Kasus Hadi Djamal Jadi Perbincangan di Warung Kopi

Kompas.com - 04/03/2009, 15:30 WIB

MAKASSAR, RABU — Pasca-ditangkapnya anggota DPR, Hadi Djamal, dari daerah pemilihan (Dapil) Sulsel oleh KPK pada Senin malam (2/3) di Jakarta menjadi perbincangan di warung kopi di Makassar, Rabu.
   
Masyarakat Sulsel yang mengetahui sosok pribadi Hadi seakan tidak percaya dengan kasus dugaan suap terhadap anggota DPR dari fraksi PAN tersebut.
   
"Sehari sebelum tertangkap, saya sempat memasang baliho Hadi Djamal ukuran besar di persimpangan jalan Jenderal Hertasning-Toddopuli Raya Makassar," ujar Zainal di warung kopi Cappo, milik salah seorang anggota DPRD Sulsel.
   
Belasan pengunjung warung kopi berjarak sekitar 200 meter dari kediaman KH Djamaludidn Amien, ayah kandung Hadi, larut dalam pembicaraan kasus dugaan suap yang menimpa putra mantan Ketua DPW Muhammadiyah dan salah seorang deklarator PAN Sulsel.
   
Zainal yang datang bersama rekannya di warung kopi itu mengaku sangat kaget dengan tertangkapnya Hadi. Hadi Djamal adalah salah seorang caleg DPR RI pada pemilu April 2009 dari Dapil I Sulsel yang mereka nilai berpeluang besar terpilih kembali ke Senayan.
    
Hadi Djamal, menurut mereka, adalah sosok agamais yang dikenal jujur, merakyat, dan gigih memperjuangkan pembangunan infrastruktur di Sulsel dan daerah lainnya di kawasan timur Indonesia (KTI).
    
Sementara itu, pengamat politik dari Unhas Hasrullah mengatakan, untuk kesekian kalinya nama Sulsel kembali tercoreng karena kasus korupsi anggota DPR.
    
Kasus serupa yang menimpa tiga anggota DPR dari Dapil Sulsel sebelumnya ternyata tidak bisa menjadi "shock therapy" bagi anggota DPR lainnya. Hal itu diungkapkan Hasrullah tanpa menyebut nama legislator asal Sulsel yang tersangkut kasus korupsi.
    
Pihak KPU Sulsel menyatakan, status Hadi Djamal dalam daftar celeg DPR pada Pemilu 2009 adalah kewenangan KPU Pusat, sementara KPU provinsi hanya menangani caleg tingkat provinsi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau