Budiarto Shambazy
Kebijakan luar negeri Presiden Barack Obama, seperti dikemukakan dalam pidato pengambilan sumpah, bertujuan merombak total kebijakan presiden sebelumnya. Peter Beinart menyebutnya dengan Doktrin Bayar Utang (The Solvency Doctrine).
Ibaratnya, Presiden George W Bush menghamburkan simpanan hasil utang dari kanan-kiri. Akibatnya, aset Amerika Serikat (AS) di berbagai penjuru dunia bangkrut.
Obama mau bayar utang untuk merebut kembali aset yang menguntungkan. Sebagian aset tak layak dipertahankan alias terpaksa dilego.
Afganistan aset yang menguntungkan. Obama akan menambah pasukan menjadi 55.000 orang untuk memperkuat upaya menciduk Osama bin Laden.
Irak aset yang harus dijual. Obama akan memulai proses penarikan pasukan karena bisnis itu merugikan: 1,3 juta rakyat meninggal dan 4.245 serdadu AS tewas.
Utang yang dibayar bukan cuma berbentuk fisik, tetapi juga utang budi. Obama berutang budi kepada ASEAN—termasuk Indonesia.
Selama delapan tahun Bush mengabaikan ASEAN. Menteri Luar Negeri Condoleezza Rice dua kali ogah hadir di ASEAN Ministerial Meeting (AMM).
Utang budi itu dibayar tunai oleh kesediaan AS mengakses Treaty of Amity and Cooperation (TAC) ASEAN yang diumumkan Menlu Hillary Clinton di Jakarta. Ia memastikan pula akan hadir di AMM mendatang di Bangkok, Thailand.
Sifat kebijakan luar negeri AS high profile berkat karakter dan pengalaman Obama, Wapres Joe Biden, serta Hillary. Mereka telah lama berkecimpung dalam masalah-masalah internasional selama menjadi senator.
Sifat high profile terlihat dari kunjungan Hillary ke Jakarta yang diadakan bersamaan dengan kunjungan Obama ke Kanada—mitra dagang terbesar AS. Awal Februari Biden terbang ke Jerman dan belum lama ini menerima kunjungan Wapres Jusuf Kalla.
Hillary mengintrodusir konsep smart power (campuran diplomasi dengan pertahanan) untuk mengembalikan pamor AS. ”Kita harus memanfaatkan smart power yang mensyaratkan diplomasi sebagai ujung tombak kebijakan luar negeri,” ujar Hillary sebelum disahkan sebagai menlu di Senat.
Smart power diperagakan Hillary selama dua hari di Jakarta. Ahli hukum yang mantan Ibu Negara itu sosok yang smart, atraktif, supel, dan hangat.
Panitia yang kurang smart karena Hillary mungkin heran yang menyambut dia pelajar SDN Menteng 01. Oh, itu cara untuk memikat perhatian Obama yang pernah sekolah di SDN Menteng 01.
Terdapat kesan seolah-olah Obama merasa negeri ini sebagai Tanah Airnya yang kedua setelah AS. Padahal, Tanah Air kedua Obama ya di Kenya, negeri asal ayahnya.
Di negeri Afrika itu ia masih punya kampung halaman dan keluarga—termasuk beberapa orang dari tujuh saudara tirinya. Ratusan lembar buku Dreams from My Father menceritakan dramatis petualangan Obama menelusuri jejak ayahnya.
Wajar reaksi rakyat Kenya terhadap terpilihmya Obama heboh. Tanggal kemenangan Obama, 4 November, dimaklumatkan sebagai hari libur nasional dan Presiden Mwai Kibaki mengundang Obama berkunjung kapan saja ke negeri yang sering dikunjunginya itu.
Di buku The Audacity of Hope tecermin sikap Obama terhadap negara ini. ”Indonesia jadi tanah yang asing,” tulis Obama yang mengaku beberapa kali gagal berlibur ke Bali bersama keluarganya karena takut terorisme.
Masih ingat Bush disambut meriah di Istana Bogor? Beberapa hari sebelum itu bom sempat meledak di sebuah restoran cepat saji AS di Jalan Raya Bogor.
Jangan salah, Washington puas dengan kinerja Polri dalam pemberantasan terorisme. Tetapi, kalaupun datang, Obama mungkin enggan menginap di Jakarta karena ancaman terorisme.
Obama mustahil ke sini sebelum Pemilu-Pilpres 2009 usai. Sekarang saja banyak caleg mencatut nama dan gambar dia di spanduk kampanye.
Saya membayangkan reaksi elite politik saat Obama datang mirip dengan adegan di film Steven Spielberg, Close Encounters of the Third Kind (1977). Pemerintah AS heboh mempersiapkan diri menyambut kedatangan makhluk asing.
Dana puluhan juta dollar AS, ribuan ilmuwan, jenderal, agen rahasia, dan aparat dikerahkan. Rakyat dilarang mendekat ke lokasi kedatangan makhluk asing.
Mereka terkesima ketika makhluk asing mendarat. Ada yang mulutnya menganga, ada yang tak kuasa menahan kencing, dan ada pula yang lari terbirit-birit ketakutan.
Tak sedikit yang nekat jadi relawan diangkut ke ruang angkasa. Hujan emas di Bumi lebih enggak enak dibandingkan hujan batu di langit gelap.
Obama kayak Diego Maradona. Orang yang tak suka sepak bola pun mau beli tiket mahal menyaksikan pemain yang di Napoli (Italia) dijuluki ”Santo Maradona”.
Ia bukan cuma pencetak gol, tetapi juga playmaker. Jika Obama jenderal lapangan, Hillary sekadar striker cadangan.
Berhubung perhatian hanya terpusat ke playmaker yang gagal merumput, tak ada yang mengawal ketat si striker cadangan. Hillary mencetak hattrick, skor 3-0, untuk AS.
Gol pertama, smart power AS ternyata memukau Deplu, ASEAN, Istana, sampai Petojo. Gol kedua, citra AS layak dapat acungan jempol ke atas dibandingkan dengan era Bush yang dapat acungan jempol ke bawah.
Gol ketiga, semua pejabat lupa menjelaskan kepada rakyat apakah kita sempat menyampaikan keprihatinan atas penderitaan rakyat Palestina di Jalur Gaza? Goooollll.... *
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang