Rumah Caleg Dibakar, Pelaku Lolos

Kompas.com - 30/03/2009, 09:11 WIB

MEULABOH, KOMPAS.com — Kekerasan politik menjelang Pemilu 2009 di Aceh mulai mengarah ke calon anggota legislatif (caleg) perempuan. Rumah milik Cut Laila (29), caleg Partai Aceh (PA), di Desa Puuk, Kecamatan Kaway XVI, Aceh Barat, Sabtu (28/3) sekitar pukul 21.00 dibakar oleh dua orang tak dikenal (OTK).

Pelaku membakar rumah itu saat Cut Laila bertandang ke rumah tetangga, juga pada saat listrik PLN padam. Namun, kobaran api yang telanjur menyala dalam kegelapan malam berhasil dipadamkan warga karena cepat diketahui.

Warga yang berlarian ke rumah korban untuk memberikan pertolongan, bahkan sempat berkejaran dengan dua orang pelaku yang baru beraksi memantik api di rumah korban. Namun, kedua pelaku berhasil meloloskan diri dengan berlari kencang ke areal perkebunan di samping rumah korban.

Cut Laila yang ditanyai, Minggu (29/3), mengatakan, saat kejadian ia tak berada di rumah. “Saat itu saya sedang ke rumah tetangga untuk suatu keperluan,” ujar Cut, istri Mawardi, mantan Dandenpom Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Wilayah Meulaboh Raya.

Kini, sang suami tercatat sebagai anggota Komisi Peralihan Aceh (KPA), sedangkan Cut Laila mencalonkan diri sebagai caleg dari Partai Aceh. Menurut Cut, sebelum pembakaran rumahnya terjadi, beberapa hari lalu ia sempat melihat beberapa orang yang tak dia kenal mengintai rumahnya di pinggir jalan provinsi pada lintasan Meulaboh-Tutut. Bahkan pada Sabtu (28/3) pagi ia sempat melihat seorang pria mengenakan kain penutup wajah di kebun samping rumahnya dengan gerak-gerik mencurigakan.

Setelah dia coba dekati, orang itu langsung menghilang ke dalam semak belukar. Nmaun, beberapa saat kemudian terdengar deru sepeda motor dari arah kebun, pertanda pria bersebo tadi sudah kabur naik sepeda motor.

Ia menduga, pembakaran rumahnya pada Sabtu malam ada kaitannya dengan dipergokinya seorang pria di kebun dekat rumahnya pada Sabtu pagi. Cut menyesalkan kasus pembakaran rumahnya, apalagi itu terjadi di masa Aceh sudah damai dari konflik bersenjata.

Saat peristiwa itu terjadi, menurut Cut, suaminya yang aktif di KPA sedang berada di Banda Aceh untuk satu keperluan. Cut yakin pembakaran rumahnya oleh kedua pelaku bertutup muka itu dilakukan dengan sangat terencana, yakni pada saat suaminya berada di luar kota, juga pada saat dia bertandang ke rumah tetangga, dan ketika listrik PLN padam. “Jangan-jangan listrik padam itu pun ulah si pelaku,” cetus Cut Laila.

Cut juga menambahkan bahwa beberapa saat sebelum pembakaran itu terjadi, sejumlah warga sempat mendengar suara gemuruh truk yang suaranya beda dengan truk lainnya, berhenti mendadak di sekitar rumah Cut. Namun, warga tak menghiraukan sampai kemudian terjadi insiden pembakaran tersebut.

Kendati demikian, Cut masih merasa bernasib mujur karena pembakaran rumahnya cepat diketahui warga dan 30 menit kemudian berhasil dipadamkan. Kerugian material pun tidak seberapa. Meski sebagian besar harta benda korban berhasil diselamatkan, tetapi Cut mengaku trauma atas kejadian itu.

Ia yakin perbuatan itu sengaja dilakukan pihak-pihak tertentu yang tidak senang padanya sebagai caleg dari Partai Aceh untuk daerah pemilihan (dapil) II. Kasus ini telah dilaporkan Cut kepada aparat keamanan setempat. Namun, menurut Cut, hingga kemarin pihak penegak hukum belum datang ke kediamannya untuk melakukan penyelidikan terhadap insiden pembakaran tersebut.

Sementara Kapolres Aceh Barat AKBP Linggo Wijanarko melalui Kasat Reskrim AKP Deni Saputra SH membenarkan telah terjadi pembakaran rumah milik seorang caleg PA di Desa Puuk, Kecamatan Kaway XVI. Namun, hingga kini pihaknya belum tahu secara pasti motif dari kasus tersebut.

“Kasus ini masih diselidiki oleh tim di lapangan. Saya belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut, karena masih menunggu laporan dari tim di lapangan,” jelasnya.

Menurut Deni, pihaknya juga tak bisa menyimpulkan apakah pembakaran rumah Cut Laila itu ada kaitannya dengan unsur politik atau tidak. Ia berjanji, kalau nanti telah ada titik terang terhadap kasus ini, maka akan dipublikasikan. (DI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau