Ponari Kadang "Over Acting"

Kompas.com - 18/02/2009, 15:19 WIB

JAKARTA, RABU — Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) Seto Mulyadi mengatakan, pihaknya akan memberikan bantuan konsultasi psikologi kepada Muhammad Ponari (9), asal Jombang, Jawa Timur, yang dianggap punya kemampuan menyembuhkan berbagai penyakit.
    
Kak Seto menuturkan, beberapa hari yang lalu dia telah mengunjungi dan berdialog langsung dengan Ponari di Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang. "Satu atau dua hari mendatang kami akan kembali ke sana untuk memberikan semacam konsultasi," kata psikolog itu.
    
Ia mengatakan, konsultasi tersebut diberikan karena kepopuleran mendadak dan ekspose media yang berlebihan telah memengaruhi kondisi psikologis Ponari. "Pastinya dia stres karena selalu dikerubungi banyak orang, stresnya tidak berat, tapi kalau terus dibiarkan akan memengaruhi jiwanya," kata kak Seto.

Tanda-tanda stres seperti kemunduran tingkah laku, kata dia, mulai terlihat pada siswa sekolah dasar yang belakangan didatangi ribuan warga karena kemampuan menyembuhkan yang dia miliki itu.
    
"Sebelumnya dia biasa main sendiri, tapi sekarang minta digendong terus, kadang dia over acting. Dia juga jadi agak trauma dengan kamera," katanya.
    
Ia menambahkan, hingga kini anak itu belum bisa kembali bersekolah karena warga yang minta diobati masih terus berdatangan ke rumahnya dan berharap bisa menemuinya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau