BANTUL, JUMAT — Semakin pesatnya pertumbuhan pemukiman di Pulau Jawa membuat luas lahan makin menyempit. Karenanya pola pengembangan perumahan secara horizontal tidak lagi memungkinkan. Salah satu alternatifnya adalah pengembangan secara vertikal berupa rumah susun. Sejak dini, konsep rumah susun seharusnya mulai diperkenalkan.
Hal itu disampaikan Menteri Negara Perumahan Rakyat Yusuf Asyary dalam acara pencanangan kawasan siap bangun Bantul kota mandiri, di Desa Guwosari, Pajangan. Bantul, DI Yogyakarta, Jumat (13/2). "Kalau tidak diperkenalkan sejak dini, masyarakat kita tidak akan siap. Padahal, kultur rumah susun sangat jauh berbeda dengan rumah biasa," katanya.
Dia mengatakan, tinggal di rumah susun harus memiliki semangat toleransi tinggi. Tanpa toleransi, setiap hari antarpenghuni akan selalu terlibat percekcokan. "Bagi mereka yang tidak bisa bertoleransi tidak akan betah tinggal di rumah susun," katanya.
Menurut Yusuf, pemerintah daerah (pemda) bisa mulai membangun rumah susun sebagai alternatif penyediaan rumah murah. Hal itu penting mengingat masih tingginya tingkat kebutuhan rumah di Indonesia, yakni sekitar 6 juta rumah tangga. Jumlah itu terus membengkak karena tiap tahun ada sekitar 800.000 keluarga baru yang membutuhkan rumah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang