Neli Triana dan Simon Saragih
Nada ucapannya simpatik layaknya seorang diplomat. Itulah Menlu AS, Hillary Diane Rodham Clinton. Bisa jadi itu hanya sekadar trik untuk menambah citra elegan sebagaimana ditampilkan mantan Menlu AS Condoleezza Rice, yang juga pernah berkunjung ke Indonesia.
”Namun, jujur saya katakan, Hillary itu orang yang menyenangkan dan rileks,” kata seorang staf Kedutaan Besar AS kepada wartawan yang diberi kesempatan wawancara di rumah Duta Besar AS Cameron Hume di Jakarta, Kamis (19/2).
Hillary memesona. Hal itu mendukung perannya sebagai menlu baru AS. Tutur katanya apik dipadu dengan bahasa tubuh yang sepadan. Hillary cocok sebagai corong AS dalam hubungan internasional. Hillary cocok sebagai perpanjangan tangan Presiden AS Barack Hussein Obama dalam menarik simpati dunia.
Sikapnya yang rileks dan memosisikan diri setara dengan lawan bicaranya menghilangkan kesan tegang dan kaku yang muncul akibat berseliwerannya agen-agen Dinas Rahasia AS di lokasi pertemuan.
Sebagai Ibu Negara AS periode 1992-2000, Hillary selalu dijaga oleh agen-agen Dinas Rahasia AS. Sikapnya yang tenang juga menghilangkan kesan keterburu-buruan yang diperlihatkan aparat yang mencoba membatasi waktu bertemu dengan Hillary.
”Tidak, ambil lagi. Blitz-nya belum nyala,” kata Hillary. Ia sabar melayani keinginan beberapa orang yang ingin berfoto bersamanya. Hillary bereaksi atas sikap aparat Kedubes AS yang ingin segera mengakhiri pertemuan. Ia melayani hingga setiap orang puas dan punya kesempatan berfoto bersama.
Saat mengunjungi daerah Petojo, lokasi proyek MCK yang dibiayai dari bantuan AS, Hillary menyapa seorang wanita hamil. Ia bertanya kapan anaknya lahir dan siapa nama yang akan diberikan. Fitria Yaningsih (25), perempuan yang hamil sembilan bulan warga RT 03 RW 08, menjawab, ”Valeri.”
Sambil mengusap perut Fitria, Hillary mendoakan agar anak pertama Fitria lahir selamat dan sehat, apalagi setelah tahu Fitria aktif memeriksakan kandungan di posyandu yang dibiayai atas bantuan AS. ”Aduh, senang banget. Saya akan memberi nama anak saya ini Valeri, diilhami dari nama Hillary,” kata Fitria.
Di tengah satu acara pada hari Kamis, wartawan tak leluasa. Ada seseorang yang mencoba memanggil Hillary, asal Illinois, yang lahir 26 Oktober 1947. Ia pun menoleh dan melayani untuk wawancara.
Mengapa ke Indonesia
Dalam berbicara, ia menyapa nama lawan bicaranya, menimbulkan kesan serius dan kesediaan mendengar. Baru saja beberapa menit berkenalan, ia ingat nama lawan bicaranya.
Mengapa Hillary berkunjung ke Indonesia? Apa karena Obama meminta demikian? ”Tentu saja, ia pernah empat tahun tinggal di Indonesia. Bahkan, keberadaannya di Indonesia membentuk pandangannya tentang dunia,” kata Hillary merujuk pada visi Obama yang ingin merangkul dunia.
”Anda tahu, adiknya sendiri (Maya Soetoro) juga keturunan Indonesia. Tentu ini suatu hal yang penting juga baginya (Obama). Kesan keharmonisan dan keramahan Indonesia melekat baginya,” kata Hillary yang menimpali bahwa ia sendiri pun memang memilih dan suka mengunjungi Indonesia.
”Saya bukan kali ini saja datang ke Indonesia. Setelah 15 tahun saya berkunjung, saya masih mempunyai teman-teman Indonesia yang juga bertemu saya sekarang ini,” kata Hillary yang mengunjungi Indonesia pada pertemuan APEC 1994.
”Orang-orang Indonesia begitu ramah dan menyenangkan,” kata Hillary. ”Saya melihat keterbukaan dan kesediaan menerima peranan wanita di sebuah negara Muslim. Ini adalah satu hal yang bisa saya bawa ke negara saya untuk membuktikan bahwa Muslim tidak sekaku yang diduga,” ujar Hillary yang menjabat Senator AS mewakili New York periode 2000-2008.
Hidup itu hadiah
Di dalam bukunya, Living History, terbitan 2003, Hillary juga menyinggung soal itu menyangkut Indonesia. ”Anda juga tahu suami saya punya kenangan indah dan memiliki beberapa teman di Indonesia, termasuk kunjungannya setelah terjadi bencana tsunami,” kata Hillary. Bill Clinton, suaminya yang juga mantan Presiden AS, berkunjung ke Indonesia tahun 2005 sebagai Utusan Khusus PBB.
”Saya bahkan bisa mengatakan kepada siapa saja di AS yang ingin melihat Muslim yang bisa menghargai peranan wanita, saya akan suruh mereka melihat keadaan di Indonesia,” kata Hillary. Ia menegaskan bahwa Indonesia akan menjadi mitra AS yang penting, termasuk soal itu.
”Banyak warga AS yang tidak mengerti soal Indonesia. Saya berharap akan banyak orang Amerika yang berkunjung ke Indonesia. Ini penting sebagai sarana untuk memperdalam rasa saling pengertian,” kata Hillary, pesaing Presiden Obama saat pemilihan pendahuluan Partai Demokrat dalam status sebagai bakal calon presiden tahun 2008.
Pada kesempatan itu, Hillary juga secara implisit memberikan tips kepada politisi yang ingin terjun ke dunia politik. Lakukan sesuatu yang menurut nurani Anda akan bermanfaat. ”Inilah yang menjadi pegangan sehingga saya bersedia terjun ke politik,” kata Hillary yang ingin terus membela hak-hak wanita dan pemberdayaan anak-anak.
”Politik itu berat. Ada banyak energi yang harus Anda curahkan,” kata Hillary, yang ditanyai soal perasaannya ketika ia kalah setelah berusaha maksimal meraih tujuannya menjadi presiden AS tetapi gagal.
”Saya tidak mau terbenam dengan persoalan itu,” kata Hillary, yang mengatakan, setelah pertarungan selesai, hal yang harus dipikirkan adalah langkah selanjutnya. Hillary terlilit utang dan ditalangi oleh Presiden Obama. Ia juga mendapatkan kritik keras dari sejumlah media konservatif AS.
Hidup itu bagaikan sebuah hadiah (life is a gift). ”Saya tidak pernah berpikir menjadi seperti sekarang saat saya seusia Anda. Kita juga tidak selalu bisa menebak apa yang akan terjadi pada kita,” katanya kepada rekan-rekan wartawan yang berusia 20-an hingga 40-an.
”Karena itu saya merasa beruntung. Anda tidak tahu apa saja yang akan terjadi, hanya saja tetaplah mencoba melakukan yang terbaik,” kata Hillary. Hal itu membuatnya bisa menerima hadiah apa pun yang ia dapatkan di dalam hidup.
Ayahnya, Hugh Ellsworth Rodham, imigran Inggris, pernah memprediksi bahwa Hillary akan mampu bertarung dengan kaum pria. ”Obama menawari saya, dan suami saya mengatakan, itu ide yang sangat bagus,” katanya menjelaskan bagaimana ia terpilih sebagai Menlu AS.
Hillary mengatakan, ia tidak segan-segan bekerja sama dengan pesaingnya karena ada banyak hal yang perlu dilakukan bersama dan tugas-tugas itu adalah kepentingan bersama. ”Kebetulan kami berteman walau tidak selalu bersepakat. Teman tidak selalu bersepakat, tetapi dengan Obama kebetulan kami ada di dalam nada yang sama.”
Kesepakatannya dengan Obama, bagaimana memperbaiki citra AS yang memburuk sebelumnya. Hillary mengakui, itu bukan pekerjaan mudah dan butuh perjuangan untuk memperbaiki kesalahan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang