Rumah itu berada di kawasan Jalan Cilandak, Jakarta Selatan, tak jauh dari pusat perbelanjaan Cilandak Town Square alias Citos. Ada dua palem raja tinggi menjulang di depan pagar. Bangunan terdiri dari dua lantai seluas 400-an meter persegi itu dibangun di atas lahan 235 meter persegi.
Bagaimana Robby berekspresi dengan rumahnya? Bangunan itu bergaya etnis-modern. Etnis, dalam arti interior banyak memanfaatkan perabotan Nusantara. Modern, karena bentuk dan ruang ditata secara simpel dan mengacu pada kebutuhan praktis. ”Barang-barang etnis itu sangat Indonesia dan eksotis, tetapi semua ditata dalam bangunan modern agar lebih nyaman, fungsional, terbuka, dan tidak neko-neko,” kata lelaki ramah itu.
Semangat etnis-modern mewakili jiwa Robby yang mencintai keindahan dalam kemasan simpel. Saat ngobrol dengan kami, Selasa (17/3) siang, spirit itu juga tecermin dari pilihan busananya: kaus hitam berkerah putung yang dipadu sarung kain etnis. Rambutnya diikat ke belakang.
Gaya etnis-modern mengental sejak kami tiba di teras. Kolam kecil, tanaman air, pohon kamboja, kursi becak kayu tua, dan lantai kayu yang ditata bersahaja dalam teras mungil itu menebarkan keteduhan. Suasana ini selaras dengan pintu rumah dan jendela kayu tua yang besar.
Masuk ke dalam, ada ruang tamu yang lapang, tanpa sekat. Beberapa setel meja-kursi etnik, meja panjang, lesung tua, amben dari Bali, terakota, dan topeng ditaruh ala kadarnya. Sebagian perabot ditutupi kain tenun tradisional. Dengan lantai keramik warna terakota dan dinding tembok kamprot berwarna krem, seluruh ruang tamu itu memendarkan rasa akrab.
Di tengah rasa itu, menyembul nuansa spiritual dari patung Buddha, patung Kristus, dan topeng hitam tradisional yang juga ditaruh di ruang tamu. Salah satu dinding dihiasi lukisan besar bernuansa sufistik yang menggambarkan tiga sosok manusia. Di bawahnya, tertera tiga lafadz Arab: ruh, qalbu, nafsu.
”Itu mengingatkan saya untuk menjaga harmoni antara jiwa, hati, dan nafsu,” tutur Robby seraya menunjuk karya Zanti Alexandria, pelukis asal Skotlandia yang tinggal di Bali.
Pada ujung ruang tamu, ada tangga kayu menuju lantai dua. Lantai ini dibagi menjadi beberapa ruang untuk kamar tidur utama, kamar mandi, dapur, dan ruang serba guna. Di sini ekspresi pribadi Robby terasa lebih kental.
Kamar tidur, misalnya, cukup besar, sekitar 7 x 4 meter. Lantainya kayu. Salah satu dinding dipasangi tiga jendela besar. Sisi kamar yang agak menjorok ke samping dimanfaatkan untuk ruang kerja—lengkap dengan meja, komputer, dan rak buku.
”Saya ingin kamar tidur yang lega. Mungkin itu balas dendam pada pengalaman dulu waktu saya mengontrak di kamar sempit,” kata Robby.
Ruang itu terhubung ke kamar mandi yang unik. Hampir seluruh dinding kamar ini ditempeli batu hitam keabu-abuan. Lantainya ditebari batu hitam bulat-bulat. Ada tangga bambu dari Bali untuk menaruh handuk.
Di pojok, dibuat ruangan bersekat kaca untuk mandi. Pancurannya dari batang bambu. ”Ini mengingatkan pada pengalaman saya mandi dalam suasana alam segar di pancuran di Buleleng, Bali,” ujarnya.
Salah satu dinding kamar mandi menyatu dengan bukaan di bagian belakang bangunan yang menembus dari lantai satu sampai lantai dua. Bagian atas ruang terbuka itu berukuran sekitar 2 x 5 meter itu hanya ditutup jeruji besi. Dari situ, sirkulasi udara dari luar keluar-masuk dengan bebas.
Di salah satu dindingnya dia letakkan tiga pohon di pot. ”Sudah lima kali pohon-pohon itu dipakai burung kecil berbulu kuning bersarang. Saya lihat mereka bawa ranting untuk bikin sarang, lalu ada induknya yang menyuapi anak-anak burung. Jadi, sambil duduk di kloset saya melihat kegiatan mereka,” kata Robby.
Apa yang diinginkan Robby dengan menata rumahnya seperti itu? Dia mengaku, rumah itu dibuat untuk menciptakan suasana yang berbeda dengan rutinitas kerja di film, sinetron, presenter, atau merancang busana. Ketika pulang, dia berharap, rumah itu bisa melepaskan kepenatan dari berbagai kesibukan. ”Rumah ini memberi energi baru. Di sini saya menjadi diri sendiri yang jujur, apa adanya.”
Bagi Robby, rumah itu adalah rumah keberuntungan. Bangunan tersebut dibeli tahun 1996 dengan harga lumayan bagus. Lokasi di selatan Jakarta masih punya lingkungan cukup asri dengan akses ke sana-sini relatif mudah.
Sayang, pada masa awal, rumah berlantai rata dengan jalan itu pernah dilewati banjir. Meski tak menggenang dalam rumah, tetapi air limpasan itu merepotkan. Tahun 2002 Robby meninggikan dan merombak bangunan itu dengan bantuan arsitek Lukman Niode.
Di tengah jalan, ternyata dia kehabisan tabungan. ”Saya tidak bisa tidur tiga bulan. Saya berdoa, ya Tuhan berilah hamba pertolongan.”
Pertolongan datang. Dia dapat peran untuk dua sinetron dan presenter kuis di televisi. Dari hasil jerih payah itu, renovasi berjalan lagi sampai rampung tahun 2003. Sebagai ungkapan syukur, tahun itu juga, digelar pergelaran busana di rumahnya.
Di luar pergelaran, rumah itu juga kerap digunakan untuk acara keluarga, kebaktian, penyuluhan, atau sekadar kumpul- kumpul warga sekitar. ”Kadang, orang-orang kumpul di sini, sementara saya lagi shooting di luar,” kata Robby. (ninuk mardiana