JAKARTA, KOMPAS.com — Berbeda dengan saat siang dan malam hari, pada pagi hari bantuan makanan siap saji seperti nasi bungkus atau makanan siap santap di Posko-posko korban bencana jebolnya tanggul Situ Gintung sangat minim.
Seperti yang terjadi pada Selasa (31/3) pagi ini. Beberapa pengungsi yang datang ke Posko Utama di Fakultas Hukum UMJ harus kembali ke tempat pengungsian tanpa membawa makanan untuk makan pagi. Latifah, salah salah seorang relawan bagian logistik, menerangkan, sejak hari pertama bencana (28/3), pada pagi hari bantuan makanan memang sangat kurang. "Biasanya nasi bungkus baru datang siang hari, jadinya kalau pagi banyak yang lapar," kata Latifah kepada Kompas.com.
Tim SAR yang melakukan proses evakuasi pada pagi hari juga harus bertugas dengan perut kosong. Hal ini membuat relawan di bagian logistik berulang kali menghubungi donatur yang berjanji akan mengirimkan makanan pagi. "Tadi saya menelepon BNI ( Bank Negara Indonesia) agar bantuan nasi yang siang hari juga dikirim pagi ini. Habis kondisinya cukup mendesak," kata Latifah.
Latifah juga menelepon salah satu partai yang menyanggupi memberikan makan pagi bagi para pengungsi dan tim SAR. Kebutuhan mendesak lainnya yang diperlukan para pengungsi dan tim SAR adalah masker, sarung tangan latex dan wol, alkohol, antitetanus, sepatu bot, minyak goreng, makanan sarden, kasur, bantal, gula, susu, dan sandal jepit.
Untuk kebutuhan bayi berupa dot, bantal, selimut, minyak telon, vitamin bayi, dan gendongan bayi juga masih kurang. Anak-anak pengungsi membutuhkan perlengkapan sekolah, seperti alat tulis, seragam sekolah, sepatu, tas, dan buku-buku pelajaran.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang