Konsep Rumah Susun Perlu Diperkenalkan sejak Dini

Kompas.com - 13/02/2009, 19:36 WIB

BANTUL, JUMAT — Semakin pesatnya pertumbuhan pemukiman di Pulau Jawa membuat luas lahan makin menyempit. Karenanya pola pengembangan perumahan secara horizontal tidak lagi memungkinkan. Salah satu alternatifnya adalah pengembangan secara vertikal berupa rumah susun. Sejak dini, konsep rumah susun seharusnya mulai diperkenalkan.

Hal itu disampaikan Menteri Negara Perumahan Rakyat Yusuf Asyary dalam acara pencanangan kawasan siap bangun Bantul kota mandiri, di Desa Guwosari, Pajangan. Bantul, DI Yogyakarta, Jumat (13/2). "Kalau tidak diperkenalkan sejak dini, masyarakat kita tidak akan siap. Padahal, kultur rumah susun sangat jauh berbeda dengan rumah biasa," katanya.

Dia mengatakan, tinggal di rumah susun harus memiliki semangat toleransi tinggi. Tanpa toleransi, setiap hari antarpenghuni akan selalu terlibat percekcokan. "Bagi mereka yang tidak bisa bertoleransi tidak akan betah tinggal di rumah susun," katanya.

Menurut Yusuf, pemerintah daerah (pemda) bisa mulai membangun rumah susun sebagai alternatif penyediaan rumah murah. Hal itu penting mengingat masih tingginya tingkat kebutuhan rumah di Indonesia, yakni sekitar 6 juta rumah tangga. Jumlah itu terus membengkak karena tiap tahun ada sekitar 800.000 keluarga baru yang membutuhkan rumah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau