IDI Tarik Mobil Puskesmas Keliling dari Dusun Ponari

Kompas.com - 22/02/2009, 18:41 WIB

JOMBANG, MINGGU - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Jombang mengeluarkan surat perintah agar mobil Puskesmas Keliling meninggalkan Dusun Kedungsari, Desa Balongsari, Kecamatan Megaluh, yang menjadi tempat praktik dukun cilik, Ponari.
     
"Para dokter banyak yang mengeluh ditugaskan di sana karena dianggap mendukung praktik pengobatan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara medis. Akhirnya kami mengeluarkan surat perintah agar dokter dan mobil Pukskesmas Keliling ditarik," kata Ketua IDI Cabang Jombang, dr. Pudji Umbaran, Minggu.
    
Sikap IDI itu bertentangan dengan Dinkes Kabupaten Jombang yang sebelumnya mengerahkan sejumlah dokter dan mobil Puskesmas Keliling secara bergantian untuk memberikan pertolongan kepada pasien yang pingsan karena berdesak-desakan saat mengantre berobat di rumah dukun cilik itu.
     
"Logikanya, kalau memang Ponari bisa mengobati, tentu tidak harus ada dokter yang turun tangan. Mereka yang pingsan atau luka, seharusnya bisa diobati oleh Ponari," kata Pudji.
     
Oleh karena itu dalam masalah tersebut, dia tidak mempersoalkan IDI Jombang harus berbeda pandangan dengan Dinkes Kabupaten Jombang. "Memang seharusnya masalah itu menjadi tanggung jawab Dinkes," katanya.
     
Apalagi pihak aparat Desa Balongsari sendiri tidak bertanggung jawab terhadap apapun yang terjadi di rumah Ponari. "Aparat desa di sana saja apatis, masak para dokter harus mengurusi," katanya.
     
Sementara itu Pengasuh Pondok Pesantren Darul ’Ulum, Peterongan, Jombang, K.H. Zulfikar As’ad, meminta pemerintah daerah setempat segera menertibkan menjamurnya praktik pengobatan dengan menggunakan batu seperti yang dilakukan oleh Ponari.
     
"Seharusnya dinas terkait segera turun tangan dengan melakukan uji klinis terhadap air celupan batu yang dibagikan kepada masyarakat," kata salah satu pendiri Akademi Perawatan (Akper) Darul ’Ulum Jombang itu.
     
Menurut dia, tindakan tegas pemerintah itu sangat diperlukan, mengingat sejak kemunculan Ponari, di Jombang kini sudah mulai banyak orang yang mengaku mendapatkan batu ajaib seperti yang dialami bocah berusia sembilan tahun itu.
     
Beberapa saat setelah tempat Ponari didatangi ribuan warga, seorang bocah perempuan berusia 13 tahun di Dusun Pakel, Desa Brodot, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Kabupaten Jombang, juga membuka praktik serupa.
     
Sayangnya baru berjalan tiga hari, tempat praktik Dewi Setiowati itu ditutup warga, Kamis (19/2) lalu setelah sejumlah pasien mengaku tertipu oleh ulah Slamet (45), ayah Dewi.
     
Sehari kemudian, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Perumahan Tambakasri I-13, Desa Tambakberas, Jombang, juga melakukan hal yang sama, Jumat (20/2) lalu.
     
Siti Nur Rohmah (35), mengaku mendapatkan batu ajaib saat mengantarkan putranya ke Lembaga Kelompok Bermain Al Asna di Jalan Dayu Jombang. Setelah melapor ke polisi dan mengungkapkan batu pipih seukuran telapak tangan itu bisa menyembuhkan sakit gigi yang dialaminya, ratusan warga berbondong-bondong mendatangi rumah istri pelayan toko elektronik itu.
     
"Lama-kelamaan fenomena ini semakin mengkhawatirkan, kalau tidak segera ditindaklanjuti dengan sikap tegas aparat dan pemerintah daerah," kata K.H. Zulfikar As’ad.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau