Segala Keluh dan Pinta Dibebankan kepada Caleg

Kompas.com - 24/02/2009, 03:23 WIB

Oleh Nina Susilo

Jarum jam belum menunjukkan pukul 08.00, Nur Kholisoh berjalan bersama empat anggota timnya menuju Pasar Mences, Kalibaru. Dua di antaranya membawa karung berisi plastik kemasan bersablon partai dan nomor urut pencalonan Kholisoh menuju kursi DPR dari daerah pemilihan DKI I-Jakarta Utara dan Jakarta Barat.

Setiba di pasar, Kholisoh membagikan stiker bergambar wajah, logo Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan jargon ”Bersatu untuk Perubahan”.

Pedagang dan pembeli mendapatkan pula kantong plastik bersablon itu untuk mengemas barang. Nyaris semua yang ada di pasar disapa dan mendapatkan stiker serta kantong plastik.

”Kenalin, saya caleg PPP untuk DPR,” ujar Kholisoh sambil tersenyum manis. Terkadang masyarakat sekadar menerima stiker dan kantong plastik dan berlalu meneruskan kegiatan jual-beli.

”Kok kantongnya aje, isinya mane?” ”Kaus partainya mane?”.

Kholisoh cuma tersenyum.

Selain Pasar Mences, ia juga menyusuri Pasar Kalibaru. Bekal kantong plastik bersablon sebanyak dua bal segera habis. Perjalanan segera dilanjutkan karena Kholisoh harus mengajar di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dr Moestopo.

Dalam perjalanan, Kholisoh mencoba memesan kembali kantong plastik yang selanjutnya akan disablon di tempat lain. Sarjana Fikom Universitas Moestopo ini juga menelepon salah seorang mahasiswanya dan memberitahukan kedatangannya yang akan terlambat.

”Karena kesepakatannya (toleransi) 30 menit, kalau mau meninggalkan kelas, boleh karena saya akan sedikit terlambat,” katanya.

Seusai mengajar dan membimbing mahasiswa yang tengah menyusun skripsi, Kholisoh bergerak ke Pondok Pesantren Assidiqiyah, Kedoya, Jakarta. Waktu menunjukkan pukul 13.30. Di sana puluhan perempuan yang tergabung dalam majelis taklim tengah menanti kedatangannya.

Selain mengurangi waktu bersama keluarga, menjadi caleg juga menguras tabungan. Kholisoh, misalnya, sudah menghabiskan Rp 200 juta untuk membuat atribut.

”Semua saya kerjakan sendiri, termasuk mengatur jadwal sosialisasi. Bahkan, saya mungkin satu-satunya caleg perempuan yang membeli kertas sendiri, membuat film, dan menjelajah percetakan. Harganya memang lebih murah,” tutur Kholisoh, Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat PPP.

Tidak murah

Biaya untuk maju sebagai caleg memang tidak sedikit. Anggota DPRD Jakarta tahun 1970-an dan anggota DPR/MPR tahun 1986-1997, FMT Rajagukguk, juga harus mengumpulkan donasi dari rekan-rekannya untuk menyosialisasikan diri. Menurut koordinator tim sukses Rajagukguk, Victor Aritonang, anggaran yang dikumpulkan berkisar Rp 300 juta dan saat ini sudah digunakan lebih dari sepertiga. Biaya untuk saksi diperkirakan Rp 200 juta bila ada 2.000 tempat pemungutan suara yang dipantau.

Tak sekadar mencetak atribut seperti kalender, stiker, kartu nama, dan kaus. Biasanya masyarakat juga meminta bantuan kepada caleg. Seperti ketika mendatangi ibu-ibu PKK di Yayasan Panti Asuhan Roudhotul Jannah di Utanpanjang, Kemayoran, Ny Sugarna mengharapkan Rajagukguk membantunya mengajak anak yatim berekreasi.

Janji untuk memfasilitasi pun diucapkan sambil meminta surat permohonan keringanan biaya masuk Dufan, Taman Impian Jaya Ancol. Ibu-ibu PKK itu juga meminta bahan-bahan pokok untuk setidaknya 50 orang di setiap RW. Bila di daerah itu terdapat 10 RW, diperlukan 500 paket bahan pokok. Sang caleg dari Partai Golkar Dapil DKI II itu pun tidak mampu menolak.

Belum cukup, salah seorang ibu meminta ongkos pulang naik bajaj kepada Rajagukguk. Salah seorang timnya mengeluarkan Rp 200.000 untuk ongkos sekitar 20 ibu PKK itu.

Jangan lupakan

Kamis (19/2) malam, Halida Hatta, caleg DPR Dapil DKI II dari Partai Gerindra menyosialisasikan diri kepada ratusan santri di Pondok Pesantren Darunnajah, Jalan Ulujami, Jakarta.

Acara muhabarah sekaligus peresmian putri Bung Hatta itu sebagai pembina kehormatan Santri Bela Negara dilangsungkan di gedung serbaguna yang masih setengah jadi. Panggung dengan latar kain dan tata cahaya disiapkan.

Sebelum menyuguhkan pertunjukan tari saman, akapela, dan marawis dari para santrinya, pengasuh pondok pesantren, KH Mahrus Amin, menyampaikan sambutan. Isinya mengingatkan Halida agar tidak melupakan Ponpes Darunnajah jika kelak menjadi pemimpin.

KH Mahrus Amin juga memberikan teladan untuk memberi infak dari 14 anggota keluarganya sebesar Rp 5.000 per kepala.

”Saya akan memberi contoh infak. Tetapi infak ini malah sudah dimulai dari tamu, tadi sudah ada satu juta atau dua juta masuk kantong,” ujarnya setengah bercanda sambil mengeluarkan sebungkus amplop putih.

Malam semakin larut. Baru sekitar pukul 22.00 Halida mendapat kesempatan berpidato di depan guru-guru ponpes dan sekitar 500 santri tingkat tsanawiyah dan aliyah.

Dia pun menggugah rasa cinta Tanah Air para santri dengan menceritakan pengalaman Drs Mohammad Hatta, proklamator dan ayah Halida, ketika belajar di Belanda, ditangkap dan diasingkan, hingga menjadi Wakil Presiden RI pertama.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau