Para pelaku diduga mengenal baik korban dan keluarganya. Demikian disampaikan kedua orangtua korban yang ditemui di rumahnya di Jalan Pancoran Timur IIE Nomor 10 RT 09 RW 04, Kelurahan Cikoko, Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat sore kemarin.
Kedua orangtua tersebut adalah HM Yusuf (53) dan Siti Aini (52). Siti beberapa kali pingsan ketika mengingat nasib anaknya. Karena tidak tega menjelaskan kronologi kejadian, Siti akhirnya memilih masuk kamar.
Yusuf menjelaskan, awalnya, Rabu siang, Fajar meminta uang sebanyak Rp 1 juta kepada kedua orangtuanya. Katanya uang itu akan digunakan sebagai modal untuk membuka tambak.
Yusuf lalu berkata kepada Fajar untuk menjual telepon genggam ibunya. Siti lalu menyerahkan telepon genggam tersebut kepada anaknya dan setelah itu Fajar pergi.
Tak berapa lama, kakak Fajar yang bernama Iqbaluddin menerima telepon dari telepon genggam milik ibunya. Iqbaluddin mendengar dari telepon tersebut suara Fajar meminta tolong, serta mengaku kedua tangan dan kakinya diikat. Setelah itu, telepon genggam di seberang dimatikan.
Iqbaluddin lalu menerima layanan pesan singkat (SMS) yang berbunyi: ”Saya serius. Kalau Anda macam-macam, besok saya kirim kepala Ryan ke rumah”. Mendengar ancaman keji itu, Iqbaluddin melaporkan kasus penculikan adiknya ke Polda Metro Jaya, Kamis (12/3).
Yusuf mengatakan, belakangan Fajar menyampaikan niatnya akan membuka usaha tambak bersama seorang kawannya bernama Edy yang tinggal di Kampung Melayu. Anehnya, saat diminta Yusuf dan kakak-kakaknya agar Edy datang ke rumah untuk membicarakan rencana membuka usaha tambak tersebut, Edy tidak mau.
Sampai akhirnya Fajar minta uang Rp 1 juta kepada kedua orangtuanya. ”Jadi, sampai sekarang kami belum pernah ketemu yang namanya Edy. Dengar suaranya saja belum pernah,” kata Yusuf.
Ia mengatakan, lewat telepon genggam Siti, si penculik menghubungi Iqbaluddin dan menuntut uang tebusan jutaan rupiah. ”Si penculik bilang, katanya uang tebusan tersebut untuk membiayai kelahiran istri si penculik. Sebagian akan dibagikan kawan-kawan penculik,” ujar Yusuf.
Kamis malam, Iqbaluddin dan seorang pria pergi ke Pasar Senen. Keduanya hendak menyerahkan sepeda motor beserta buku pemilikan kendaraan bermotor (BPKB) seperti diminta penculik. ”Maklum, kami tidak punya uang untuk menebus Ryan. Ya sudah, saya serahkan saja sepeda motor dan BPKB-nya untuk menebus Ryan,” kata Yusuf.
Sampai di lokasi, Iqbaluddin menerima telepon dari penculik yang mengatakan bahwa Iqbaluddin berbohong sebab ia tidak datang bersama ayahnya.
Sepeda motor yang dibawa pun bukan sepeda motor bebek Honda Supra Fit bernomor polisi B-XXXX-FA. Usaha menebus Ryan pun Kamis malam itu gagal.
”Dari sini saya menduga, si penculik dan kelompoknya tahu tentang keluarga kami,” ucap Yusuf.
Jumat pukul 02.42, lanjut Yusuf, si penculik mengirim SMS yang bunyinya, ”Jujur, sebenarnya gue