JOHANNESBURG, KOMPAS.com - Pemimpin sprituil Tibet di pengasingan Dalai Lama dilarang memasuki wilayah Afrika Selatan hingga berakhirnya penyelenggaraan Piala Dunia 2010. Langkah itu ditempuh oleh Afrika Selatan guna menghindari ketegangan hubungan dengan China yang selama ini dikenal dengan kasus pelanggaran HAM di Tibet dan menentang upaya wilayah ini memerdekakan diri.
Sebuah konferensi perdamaian yang dijadwalkan berlangsung Jumat (27/3) di Johannesburg telah ditunda untuk waktu yang belum diketahui karena Pemerintah Afrika Selatan melarang kehadiran salah satu pesertanya, Dalai Lama, yang terlibat konflik dengan China. Pemerintah Tibet di pengasingan menjelaskan sikap Afrika Selatan itu dibayangi oleh tekanan dari China tetapi masalah ini disangkal oleh Afrika Selatan.
Afrika Selatan adalah mitra dagang terbesar China. Total ekspor China ke kawasan Afrika tahun lalu meningkat 36,3 persen dibandingkan pada 2007 menjadi 50,8 miliar dollar AS. Sementara impor komoditas Afrika ke China meningkat 54 persen menjadi 56 miliar dollar AS.
"Tidak, kami tak akan mengijinkannya," kata juru bicara Presiden Afrika Selatan Kgalema Motlanthe, Thabo Masese, saat ditanya oleh beberapa wartawan apakah Dalai Lama akan mendapatkan visa sebelum Piala Dunia 2010. Thabo Masese menerangkan Afrika Selatan tidak ingin terganggu konsentrasinya untuk mempersiapkan pesta olahraga internasional itu akibat terlibat konflik dengan China apabila sampai memberikan visa ke Dalai Lama.
Dilarangnya peraih Nobel perdamaian itu menghadiri konferensi perdamaian di Johannesburg mengakibatkan peraih Nobel perdamaian lainnya, Uskup Desmond Tutu, menarik diri dari keputusan hadir pada konferensi itu. Konferensi yang juga mengundang sejumlah selebritis Hollywood dan negarawan dari beberapa negara itu ditujukan untuk menekankan peran sepakbola dalam mempromosikan perdamaian.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang