NAIROBI, KOMPAS.com - Perompak Somalia membajak sebuah kapal pesiar dari Seychelles yang membawa dua orang, kata seorang pejabat maritim, Rabu (25/3).
Kapal itu meninggalkan Seychelles pada Februari dalam perjalanan ke Madagaskar namun hilang tak lama kemudian, kata Andrew Mwangura dari Program Bantuan Pelaut Afrika Timur. Ia menyebut kedua orang di kapal itu sebagai Gilbert Victor dan Andre Conrad, keduanya berasal dari Seychelles.
"Kapal yang bernasib buruk itu kini berada dalam penjagaan ketat, berlabuh di dekat Garacad, Somalia," katanya.
Pembajakan oleh perompak Somalia menurun pada 2009 setelah angkatan laut internasional mulai melakukan patroli di kawasan perairan yang ramai di Teluk Aden.
Tahun lalu perompak telah membuat kawasan Teluk, yang menghubungkan Eropa dengan Asia dan Timur Tengah melalui Terusan Suez, menjadi tempat pelayaran paling berbahaya di dunia. Puluhan kapal dibajak dan puluhan juta dollar AS dibayar sebagai tebusan bagi pembebasan sejumlah kapal.
Perompak memperluas serangan-serangan mereka, dan pembajakan kapal Seychelles itu tampaknya merupakan serangan jarak jauh.
Beberapa ahli keamanan mengatakan, meski operasi-operasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Uni Eropa (EU) untuk sementara bisa menangkal aksi perompak dan menjamin jalur aman bagi pelayaran kapal, masalah pembajakan yang telah membuat beaya asuransi melonjak itu tidak akan terpecahkan sampai aturan hukum ditegakkan lagi di Somalia.
Somalia dilanda pergolakan kekuasaan dan anarkisme sejak panglima-panglima perang menggulingkan diktator militer Mohamed Siad Barre pada 1991. Selain penculikan, kekerasan mematikan dan perompakan melanda negara tersebut.
Perompak Somalia sepanjang tahun ini menahan empat kapal setelah tahun lalu membajak 42 kapal di Teluk Aden yang ramai dan jalur pelayaran Lautan Hindia.
Perairan di lepas pantai Somalia merupakan tempat paling rawan pembajakan di dunia, dan Biro Maritim Internasional melaporkan 24 serangan di kawasan itu antara April dan Juni tahun lalu saja.
EU telah memulai operasi keamanan di lepas pantai Somalia, sebelah utara Kenya, untuk memerangi aksi perompakan yang meningkat dan melindungi kapal-kapal yang mengangkut bantuan kemanusiaan. Itu merupakan misi laut pertama EU.
NATO juga telah mengirim sejumlah kapal untuk mengawal kapal-kapal Badan Pangan Dunia PBB yang mengangkut bantuan makanan ke pelabuhan-pelabuhan Somalia.
Perompak, yang dikepung oleh kapal-kapal perang internasional, sebelumnya mengancam akan meledakkan kapal Ukraina pengangkut senjata yang dibajak jika mereka tidak menerima uang tebusan yang dituntut sebesar 20 juta dollar AS.
Namun, batas waktu yang mereka tetapkan telah berlalu tanpa insiden. Kapal Ukraina itu dibebaskan pada 5 Februari setelah pembayaran uang tebusan 3,2 juta dollar AS.
Dewan Keamanan PBB telah menyetujui operasi penyerbuan di wilayah perairan Somalia untuk memerangi perompakan, namun kapal-kapal perang yang berpatroli di daerah itu tidak berbuat banyak, menurut Menteri Perikananan Puntland Ahmed Saed Ali Nur.
Pemerintah transisi lemah Somalia, yang saat ini menghadapi pemberontakan berdarah, tidak mampu menghentikan aksi perompak yang membajak kapal-kapal dan menuntut uang tebusan bagi pembebasan kapal-kapal itu dan awak mereka.
Perompak, yang bersenjatakan granat roket dan senapan otomatis, menggunakan kapal-kapal cepat untuk memburu sasaran mereka.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang