Tak Etis! Iklan dengan Klaim Keberhasilan Pemerintah

Kompas.com - 05/03/2009, 11:53 WIB

JAKARTA, KAMIS — Tren iklan politik sejumlah partai belakangan ini menghadirkan klaim atas keberhasilan capaian pemerintah sebagai prestasi partai tertentu. Lihat saja, tiga partai politik mengklaim sebagai pihak yang paling berperan terwujudnya swasembada pangan. Etiskah model saling klaim seperti ini?

Ketua Badan Pengawas Periklanan Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) FX Ridwan Handoyo mengatakan, P3I berpendapat iklan politik yang mengklaim keberhasilan pemerintah tidak etis. Demikian pula iklan yang menunjukkan kegagalan pemerintah untuk menyerang penguasa.

"Iklan yang menunjukkan keberhasilan atau kegagalan pemerintah, dua-duanya tidak etis," kata Ridwan saat hadir sebagai pembicara pada diskusi 'Kontroversi Etika Iklan Politik', di Gedung Dewan Pers, Jakarta Pusat, Kamis (5/3).

Iklan yang menunjukkan kegagalan pemerintah, dikatakan Ridwan, tidak etis karena Indonesia tidak menganut model oposisi seperti Amerika Serikat. "Di sini, kita kan tidak mengenal sistem oposisi seperti di Amerika Serikat. Indonesia multi-partai. Jadi, tidak etis partai A, partai B, mengklaim berhasil swasembada. Ini membingungkan masyarakat," lanjutnya.

Kebingungan yang timbul di masyarakat merupakan bagian dari ketidaketisan sebuah iklan politik. Hal lainnya yang perlu diperhatikan dalam iklan politik adalah tidak menggunakan anak-anak sebagai model, menggunakan kaum profesional yang bukan pendukung partai, serta tidak menggunakan stereotip golongan masyarakat atau suku tertentu.

Dikatakan Ridwan, iklan politik yang efektif dan beretika, jika dibuat atau ditayangkan, berdasarkan perencanaan dan strategi yang dapat dipertanggungjawabkan secara profesional. Iklan politik juga seharusnya mampu membangun emotional attachment, memunculkan voluntary commitment, dan menghasilkan active participation.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau