Dukun Ponari Asyik dengan Ponsel Barunya

Kompas.com - 21/02/2009, 12:15 WIB

JOMBANG — Muhammad Ponari (10) dukun cilik asal Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, Jombang, akhirnya kembali ke bangku sekolah kemarin, setelah sekitar sebulan membolos.

Kembalinya Ponari disambut gembira oleh sejumlah teman sekelas. Bahkan saat masuk ke ruang Kelas III SDN I Balongsari, Ponari sempat digandeng beberapa temannya.

Begitu memasuki kelas, anak pasangan Khomsin-Mukharommah ini langsung menuju bangkunya yang ada di pojok kanan bagian belakang. Namun berdasarkan informasi, Ponari belum sepenuhnya mengikuti pelajaran.

“Dia lebih banyak asyik memainkan games di handphone-nya. Yah, untuk sementara kita biarkan. Ini kan hari pertamanya setelah sebulan tidak ke sekolah, mungkin dia memerlukan adaptasi lagi,” kata Miharso, Kepala Sekolah (Kasek) SDN I Balongsari.

Miharso menjelaskan, kembalinya Ponari ke bangku sekolah itu atas kehendak Ponari sendiri. Namun sebelum berangkat sekolah, jelas Miharso, Ponari mengajukan dua syarat, yakni tidak mau melakukan pengobatan selama di sekolah, dan tidak mau diliput wartawan.

"Karena itu kami minta kesadaran teman-teman wartawan agar untuk sementara ini tidak meliput kegiatan Ponari di sekolah. Biarkan dia menikmati keceriaan bersama teman-teman sekelasnya. Kami juga khawatir, Ponari ngambek dan tidak mau berangkat sekolah lagi," pinta Miharso.

Kisah Ponari berangkat ke sekolah itu sendiri lumayan menarik. Bocah yang selama ini selalu jalan kaki menuju sekolah yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah orang tuanya, kemarin berangkat sekolah dengan naik jip Suzuki Katana milik Miharso.

Itu karena keberangkatan Ponari ke sekolah dijemput Miharso, bersama beberapa guru. Bahkan, Miharso sempat menggendong Ponari dari rumah ke mobil Katana. Ponari sendiri yang dikenal sebagai bocah pendiam dan pemalu, dalam pandangan Miharso nyaris tidak berubah.

"Dia tetap saja bocah pendiam, pemalu, dan penakut," kata Miharso.

Keberangkatan Ponari ke sekolah tak urung juga menarik perhatian pengunjung yang banyak berada di sekitar rumah Ponari. Mereka sebagian besar pengunjung yang menginap di rumah-rumah warga setempat, menunggu giliran berobat kepada Ponari.

Selama perjalanan menuju ke sekolah, meskipun Ponari di dalam mobil, sejumlah pengunjung tetap bisa mengenali. Mereka pun bersahut-sahutan memanggil-manggil nama Ponari dan mengelu-elukannya bak artis.

Ponari sendiri yang duduk di jok depan, hanya sesekali menengok ke luar jendela.

Di kelas, Ponari yang memakai seragam pramuka yang terlihat masih baru, lebih banyak memainkan games di ponselnya. Kebetulan selama dua hari, Kamis-Jumat (19-20/2), pengobatan Ponari diliburkan sehingga seusai pulang sekolah dia tak berpraktik. Ini merupakan aturan baru yang disepakati panitia, keluarga, dan pihak polisi.

"Ini guna memberikan waktu bagi Ponari untuk istirahat," kata Iptu Darmono, Kepala Unit (Kanit) Reskrim Polsek Megaluh.

Selain waktu libur dua hari, berdasarkan kesepakatan, jumlah orang yang diobati juga dibatasi, maksimal 5.000 orang setiap hari. Tak hanya itu, waktu pengobatan juga dibatasi mulai sekitar pukul 12.00 hingga selesai.

"Kalau yang ini agar tidak mengganggu sekolah Ponari," kata Darmono.

Ponari membolos sekolah sejak 17 Januari. Saat itu, dirinya banyak kedatangan pengunjung mulai dari pagi hingga sore hari sehingga terpaksa sekolahnya diabaikan.

Pihak sekolah sendiri sempat menulis surat kepada pihak keluarga pada 15 Februari lalu. Intinya meminta agar Ponari kembali ke sekolah. "Dalam surat itu, kita tidak berbicara soal sanksi. Kami hanya minta agar Ponari kembali masuk sekolah," kata Miharso. (sutono)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau