Alpha dan Kampoeng Batik Laweyan

Kompas.com - 18/02/2009, 09:16 WIB

CHRIS PUDJIASTUTI dan ARDUS M SAWEGA

Nama Kampung Laweyan, Surakarta, Jawa Tengah, kembali muncul awal tahun ini. Kampung yang dikenal lewat produk batik serta kehidupan khas para perajin dan saudagar batiknya itu tampil di media lewat sosok Alpha Febela Priyatmono. Dia mendapat penghargaan Upakarti untuk kategori jasa kepeloporan. Sejak 2004 ia menjadi Ketua Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan.

Upakarti bagi Kampung Laweyan, kata Alpha, sangat berarti. Penghargaan yang diberikan untuk kalangan industri kecil dan menengah itu menunjukkan eksistensi Kampung Laweyan telah diakui pemerintah dan masyarakat.

”Pengakuan itu perlu agar kami terpacu untuk lebih mengembangkan kawasan ini. Di sini juga dituntut tanggung jawab kami untuk menjadikan Laweyan benar-benar menjadi kawasan pusat industri batik dan heritage yang pintar. Pintar dalam arti industri yang ramah lingkungan, hemat energi, melek pengetahuan dan teknologi, dengan tak meninggalkan nilai tradisionalnya,” katanya.

Forum Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan (FPKBL) adalah organisasi pemberdayaan masyarakat yang dibentuk pada 25 September 2004 seiring dengan dibentuknya Kampoeng Batik Laweyan. FPKBL menjadi salah satu elemen dari warga Laweyan untuk mengembangkan pariwisata berbasis industri batik dan nonbatik, seperti sejarah, bangunan, dan tradisi kawasan ini.

”Sebenarnya tugas kami hanya menjadi koordinator dan fasilitator,” kata Alpha. Padahal, lewat FPKBL, program pengembangan Laweyan berjalan, mulai dari mengurusi masalah permodalan, promosi, sampai pelestarian kawasan.

Segala hambatan, mulai dari menyadarkan ahli waris tentang pentingnya melestarikan bentuk bangunan yang menggambarkan beragam arsitektur pada zaman keemasan Mbokmase (sebutan untuk perempuan saudagar batik Laweyan) dan Mas Nganten (pria saudagar batik Laweyan) sampai minimnya modal usaha dan sulitnya memasarkan produk itu, harus mereka lalui.

Hasilnya? Kalau tahun 2004 jumlah pengusaha batik Laweyan tercatat 22, kini berkembang menjadi 56 pengusaha atau lebih dari dua kali lipat. Seiring dengan booming batik di pasaran, pendapatan warga Laweyan pun meningkat, bahkan sampai sekitar 200 persen.

Selain industri batik yang tumbuh setelah mati suri sejak 1970-an, konservasi bangunan rumah tinggal para juragan batik Laweyan yang tak terawat, bahkan rusak, pun mulai ditata. Ada sebagian rumah yang berubah fungsi, seperti menjadi hotel atau tempat pertemuan, tetapi bentuk bangunan yang bergaya indische, terutama art deco, relatif dipertahankan.

Gara-gara tesis

Alpha menetap di Laweyan sejak menikah pada tahun 1985. Istrinya, Juliani Prasetyaningrum, berasal dari keluarga juragan batik Laweyan. Usaha batik keluarga yang turun-menurun sejak 1956 itu punya beragam merek, di antaranya Mahkota Djaja, Tiga Dara, Tjap Ajam, Nusa Indah, Mustika Djaja, dan sekarang Mahkota Laweyan.

Namun, sama seperti nasib juragan batik Laweyan yang mati suri sejak munculnya batik printing, usaha keluarga Alpha pun surut. Keturunan juragan batik Puspowijoto ini pun bekerja di berbagai bidang karena batik tak bisa lagi dijadikan sandaran hidup.

”Sebagai arsitek, sebenarnya sejak lama saya kagum pada Kampung Laweyan. Tetapi, lebih dari 20 tahun perasaan itu terpendam. Kami sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Baru pada tahun 2003 ketika saya menyusun tesis untuk S-2 di Magister Desain Kawasan Binaan Jurusan Arsitektur UGM terpikir untuk mengambil tema kawasan Laweyan,” ceritanya.

Demi tesis, Alpha mulai meneliti dan menggali potensi Laweyan, terutama dari sudut arsitekturnya. ”Setelah meneliti beberapa bulan, saya semakin yakin Laweyan memang pantas dikembangkan sebagai heritage, menjadi kawasan pariwisata bukan hanya karena kekhasan arsitektur bangunan-bangunannya, tetapi juga batik dan sejarahnya,” katanya.

Mengingat sebagian bangunan di Laweyan waktu itu tak terawat, bahkan cenderung rusak, ia merasa perlu melakukan sesuatu. Agar Laweyan sebagai salah satu penanda Kota Solo tidak lenyap begitu saja, tahun 2004 dibentuklah FPKBL bersamaan dengan diresmikannya Kampoeng Batik Laweyan.

”Sebenarnya saya sudah tertarik dengan Laweyan sejak 1983. Waktu itu saya menyusun skripsi S-1 jurusan arsitektur, judulnya Kampung Batik Sondakan Surakarta. Sondakan adalah salah satu kelurahan di Kecamatan Laweyan,” kata Alpha.

Adanya FPKBL membuat warga Laweyan pada umumnya mempunyai rasa memiliki kawasan itu. Mereka seakan disadarkan akan pentingnya menjaga Laweyan dari kemungkinan kepunahan. Untuk itu dibutuhkan peran serta semua pihak. ”Kami lalu membuat semacam grand desain, mana daerah yang bisa berubah dan mana yang harus dipertahankan,” katanya.

Menumbuhkan stimulus

Lewat FPKBL kawasan Laweyan ditata kembali sesuai dengan kondisinya kini. Ketika itu ada 30 bangunan yang mendesak diperbaiki. Untuk mengonservasi bangunan itu, pada Agustus 2008 Laweyan mendapat bantuan dari pemerintah pusat. Masing-masing rumah yang perlu segera diperbaiki menerima dana sekitar Rp 20 juta.

”Pemilihannya berdasarkan kondisi bangunan dan pemiliknya dinilai kurang mampu memperbaiki sendiri. Padahal, bentuk bangunan itu pantas dipertahankan. Revitalisasi ini melibatkan warga karena Laweyan adalah kawasan yang masih ’hidup’,” katanya.

Konservasi bangunan itu ternyata menumbuhkan stimulus pada warga. Mereka yang tak lagi membuat batik mulai tergerak untuk kembali menggeluti industri batik. Berbagai kegiatan penunjang Kampoeng Batik Laweyan pun bergerak, mulai dari diadakannya pentas budaya dan sarasehan rutin setiap bulan, adanya kajian tradisi dan bahasa Jawa, didirikannya Laweyan Batik Training Centre, koperasi batik, instalasi pengolahan air limbah batik komunal, sampai menjadikan Laweyan sebagai obyek wisata terpadu.

Tahun 2005 Alpha menekuni usaha batik. Di rumah sekaligus ruang pamernya, dipajang produk batik berdesain klasik ataupun kontemporer dalam berbagai bentuk, seperti kain, baju, taplak, seprai, dan aksesori rumah. Keluarganya juga tinggal di rumah tua yang dipertahankan bentuk aslinya. Rumah berarsitektur Jawa dengan pendopo, patangaring, ndalem, dan sentong untuk memisahkan kegiatan publik dan pribadi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau