Pengungsi Situ Gintung Lebih Pilih Artis Ketimbang Wapres!

Kompas.com - 01/04/2009, 12:26 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sejak tragedi memilukan yang merenggut ratusan korban jiwa di situ Gintung, Jumat lalu, sudah berkali-kali pejabat pemerintahan mengunjungi daerah bencana ini. Bahkan, Wakil Presiden Jusuf Kalla pun tercatat telah dua kali datang ke sini. Belum lagi Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah pun datang melihat penduduknya.

Namun, siapa sangka kedatangan Wapres dan Gubernur Banten tersebut ternyata tidak dirasakan manfaatnya oleh para pengungsi. "Wapres datang hanya untuk politik saja, cuma lihat ke posko partainya. Dia (wapres) cuma keliling di bawah apa susahnya sih naik ke lantai dua," ujar Erwin.

Erwin juga mengungkapkan, ia hanya menginginkan Wapres menengok mereka. "Cuma pengen ketemu dan salaman, enggak usah dibawain apa-apa. Apa susahnya sih? Apa dia takut kotor?" ungkap Erwin sengit.

Berbeda dengan dua pengungsi lain yang mengetahui kedatangan Wapres, Ti'oh (56) justru tidak mengetahuinya. "Saya malahan enggak tau ada wapres, baru pas dia pulang teman-teman lain pada bilang," kata Ti'oh.

Menurut para pengungsi, pejabat-pejabat yang datang tidak mengunjungi mereka langsung, melainkan hanya berkeliling di daerah seputar bencana. "Mendingan artis-artis, mereka menghibur kita. Ngobrol-ngobrol, nyanyi-nyanyi bareng," terang Iwan.

Iwan juga bercerita, Pasha Ungu bahkan meminta maaf karena belum sempat datang ke pengungsian. "Jane Shalimar menelepon, Pasha ditelepon, lalu Pasha minta maaf karena belum bisa datang. Lalu sempat bernyanyi sebentar," kata Iwan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau