JAKARTA, KOMPAS.com — Meskipun operasi ketertiban lalu lintas kerap digelar dan spanduk imbauan polisi tentang isu yang sama banyak terpampang di pinggir jalan, tetap saja sopir angkutan berulah seenaknya. Hasilnya mudah diterka, ya, kemacetan lalu lintas.
Sopir hanya bisa tertib kalau polisi ada di lokasi rawan macet. Itu pun masih membutuhkan perhatian khusus dan teguran langsung. Kesaksian ini yang disampaikan Bintara Asep, salah satu polisi lalu lintas yang sedang bertugas di simpang UKI, Jakarta, Minggu (15/3) siang.
Tak heran jika Asep mengaku sering kesal dengan perilaku para sopir tersebut. Ia mengatakan, untuk menertibkan para sopir, tidak cukup hanya dengan menegur dan menilang. "Kita polisi sudah sering menilang para sopir tersebut, bahkan kadang SIM, STNK, dan KIR mereka sudah kita sita semua, tapi tetap saja mereka ngetem," ujar Asep.
Ia juga mengatakan, jika dalam bertugas lengah sedikit saja, pasti kendaraan itu akan berhenti lagi. Karenanya, polisi terpaksa harus menggiring angkutan umum itu sampai meninggalkan lokasi ngetem.
Sementara itu, salah satu sopir angkot 461 jurusan Pasar Rebo-Pondok Gede yang menolak disebutkan namanya, mengaku dirinya sering ditilang polisi. Bahkan ketika operasi beberapa hari lalu, ia dua kali ditilang. SIM dan STNK-nya pun ditahan. Namun, meskipun begitu ia mengaku tak kapok untuk terus ngetem. "Ya, mau gimana lagi Mas? Nyari penumpang yang rame di sini," kata dia singkat.
Ketika disinggung soal "damai" dengan polisi. Ia hanya tertawa sambil menjawab, "Ya, Mas tahu sendirilah."
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang