Luapan Bengawan Jero Genangi 21 Desa

Kompas.com - 23/02/2009, 16:36 WIB

LAMONGAN, SENIN — Luapan sungai Kaliplalangan di Bengawan Jero Kabupaten Lamongan menggenangi 21 desa yang tersebar di Kecamatan Kalitengah, Karangbinangun, Turi dan Glagah Kabupaten Lamongan. Luapan Bengawan Jero sejak Minggu (22/2) hingga Senin (23/2) menggenangi 658 rumah, 1.963 hektar tambak, sekitar 5,46 kilometer jalan desa, dan 750 jalan kabupaten.

Berdasarkan data di Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana Kabupaten Lamongan, banjir luapan Sungai Plalangan di Bengawan Jero juga menggenangi dua Sekolah Dasar dan dua Madrasah Ibtidaiyah serta satu Pondok Pesantren. Banjir kali ini merupakan yang terparah sejak lima tahun terakhir. Ketinggian air di rumah antara 5 sentimeter dan 20 cm, di tambak dari 10 cm sampai 45 cm, sedangkan di jalan dari 15 cm hingga 50 cm.

Banjir di wilayah Kecamatan Kalitengah menggenangi 311 rumah, terbanyak di Desa Bojosari 198 rumah. Selain itu 1.048 hektar tambak dan 2.620 meter  jalan desa dan 750 jalan kabupaten tergenang. Banjir menggenangi delapan desa, yakni Desa Bojoasri, Lukrejo, Jelakcatur, Mungli, Somosari, Tiwet, Gambohan, dan Blajo.

Jalan desa di Desa Bojoasri (2.000 m) tergenang, di Jelakcatur (170 m), Gambuhan (350 m) dan Blajo (100 m) dengan ketinggian 30 cm sampai 40 cm. Jalan kabupaten yang menghubungkan Tiwet-Gibe sepanjang 750 meter juga tergenang dengan ketinggian 25 cm. Camat Kalitengah Saidi menyebutkan kerugian dari tambak akibat ikan lepas rata-rata Rp 2,5 juta per hektar karena rata-rata baru menebar benih.

Di Bojoasri, air menggenangi Dusun Wates, Waru, Dukun dan Dodoman, serta satu Pondok Pesantren Taksilul Murodhi dan satu Madrasah Ibtidaiyah. Pemkab Lamongan telah memberikan bantuan dua kali berupa 69 paket sembako dan 356 paket termasuk 25 di antaranya untuk Ponpes Takzilul Murodhi. Demikian dikatakannya.

Di wilayah Kecamatan Turi, satu balai desa, 260 rumah, 80 di antaranya di desa Kepundibener, 606 hektar tambak, dan 2.150 meter jalan desa tergenang. Banjir menggenangi enam desa yakni Pomanjangan, Kepundibener, Mbambang, Putatkumpul, Kemlagi Lor dan Turi.

Di wilayah Kecamatan Glagah banjir menggenangi 43 rumah, 33 di antaranya di Desa Soko, 185 hektar tambak dengan nilai kerugian sekitar Rp 1,085 miliar. Air menggenangi wilayah desa, yakni Soko, Morocalan, Pasi, dan Gempol Pendowo.

Di Kecamatan Karangbinangun, air menggenangi 44 rumah, 30 di antaranya di Desa Waruk, 124 hektar tambak, 750 meter jalan desa, dua MI dan dua SD. Banjir menggenangi tiga desa yakni Waruk, Sukorejo dan Karanganom.

Kepala Badan Koordinasi Wilayah Pembangunan Wilayah III Pembantu Gubernur Bojonegoro Setiadjit, Senin, menyerahkan bantuan 450 paket sembako. Setiap paket terdiri dari 2 kilogram beras, kecap, mi instan, minyak goreng, dan gula. Satlak Penanggulangan Bencana Lamongan sudah menyalurkan bantuan sebanyak 419 paket sembako dan 15 dus mi instan. pada Senin, Satlak mengirim 260 paket bantuan ke Kecamatan Turi. Demikian kata Kepala Bagian Humas dan Informasi dan Komunikasi Kabupaten Lamongan Aris Wibawa.

Koordinator Pengendalian dan Pengamanan Balai Sumber Daya Air Wilayah Bengawan Solo Moeljono menjelaskan, luapan yang terjadi di Lamongan disebabkan rawa Bengawan Jero yang di tengahnya ada Kali Blawi. Kali Blawi punya beberapa anak sungai yang membujur dari barat ke timur, yakni Kali Plalangan, Kali Mengkuli, Kali Dapur, dan Kali Pengaron atau Kali Deket.  

Moeljono mengatakan, seharusnya aliran air yang meluap mengalir ke Bengawan Solo lewat pintu air Kuro. Akibat tinggi permukaan air di Bengawan Solo lebih tinggi, air mengalir lewat pintu air (sluis) Wangen, Goden, Kali Malang, hingga Kali Corong Manyar Gresik.

Intinya di daerah aliran sungai Bengawan Solo, ada Kali Blawi, yang airnya tidak bisa mengalir dengan normal. Tinggi muka air atau elevasi di Gresik dan Lamongan hanya berbeda sedikit sehingga aliran air lambat. Meluapnya air diperparah adanya perubahan tata guna lahan rawa Bengawan Jero yang diubah menjadi tambak, ada pematangnya, bahkan ada yang jadi jalan dan permukiman. "Ini sulit dinormalisasi karena fungsi lahan rawa yang semestinya untuk menampung air telah dijadikan tambak," katanya.

Langkah strategis yang ditempuh untuk mengatasi luapan Bengawan Jero adalah dibuat bangunan sadap untuk pengambilan air dari Kali Corong di Gresik dengan saluran panjang sebagai saluran pembawa (saluran gendong) yang juga berfungsi sebagai avoer (saluran buang). Selain itu, perlu juga pompa di pintu air (sluis).  

Sistem drainase juga tidak lagi menggantungkan gravitasi mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah. Ia mengatakan, elevasi di Lamongan dan Gresik dan Lamongan menyebabkan aliran tidak bisa cepat.

Intinya, air dari Bengawan Jero harus lancar dengan sistem buka tutup. Air yang tidak bisa dibuang lewat sluis Kuro bisa dibuang lewat sluis Tambak Ombo. Bila air pasang sluis ditutup, sementara bila air surut dibuka. Bila sistem sudah jalan, saat air melimpah, wilayah Lamongan tidak terkena banjir dan wilayah Gresik bisa memanfaatkan air untuk tambak. Demikian katanya.

 

 

 

 

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau