Mobil baru

Mobil Termurah di Dunia Diluncurkan

Kompas.com - 27/03/2009, 03:47 WIB

Perusahaan pembuat mobil asal India, Tata Motors, pekan lalu di Mumbai, India, meluncurkan mobil termurah di dunia, Tata Nano, yang dijual dengan harga 100.000 rupee (2.000 dollar AS) atau sekitar Rp 23 juta untuk varian standarnya.

Bos perusahaan itu, Ratan Tata, mengatakan, mobil mungil yang berukuran panjang 3,1 meter, lebar 1,5, dan tinggi 1,6 meter itu akan membuat warga kelas menengah perkotaan meninggalkan sepeda motor dan beralih ke mobil dengan harga yang terjangkau yang tentunya lebih aman.

”Saya berpikir kita berada di gerbang untuk menawarkan bentuk transportasi baru kepada rakyat India dan kemudian, saya berharap, juga kepada pasar-pasar lain di dunia,” kata Ratan Tata, seraya menggambarkan bahwa peluncuran mobil termurah di dunia itu sebagai peristiwa yang sangat penting.

Pemesanan dibuka pada tanggal 9-25 April 2009 dan akan diadakan pemilihan untuk menentukan 100.000 orang pertama yang akan menerima kunci Tata Nano. Penyerahan kunci akan dilakukan pada awal Juli 2009.

Tata Nano menyandang mesin berkapasitas 624 cc, 2 silinder, (ditempatkan di belakang), menggunakan persneling manual dengan 4 tingkat kecepatan, dan kecepatan maksimumnya 105 km per jam. Dalam keadaan standar, mobil itu tidak memiliki penyejuk udara (AC), jendela dinaikturunkan secara manual (dengan putaran tangan), tidak menggunakan power steering, dan tidak dilengkapi dengan bantalan udara (airbag). Itu tentunya untuk menjaga agar harga jual mobil tetap murah.

Mobil berpintu empat dan dapat memuat lima orang itu hanya menghabiskan bensin 5 liter untuk menempuh perjalanan sejauh 100 kilometer, atau 1 liter untuk melakukan perjalanan sejauh 20 kilometer. Pada saat ini, mobil dapat disebut hemat dalam mengonsumsi bahan bakar, jika 1 liter bahan bakarnya dapat digunakan untuk menempuh perjalanan sejauh 12 kilometer.

Tata Nano pertama kali muncul di depan umum pada India Motor Show di New Delhi, India, awal Januari 2008. Saat itu, disebutkan bahwa mobil tersebut akan dijual dengan harga 2.500 dollar AS.

Ratan Tata mengemukakan, para insinyur dan desainer Tata Motors memerlukan waktu empat tahun untuk membuat mobil termurah di dunia itu akhirnya terwujud. ”Pada saat ini kami memiliki mobil rakyat dalam arti yang sebenarnya. Harga mobil itu terjangkau serta dibuat untuk memenuhi persyaratan standar keamanan (safety) dan emisi (gas buang). Selain ramah lingkungan, mobil itu juga hemat bahan bakar,” ujarnya.

Murah kok mau aman

Ratan Tata boleh saja mengatakan, mobil itu dibuat untuk memenuhi persyaratan standar keamanan. Namun, dalam kenyataannya, Tata Nano ditolak kehadirannya di Amerika Serikat karena tidak memenuhi persyaratan standar keamanan Amerika Serikat. Itu sebabnya, saat ini, Tata Motors tengah membawa kembali desain Tata Nano ke meja gambar untuk didesain ulang agar dapat memenuhi persyaratan standar keamanan Amerika Serikat.

Awal bulan ini, Tata Motors juga memperkenalkan Tata Nano untuk pasar Eropa yang dilengkapi dengan bantalan udara dan menggunakan pelapis kulit pada sisi-sisi tertentu interior. Mobil ini baru akan dipasarkan pada tahun 2011 dengan harga yang tentunya lebih mahal daripada yang dipasarkan di India mengingat adanya tambahan fitur-fitur ekstra.

Penolakan Tata Nano di pasar Amerika Serikat karena alasan keamanan, mengingatkan akan orang pada sebuah anekdot pada saat becak masih beredar di Jakarta. Kisahnya, bermula di Stasiun Kereta Api Gambir, Jakarta Pusat. Pada saat itu, seseorang yang baru saja tiba dari luar kota ingin naik becak ke arah Kemayoran.

Ketika ia bertanya berapa ongkosnya, tukang becak mengatakan, ”Tiga ribu rupiah.” (Pada masa itu, Rp 3.000 sudah dianggap mahal). Tukang becak itu sengaja meninggikan ongkosnya karena menganggap orang yang baru datang dari luar kota itu tidak tahu mengenai ongkos sebenarnya, yang biasanya hanya, Rp 1.000-Rp 1.500. Namun, ternyata tukang becak itu keliru karena orang itu sudah sering berkunjung ke Jakarta sehingga tahu persis mengenai ongkos yang sebenarnya. Orang itu langsung menawarnya menjadi Rp 1.500.

Setelah bolak-balik menawar, akhirnya si tukang becak mengalah dan cemberut berkata, ”Ya sudah… Rp 1.500 saja.” Ketika orang tersebut akan naik ke dalam becak, ia mengatakan, ”Hati-hati ya bang!” Lalu, dengan ketus ia berkata, ”Mau murah kok mau aman.”

Memang murah dan aman itu tidak pernah berjalan seiring!

Namun, bagaimanapun Tata Nano pada saat ini memang merupakan mobil yang paling murah di dunia. Para dealer mobil di India mengatakan, mereka telah dibanjiri dengan permintaan akan Tata Nano, tetapi pemunculan perdana mobil itu terpaksa ditunda menyusul protes keras warga masyarakat sekitar atas kepemilikan tanah di mana pabrik mobil mungil itu berlokasi.

Tata Motors terpaksa memindahkan produksi Tata Nano ke pabriknya yang baru di Gujarat di bagian barat India. Namun, pabrik itu baru akan siap berproduksi awal 2010, dengan kapasitas produksi 250.000-500.000 mobil. Akibatnya, Tata Nano juga harus diproduksi di pabrik-pabrik Tata Motors yang sudah ada untuk mengurangi panjangnya antrean mengingat ada beberapa konsumen yang harus menunggu lebih dari satu tahun.

Tata Motos yang telah membeli Jaguar dan Land Rover berharap Tata Nano dalam jangka panjang juga akan diserbu pembeli di luar negeri. Rajrndra Pachauri, Kepala Panel Iklim PBB, yang memperoleh hadiah Nobel tahun 2007, mengatakan, ”Setiap mobil yang turun ke jalan, hanya akan menambah kemacetan.” Namun, Tata Motors menanggapi dengan mengatakan, ”Kami bisa saja akan menambah kemacetan, tetapi kami jamin bahwa Tata Nano merupakan mobil yang tidak mencemari lingkungan.” (JL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau