AMSTERDAM, KAMIS - Para penyelidik terus bekerja untuk mencari tahu penyebab jatuhnya pesawat Boeing 737-800 milik maskapai Turkish Airlines saat akan mendarat di Bandar Udara Schiphol, Belanda. Ahli penerbangan menyebut perihal terjadinya ”keajaiban” karena tidak banyak korban tewas meskipun badan pesawat terpotong menjadi tiga bagian.
Pemimpin Otoritas Keselamatan Belanda Pieter van Vollenhoven mengatakan, kemungkinan pesawat naas itu kehilangan kecepatan sebelum jatuh. ”Oleh karena kurangnya kecepatan, pesawat bisa jatuh dari langit,” katanya, Kamis (26/2).
Pesawat Turkish Airlines bernomor penerbangan TK 1951 itu jatuh di lapangan sekitar 500 meter dari landasan. Sebanyak 9 orang tewas, di antaranya dua pilot dan seorang pilot magang. Lebih dari 80 orang luka-luka. Pesawat yang mengangkut 127 penumpang dan 7 awak pesawat itu berangkat dari Istanbul, Turki, dengan tujuan Belanda.
Perekam data penerbangan dan rekaman suara telah ditemukan dan dikirim ke Paris, Perancis. Analisis data itu akan memakan waktu beberapa hari.
Juru Bicara Dewan Keselamatan Belanda Fred Sanders mengatakan, para penyelidik akan mengeksplorasi berbagai kemungkinan penyebab kecelakaan, mulai dari faktor cuaca, kekurangan bahan bakar, kesalahan navigasi, kelelahan pilot, hingga gangguan burung.
”Ini benar-benar hancur. Bahwa begitu banyak orang bisa berjalan keluar (dari pesawat) benar-benar mengagumkan. Beberapa orang menyebutnya keajaiban,” kata Sanders.
Salah satu faktor kecilnya jumlah korban adalah tidak adanya api dalam kecelakaan itu. ”Mungkin ada hubungannya dengan fakta bahwa pesawat jatuh di tanah berlumpur, bukan jalan beton atau jalur landasan yang akan meningkatkan peluang kebakaran,” ujar Sanders.
Pesawat itu tampaknya jatuh pada sudut lurus. Hal itu, menurut Sanders, mengindikasikan bahwa pesawat kehilangan momentum maju dan tak ada fungsi motor.
Ketika pendaratan, cuaca dilaporkan berkabut dan berangin disertai gerimis. Jarak pandang dilaporkan bagus, sekitar 4.500 meter.
Identifikasi
Joe Mazzone—mantan pilot Delta Air Lines yang ikut mendengarkan komunikasi antara petugas kontrol lalu lintas dan pesawat—mengatakan, tidak ada hal yang tidak normal. Sebelum akhir dari rekaman selama 52 detik, hal terakhir yang terdengar adalah petugas kontrol memberi frekuensi menara kepada pilot dan memberikan izin untuk mendarat.
Petugas medis dan petugas penyelamat juga bekerja mengidentifikasi korban tewas. Selain ketiga awak kokpit, korban lainnya belum diidentifikasi.
Sebanyak enam orang yang cedera dalam kondisi kritis, 25 orang luka parah, dan 24 orang luka ringan. Korban selamat dirawat di 13 rumah sakit berbeda, termasuk rumah sakit darurat yang didirikan militer di pusat kota Utrecht.
Duta Besar Turki untuk Belanda Selahattin Alpar kepada kantor berita Turki, Anatolia, mengatakan, ada 72 warga negara Turki dan 32 warga negara Belanda yang ikut dalam penerbangan TK 1951. Empat orang pegawai Boeing juga turut dalam penerbangan tersebut. (ap/afp/reuters/fro)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang