JAKARTA,SENIN-Penyakit demam dengue dan demam berdarah dengue kembali menjangkiti warga Jakarta dan sekitarnya. Di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat, Senin (23/2), terdapat 61 pasien, terdiri dari 44 pasien demam dengue dan 17 pasien demam berdarah dengue.
Peningkatan jumlah pasien ini mencapai 300 persen dibandingkan dengan awal pekan lalu. ”Memang mulai banyak. Namun, yang terbanyak adalah pasien demam dengue (DD). DD dan DBD berbeda. DD tidak separah DBD. Ini sesuai perkiraan sebelumnya, ketika hujan deras mereda dan panas muncul, biasanya nyamuk pembawa bibit penyakit demam berdarah berkembang biak serta menularkannya kepada warga,” kata Kepala Bidang Keperawatan RSUD Tarakan Zuraidah, Senin kemarin.
Lonjakan jumlah pasien DD dan DBD menyebabkan beberapa pasien terpaksa dirawat di tempat tidur darurat atau velbed. Senin kemarin terlihat sedikitnya 20 pasien terpaksa dirawat di atas velbed. RSUD Tarakan masih memiliki 30 velbed yang sengaja disiapkan untuk menampung penambahan pasien.
Aldinovita (33), ibu seorang anak balita yang terkena DD, mengaku amat cemas setelah anaknya demam tinggi selama tiga hari penuh. ”Awalnya saya anggap flu biasa, tetapi demam tak juga turun. Pada hari ketiga, Dede, anak saya, sempat turun demamnya, tetapi dia terlihat tetap lemas. Langsung saja saya bawa ke Tarakan. Untungnya ternyata belum terlalu parah,” kata warga Tambora, Jakarta Barat, itu.
Manajemen RSUD Tarakan memperkirakan penambahan jumlah pasien akan terus terjadi. Oleh karena itu, mereka berencana mengirimkan surat permohonan bantuan tenaga medis kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dalam hal ini khususnya Dinas Kesehatan DKI Jakarta.
Sementara itu, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) belum ada penambahan jumlah pasien DD atau DBD. Namun, juru bicara RSCM, Poniwati Yacub, mengatakan, jika jumlah pasien di RSUD-RSUD terus bertambah sehingga melebihi kapasitasnya, biasanya sebagian pasien akan dirujuk ke RSCM.
Data dari Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan beberapa rumah sakit, sejak Januari hingga menjelang akhir Februari ini terdapat lebih dari 3.000 pasien (DBD dan DD). Sedikitnya delapan pasien akhirnya meninggal dunia.
DD dan DBD
Berdasarkan keterangan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan DKI Jakarta Tini Suryanti, penyakit DBD adalah salah satu bentuk klinis dari penyakit akibat infeksi dengan virus dengue pada manusia. Manifestasi klinis dari infeksi virus dengue dapat berupa DD atau DBD.
Data dari Dinas Kesehatan DKI, DD tidak membahayakan atau tidak mengancam jiwa seperti DBD. Biasanya kasus seperti ini sering diistilahkan sebagai gejala demam berdarah. Namun, secara medis, DD tidak akan berubah menjadi DBD. Pendapat bahwa jika tidak tertangani dengan baik, maka penderita DD akan menjadi pasien DBD, tidak benar.
Pasien terkena DD atau DBD baru dapat diketahui dokter berdasarkan pemeriksaan darah dan keadaan klinis penderita. Secara klinis, pada pasien DBD terjadi reaksi keluarnya plasma (cairan) darah dari dalam pembuluh darah dan kemudian masuk ke dalam rongga perut dan rongga selaput paru.
Di Bekasi masih tinggi
Hingga kemarin, kasus DBD di RSUD Bekasi selama Februari mencapai 111 kasus. Sebanyak 109 pasien di antaranya masih dinyatakan tersangka DBD dan 2 pasien positif terjangkit DBD.
Selama bulan Februari ini sedikitnya 89 pasien telah dipulangkan, sementara 22 pasien tersangka DBD masih menjalani perawatan di RSUD Bekasi.
Menurut data yang ada, jumlah pasien DBD di RSUD Bekasi masih tinggi. Pada pertengahan Januari lalu kasus DBD mencapai 116 kasus, selisih lima pasien menjelang akhir Februari.
Menurut juru bicara RSUD Bekasi, Asep Sutisna, sampai saat ini ruang rawat inap masih tersedia dan mencukupi untuk menampung pasien DBD. (NEL/*)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang