Abhisit Didemo Lagi

Kompas.com - 27/03/2009, 05:29 WIB
 
 

BANGKOK, KAMIS - Lebih dari 20.000 pemrotes yang mengenakan kaus merah mengepung kantor Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva. Mereka menuntut pemerintah mundur dan menuduh pemberian dana tunai kepada rakyat sebagai upaya penyogokan.

 Para demonstran mulai beraksi tidak lama setelah pemerintahan Perdana Menteri Abhisit Vejjajiva mulai mengeluarkan dana sebesar 2.000 baht atau Rp 660.000 untuk jutaan rakyat Thailand dalam upaya mengatasi krisis ekonomi global.

Demonstran yang merupakan pengikut mantan PM Thaksin Shinawatra mengatakan pemerintahan Abhisit menduduki kekuasaan melalui cara ilegal dan menyerukan pengunduran dirinya dan pelaksanaan pemilihan umum baru.

”Apakah Abhisit berusaha membeli kita?” teriak salah seorang pemimpin kelompok pemrotes itu, Nattawut Sai-kua. ”Hal itu tidak akan terjadi, kami akan terus memprotes hingga pemerintahan yang tidak sah ini berakhir,” ujarnya lagi dengan berapi-api.

Mereka lebih dikenal dengan nama kelompok Kaus Merah karena merah merupakan warna favorit kelompok ini. Mereka merencanakan berdemonstrasi di Gedung Pemerintah setidaknya selama tiga hari, tetapi berjanji tidak akan memasuki kompleks perkantoran pemerintahan tersebut.

Aksi demonstrasi mereka secara umum berlangsung damai. Sekitar 10.000 polisi dan tentara dikerahkan ke lokasi protes.

Komandan Kepolisian Metropolitan Letnan Gen Worapong Chiwpreecha memperkirakan jumlah pemrotes lebih dari 20.000 orang.

Membantu bangsa

Skema pendanaan yang disebut ”membantu bangsa” menargetkan pembagian dana tunai kepada 9 juta orang yang berpenghasilan di bawah Rp 5.100.000 per bulan berupa cek.

”Hal yang sedang kita lakukan adalah mengatasi kesulitan ekonomi. Kami perlu menyalurkan dana itu secepatnya ke dalam sistem dan inilah cara tercepat,” ujar Abhisit setelah menyerahkan bantuan tunai sejumlah 18 miliar baht atau Rp 5,9 triliun yang merupakan bagian pertama dari dana bantuan tersebut.

Thailand pernah didera krisis ekonomi parah pada tahun 1997 ketika terjadi krisis finansial Asia. Negara perekonomian terbesar kedua di Asia Tenggara ini tumbuh 2,8 persen tahun 2008. Namun, karena krisis global, diperkirakan tahun ini ekonomi Thailand terkontraksi sebesar 2,5 persen. Ekspor negara ini sudah menurun selama empat bulan berturut-turut.

Toko-toko dan pusat perbelanjaan langsung menawarkan potongan harga, berharap agar para penerima bantuan tunai segera berbelanja. ”Cek Anda berharga 20 persen lebih tinggi jika dicairkan di toko kami. Kami berharap masyarakat segera membelanjakan dana tersebut karena terlalu sedikit untuk ditabung,” ujar Chamnan Metapreechakul, Direktur Marketing Senior pada Mall Group, salah satu operator mal terbesar di Thailand.

Chamnan mengatakan, banyak toko yang menawarkan satu paket barang bernilai 2.200 baht atau Rp 732.000 bagi orang yang tidak mau pusing membelanjakan dana tersebut.

Di toko makanan cepat saji Kentucky Fried Chicken, cek dapat ditukarkan dengan berbagai kupon makanan dengan gratis 20 potong ayam.

”Senang rasanya saya bisa belanja untuk menyelamatkan negara ini. Itu adalah konsep yang lucu," ujar Narisara Songsawang, seorang sekretaris berusia 36 tahun. Program bantuan tunai ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 0,2 persen. (AP/AFP/joe)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau