak Wali Kota Padang mengeluarkan Keputusan Wali Kota untuk menghentikan tindakan penggusuran sebelum keputusan itu keluar. "Selain itu, kami meminta Satpol PP Padang untuk konsisten pada kesepakatan dengan PKL," kata Roni Putra dari LBH Padang.  

Tanggal 16 Januari 2009, Satpol PP memanggil PKL yang berjualan di depan Kampus UBH untuk datang ke Markas Satpol PP guna membicarakan penertiban karena kedatangan Wapres Jusuf Kalla ke UBH.

Pertemuan itu menghasilkan kesepakatan bahwa pedagang membongkar lapak mereka dua hari sebelum kedatangan Wapres, akhir Januari lalu. Dua hari setelah kunjungan Wapres, pedagang boleh berjualan lagi dengan syarat lapak yang dibuat bukanlah lapak permanen.

Pembongkaran lapak dilakukan pedagang tanggal 20 Januari 2009. Satpol PP juga sempat mengedarkan blangko pernyataan kesediaan pedagang membongkar lapak. Namun, setelah dua pekan kunjungan Wapres, pedagang masih belum boleh berjualan.

Pihak kampus pernah berdialog dengan PKL dan berjanji memfasilitasi tempat berdagang di lingkungan kampus. Janji itu sudah tiga kali diutarakan, tetapi belum ada realisasinya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau