Waspadai Wisata Gunung Kelud

Kompas.com - 01/03/2009, 17:52 WIB

KEDIRI, MINGGU — Wisatawan lokal maupun mancanegara yang hendak berwisata ke Gunung Api Kelud di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, diimbau untuk waspada. Selain cuaca buruk, jalan menuju lokasi wisata juga rusak akibat longsor.

Hingga Minggu (1/3), kawasan wisata Gunung Kelud belum bisa dijangkau dengan kendaraan roda empat. Hanya pengunjung yang membawa kendaraan roda dua atau berjalan kaki yang mampu mencapai puncak. Itu pun mereka harus berhati-hati karena rawan longsor susulan.

Sedikitnya ada lima lokasi longsor di sepanjang jalur menuju Kubah Lava Gunung Kelud. Titik-titik longsor itu berada setelah pos pembayaran retribusi masuk ke kawasan wisata, tepatnya antara Perusahaan Perkebunan Daerah Margomulyo dengan lokasi parkir wisatawan.

Titik longsor terparah berada di jalan beraspal tepat sebelum jembatan gladak atau jembatan terakhir menuju ke Kubah Lava. Ruas jalan selebar sekitar enam meter itu ambrol hingga tinggal satu meter. Panjang longsor mencapai 30 meter, sedangkan tinggi longsor mencapai 50 meter.

Penanggung jawab kawasan wisata Gunung Kelud telah memasang tumpukan sak berisi pasir di pinggir jalan yang longsor. Petugas juga membuat pagar dari bambu di sepanjang jalan yang longsor sebagai tanda bahaya bagi pengunjung yang melintas.

Selain itu, longsor juga terjadi di mistery road kawasan gunung api yang terakhir mengeluarkan material letusan pada akhir tahun 2007. Tebing setinggi sekitar satu meter di pinggir jalan longsor sehingga menutup sebagian badan jalan.

Di dekat pos penarikan tiket, setelah kantor Perusahaan Daerah Perkebunan Margomulyo, terlihat aspal jalan amblas sehingga mengakibatkan jalan sulit dilalui. Pengguna roda dua harus ekstra hati-hati saat melintas.

Sejumlah pemilik warung di kawasan wisata mengatakan, longsor telah terjadi sejak Senin (23/2) hingga Minggu dini hari. Selain terjadi di sepanjang jalan menuju puncak, longsor juga terjadi di lereng-lereng Gunung Kelud.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri yang dikonfirmasi melalui Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemerintah Kabupaten Kediri Eko Setiyono mengatakan, kawasan wisata Gunung Kelud tetap dinyatakan terbuka untuk umum.

"Kami sudah meminggirkan longsoran di jalan menuju Gunung Kelud sehingga wisatawan tidak ada masalah ke atas pakai kendaraan roda dua. Kendaraan roda empat harus berhenti di pintu masuk, kemudian naik ojek menuju puncak," katanya.

Sutari (37), salah satu petugas bagian jaga loket di Gunung Kelud, mengatakan, kunjungan wisatawan sepi sejak hujan sering mengguyur Kediri. Pada akhir pekan, biasanya ada 3.000-5.000 wisatawan ke Gunung Kelud, kemarin hanya puluhan orang yang datang.

Sementara itu, Koordinator Anggota Relawan Kelud Joni Arifin mengatakan, longsor juga ditemukan di Gunung Gong dan Gunung Kikik di Kecamatan Puncu, yang merupakan kawasan lereng Gunung Kelud.

"Sedikitnya ada tujuh titik longsor di Gunung Gong dan Gunung Kikik. Namun, karena lokasinya yang sulit dijangkau, kami belum bisa memastikan titik mana saja. Akibat longsor itu, ribuan pohon di lereng Gunung Kelud tumbang bersama material tanah dan batu-batu besar," katanya.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau