Sebanyak 15 Anggota Macan Tamil Tewas

Kompas.com - 11/03/2009, 21:52 WIB

KOLOMBO, KOMPAS.com — Pasukan Sri Lanka menangkal upaya Macan Tamil menyusup garis tentara di bagian timurlaut negara itu dan menewaskan sedikit-dikitnya 15 pemberontak, kata Kementerian Pertahanan pada Rabu (11/3).

Bentrok sesekali terjadi di sepanjang garis pertahanan tentara di daerah Mullaittivu, tempat Macan Pembebasan Tamil Eelam (LTTE) terkepung dalam wilayah sempit garis pantai, kata pernyataan Kementerian itu.

Dalam bentrok pada Rabu, tentara menghalau upaya penyusupan dini hari LTTE ke daerah pertahanan garis depan tentara di Kuppilankulama, Mullaittivu, dan beberapa mayat pemberontak ditemukan di tempat kejadian tersebut, kata Kementerian itu.

Belum ada tanggapan dari LTTE, tetapi laman pendukung pemberontak pada Selasa menuduh tentara menembaki penduduk, yang ditolak tentara.

Pemerintah menarik diri dari gencatan senjata dipialangi Norwegia pada awal tahun lalu, dengan menuduh LTTE menggunakan gencatan senjata itu untuk mempersenjatai diri kembali.

Presiden Sri Lanka menolak seruan gencatan senjata lagi, dengan menyatakan tentaranya di atas angin dalam sengketa berdasawarsa itu dan dalam waktu dekat menghancurkan LTTE.

Keadaan seorang menteri pemerintahan Sri Lanka, yang luka berat akibat pengeboman jibaku—diperkirakan dilakukan pemberontak Macan Tamil—pada Rabu di rumah sakit berangsur mengalami kemajuan, kata pejabat.

Menteri Layanan Pos Mahinda Wijesekera (66 tahun) luka di bagian kepalanya dalam serangan di kota bagian selatan Akuressa dan kemudian diterbangkan ke Kolombo, tempat ia dibedah selama empat jam.  "Peralatan bantu hidup sudah dicopot dan keadaannya mengalami kemajuan," kata jurubicara Rumahsakit Negara Kolombo.

"Ia masih berada di perawatan darurat di bagian bedah saraf," katanya.

Pengeboman jibaku itu menewaskan 15 orang dan melukai 60 lagi.

Pemerintah menuding pelakunya pemberontak LTTE, yang terus kehilangan kekuatan dalam menghadapi serangan sengit pemerintah di kubu mereka, yang menciut di bagian timurlaut. Serangan itu mengincar politisi, yang menghadiri upacara di sebuah masjid.

Pemerintah menyatakan pengeboman itu justru menguatkan tekad menghancurkan LTTE, yang terpojok di bagian timur laut pulau tersebut oleh serangan gencar tentara.

Belum ada tanggapan dari LTTE tentang serangan tersebut, tetapi gerilyawan kelompok itu melakukan serangan serupa pada April 2008, yang menewaskan seorang anggota kabinet ketika menteri bersangkutan menghadiri perayaan menjelang Tahun Baru.

Tentara Sri Lanka menyatakan, korban jiwa jatuh di pihak pemberontak Macan Tamil dan pasukan pemerintah dalam bentrok di bagian utara negeri itu pada Selasa.

Beberapa pejabat dari Pusat Media untuk Keamanan Negara menyatakan pemberontak LTTE menderita kerugian besar dalam bentrok di daerah Pudukudiyirippu di Kabupaten Mullaitivu dari pukul 06.00 waktu setempat (07.30 WIB) sampai pukul 18.00 waktu setempat (18.30 WIB).

Tentara juga "menderita kerugian dalam bentrok tersebut", kata tentara, tanpa merinci.

Tentara menguasai kembali sebagian besar dari 15.000 kilometer wilayah LTTE dalam serangkaian kemenangan sejak 2006.

LTTE, yang mengaku mengalami pembedaan di tangan pemerintah suku besar Sinhala, memulai perlawanan bersenjata pada 1980-an guna mendirikan negara merdeka Tamil di bagian utara dan timur Sri Lanka sehingga menewaskan lebih dari 70.000 orang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau