Pengendara Motor "Pengen" Enaknya Sendiri

Kompas.com - 10/03/2009, 20:14 WIB

PENEGAKAN disiplin lalu lintas lewat Operasi Patuh Jaya (OPJ) yang digelar serentak di seluruh wilayah Jakarta mulai 8 Maret sampai 14 Maret 2009 tidak pandang bulu. Tidak ada istilah damai. Salah ya ditindak! Semuanya diselesaikan di pengadilan.

Demikian diungkap Wakasak Lantas Jakarta Timur Adri Desas F di Pos Polisi UKI, Jakarta, Selasa (10/3). "Sekalipun demikian, kami juga memberi toleransi untuk kasus-kasus tertentu," katanya. Ia memberi contoh, kemarin (9/3) ada pengendara motor dari daerah yang tidak tahu jalur busway, maka dari pihak kepolisian memberikan pengertian kepadanya.

OPJ, kata Adri, dilaksanakan setelah melakukan analisis data yang diterima Traffic Management Center melalui SMS 1717. Analisis data ini dilakukan per tiga bulan. OPJ kali ini, yang setahun dilakukan 4 kali, adalah hasil rekap data Januari sampai Maret 2009. Dari situ, diketahui bahwa pengaduan terbanyak dari masyarakat adalah ketidakdisiplinan para sopir kendaraan umum dan pengendara motor.

"Untuk itulah, saat ini targetnya (OPJ) adalah kendaraan umum dan motor," kata Adri yang sebelum ditemui sedang menyelesaikan tabrakan antarmobil di bilangan UKI, Jakarta Timur.

Kendaraan umum yang dikeluhkan masyarakat antara lain kerap menaikkan dan menurunkan penumpang di sembarang tempat. "Kalau parkir, berhenti, dan ngetem sering kali kendaraan umum ini di wilayah rambu dilarang berhenti. Selain itu, mereka suka berhenti di bahu jalan sehingga menjadi penyebab kemacetan," kata Adri.

Wilayah UKI memang kerap diteropong menjadi wilayah crowded dengan kondisi bus-bus kerap bertumpuk di bahu jalan, sekalipun tiap hari para petugas nongkrongin wilayah tersebut.

"Pengendara motor sama saja. Mereka kerap melanggar aturan: zig-zag, berjalan di jalur busway, menerobos lampu merah, tidak memakai helm, dan yang paling disoroti adalah melawan arus," terang Adri.

Apa yang diungkapkan Adri tentang ketidakdisiplinan pengendara kendaraan umum dan motor juga diamini oleh Kanitlantas Jakarta Timur Iptu Haryanto yang saat ditemui sedang bertugas di Terminal Kampung Melayu, Aiptu Abdul Rahman di Palmerah, dan seorang perwira yang tidak mau disebut namanya di Resort Metropolitan Jakarta Barat Satuan Lalu Lintas (RMJBSLL).  

 

Ratusan Pelanggaran Sehari

Kompas.com menyusur jalan Basuki Rahmat, di bawah flyover Kampung Melayu arah Pondok Bambu, guna mencari Kanitlantas Jakarta Timur Iptu Haryanto. Dari arah berlawanan, tiba-tiba muncul dari balik mobil yang sedang parkir, seorang pengendara motor. Dengan santainya pengendara itu, yang menyantelkan helmnya di stang, melintas di belakang polisi yang sedang bertugas. Ketika hendak diberhentikan, orang tersebut memberi isyarat bahwa ia tidak jauh membawa motor.

Tampaknya petugas yang melihat orang tersebut mencoba memahaminya, dengann membiarkannya tapi tidak melepaskan pandangan padanya. Anehnya, pengendara tersebut mengambil helm, memakainya, lalu menarik gas motor. Tentu, arahnya berlawanan arus.

"Di wilayah ini banyak sekali motor yang berlawanan arus. Mereka menumpuk di mulut flyover itu (menuju Pondok Bambu), sehingga kerap terjadi kemacetan dan kecelakaan," kata Haryanto. Ia menambahkan bahwa para pengendara motor itu sering mencari enaknya sendiri, mau cari jalan pintas tanpa memikirkan akibatnya .

Tidak hanya itu, ketika Kompas.Com sedang ngobrol dengan Abdul di Pos Polisi Palmerah tampak banyak sekali motor yang melintas di jalur cepat. "Coba mas lihat itu," kata Abdul.

Menurut Abdul perilaku tidak disiplin pengendara motor itu membahayakan mereka sendiri dan pengguna jalan lain. Tidak jarang, kata Abdul, terjadi senggolan antara motor dan mobil di jalur cepat yang terlarang bagi motor itu.

Selain motor, kendaraan umum pun tidak lepas dari jaring kedisiplinan polisi. Belum ada lima menit mewawancarai Haryanto, Kompas.Com melihat perwira yang berperawakan dingin berwibawa itu sudah menyemprit oplet biru No.16 jurusan Kampung Melayu Pasar Minggu. Tanpa diminta, supir yang memakai baju biru bertopi gambar daun ganja itu menyerahkan STNK-nya. Dalam hitungan detik, supir memacu kendaraannya berbekal surat tilang.

Hal serupa dialami supir oplet No. 461 jurusan Pondok Gede Pasar Rebo yang diberhentikan polisi di dekat Pos Polisi di daerah UKI. Ia juga pulang dengan mengantongi surat tilang.

Jumlah pelanggaran di Jakarta Barat yang meliputi Target Operasi (TO) Taman Sari, kebun jeruk, Tambora, Tanjung Duren, Palmerah, Cengkareng, Kali Deres, Kembangan berjumlah 342 pelanggaran. Sedangkan untuk wilayah Jakarta Timur ada 4 TO, yaitu Terminal Kampung Melayu, Terminal Kampung Rambutan, UKI, Terminal Pulo Gadung dan Jalan Ngurah Rai ada 557 pelanggaran.

"Itu data pelanggaran yang terjadi kemarin (9/3), karena hari ini belum direkap," kata Adri yang di tempat terpisah juga diungkap oleh seorang permira di RMJBSLL.  

 Tanggapan Masyarkat

Menurut Adri, OPJ yang hari ini memasuki hari ketiga ini sudah disosialisasikan. Tetapi menurut penyusuran Kompas.Com banyak masyarakat yang tidak mengetahui adanya operasi ini.

"Waduh, saya tidak tahu tuh," kata Didik, seorang pengendara motor asal Cililitan yang melintas di bilangan UKI ketika ditanya apakah dia tahu bahwa hari ini dilakukan OPJ.

Hal senada juga dialami oleh pengendara motor lain Iwan dari Pasar Minggu dan Onggo dari Depok. Mereka ini sama-sama melintas di Jalan Cawang Otista setelah melewati Terminal Kampung Melayu.

Namun, ada juga pengendara lain yang mengetahui OPJ ini. "Saya tahu ada operasi ini (OPJ). Mulai hari Minggu kan?" kata seorang supir bus yang tidak mau menyebutkan identitasnya itu.

Supir dengan aksen Sumatera Utara itu sangat setuju dengan OPJ ini. Menurutnya OPJ bisa membantu kita untuk tertib dan aman berkendara di jalanan. " Tetapi jangan sering-sering ya, soalnya bisa repot," kata supir yang memacu bus jurusan Kampung Melayu Ragunan ini.

"Kalau keseringan, guwe gak bisa naikin atau nurunin penumpang di sembarang tempat, soalnya penumpang itu biasanya banyak di lampu lalu-lintas dan di tikungan," katanya sambil tertawa.

Supir yang ditemui sedang menunggu penumpang itu sedikit menyesalkan tindakan petugas yang hanya menindak supir kendaraan umum tetapi para calon penumpangnya tidak. "Itu dia masalahnya mas, sopir ditindak eh penumpangnya dibiarin aja. Tolong dong penumpangnya digiring ke halte," katanya serius.  

 

Penumpang Juga Tertib

Dalam pelaksanaan OPJ ini para pengguna jasa kendaraan umum juga mendapat perhatian dari para petugas polisi."Susah sekali memberi pengertian kepada mereka itu (para penumpang)," kata Abdul.

Abdul memberi keterangan bahwa hampir setiap pagi petugasnya meneriakkan kepada calon penumpang di wilayah Slipi dengan corong supaya menunggu bus di halte. Tetapi, tetap saja banyak yang tidak mengerti. Sekalipun mereka itu didatangai dan diberitahu dengan baik-baik.

Bahkan ada celetukan yang keluar dari salah seorang petugas ketika ada seorang ibu yang berkali-kali diberitahu, tapi tetap saja tidak mau bergerak ke halte. "Dasar, cantik-cantik tapi ndablek," kenang Abdul.

Kesulitan yang mirip juga pernah dirasakan oleh seorang perwira yang tidak mau disebut namanya di RMJBSLL. Ketika berusaha memberitahu para calon penumpang, "Malah saya dibilang dasar petugas brengsek, pernah juga dibilang huh... petugas sialan," kata perwira tersebut.

Petugas lain, Haryanto, juga kerap mendapat perlakuan tersebut. Tetapi mereka tetap sadar kewajiban mereka untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. "Selaku petugas ya sabar aja, memang ini sudah kewajiban kita," kata Haryanto.  

 

Demi Kebaikan Bersama

OPJ dilaksanakan atas dasar kebaikan bersama. Kesuksesan OPJ mesti diikuti dengan komitmen dari semua pihak yang terkait, entah para petugas, pengendara motor, para supir kendaraan umum, dan tentunya tidak terkecuali pa ra pengguna jasa kendaraan umum, untuk menciptakan suasana aman dan nyaman dalam perjalanan.

Target operasi ini adalah menekan pelanggaran lalu lintas khususnya yang dilakukan para supir kendaraan umum dan pengguna motor. Dengan demikian diharapkan angka kecelakaan di jalan raya juga ditekan, kata Adri.

Mengenai kecelakaan, Haryanto mengatakan bahwa lebih dari 60 persen korban kecelakaan di jalan raya dialami oleh pengendara motor yang tidak memakai helm. Jumlah ini sesuai dengan perilaku pengendara motor yang masih jauh dari disiplin.

Contoh konkretnya, ketika di pos bersama Abdul, Kompas. Com mendengar dari handy talky bahwa ada kecelakaan di Srengseng, Jakarta Barat. Roda dua melawan roda empat. Korban di bawa ke Rumah Sakit Siloam, ganti, begitu suara yang keluar dari alat komunikasi polisi tersebut.

 

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau