TOKYO, KOMPAS.com — Jepang mengatakan akan menyerukan untuk menyatukan aksi guna menstimulasikan ekonomi global dan untuk memperketat regulasi finansial pada pertemuan akhir pekan para pemimpin keuangan dunia.
"Kami dapat membuat berbagai kebijakan kami lebih efektif dengan setiap negara mengambil berbagai langkah stimulus fiskal secara simultan," kata Menteri Keuangan Jepang Kaoru Yosano, Kamis (12/3), menjelang pertemuan para pemimpin keuangan dari kelompok 20 (G-20) di Inggris yang dijadwalkan 2 April mendatang.
"Kami akan mendesak agar secepatnya dibentuk sistem regulasi global yang efektif yang meliputi semua sektor termasuk membatasi dana," katanya.
Jepang juga akan menyerukan untuk pendanaan lebih besar bagi institusi-institusi internasional, seperti Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Pembangunan Asia (ADB), untuk memungkinkan mereka memainkan peranan lebih besar dalam mengatasi krisis finansial, kata Yosano.
Pertemuan tersebut merupakan dasar untuk pertemuan puncak (KTT) 2 April mendatang antara negara maju dan berkembang (G-20) di London, muncul di tengah-tengah adanya tanda-tanda kesalahpahaman antara para pemimpin Amerika Serikat dan Eropa seputar berbagai upaya mengatasi krisis ekonomi global.
Gedung Putih telah mendesak untuk mengeluarkan anggaran lebih besar oleh negara-negara anggota G20, sementara beberapa negara Eropa membantah bahwa langkah-langkah pembiayaan telah berjalan dan bahwa seharusnya fokus pada perbaikan regulasi guna mencegah lebih banyak pengambilan risiko.
Presiden Amerika Serikat Barack Obama, Rabu lalu, menyerukan untuk mengambil persetujuan bersama dalam setiap pengambilan langkah global guna mendorong ekonomi, serta perbaikan semua yang terkait peraturan.
Ekonomi Jepang yang tergantung ekspor sangat terpukul dengan resesi ekonomi global yang menyebabkan permintaan untuk barang-barang negara itu menurun.
Ekonomi Jepang tahunan mengalami pelemahan 12,1 persen pada kuartal IV-2008, sedikit lebih kecil ketimbang kuartal pertama tetapi tetap merupakan kinerja buruknya dalam hampir 35 tahun, kata pemerintah, Kamis.
Kelompok G-20 meliputi negara-negara anggota Kelompok 7 (G-7): Inggris, Kanada, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Amerika Serikat, plus Uni Eropa serta negara sedang tumbuh termasuk China, Brasil, India, Korea Selatan, dan Indonesia.