Trauma Hantui Anak-anak Korban Situ Gintung

Kompas.com - 01/04/2009, 16:41 WIB

TANGERANG, KOMPAS.com — Sejumlah anak korban tragedi Situ Gintung, Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten, mengalami trauma pasca-persitiwa yang merenggut nyawa puluhan jiwa dan menghancurkan permukiman penduduk.

"Anak saya mengalami trauma atas peristiwa Situ Gintung karena dia melihat banyak mayat bergelimpangan," kata Ny Suhini (43) di Ciputat, Senin (30/3) malam.

Dia mengatakan, anaknya, Anisa Salsabilla Putri (5), susah makan nasi dan tidak mau sekolah. Padahal, sikap tersebut tidak dirasakan sebelum peristiwa Situ Gintung.

Menurut istri dari Totok SS Putra (45), warga RT 02/02, Kelurahan Cirendeu yang letaknya hanya sekitar 200 meter dari lokasi kejadian itu, anaknya masih sekolah di taman kanak-kanak. Dia juga tidak mau lagi diajak ke sekolah.

Dia mengatakan, bila malam tiba, anaknya sering berteriak dan kadang histeris sembari menyebut sejumlah nama rekan lain yang masih hilang.

Anisa merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Meski lokasi rumahnya tidak terkena bencana air bah akibat jebolnya tanggul Situ Gintung, tetapi ketika musibah itu datang, dia bersama ayahnya melihat kejadian tersebut.

Masalah trauma itu juga dialami Rama Julian (7), murid kelas II SD Negeri Gintung II Kelurahan Cirendeu, Ciputat. Ia tidak mau sekolah meski sudah dibujuk kedua orangtuanya.

Rama Julian merupakan anak pasangan dari Arsih (37) dan Aris Budi Kartika (40) yang selamat dari musibah. Dia juga melihat peristiwa air bah menghantam rumah tetangganya.

Ketika ditemui, Julian ditemani ibunya meminta bantuan peralatan sekolah berupa tas, pensil, maupun buku yang disumbang donatur melalui posko kejadian Situ Gintung di STIE Ahmad Dahlan.

Arsih mengatakan, dirinya berupaya untuk membujuk anaknya agar mau sekolah, tetapi tetap ditolak tanpa alasan yang jelas.

"Saya tidak dapat memaksa anak untuk sekolah karena dia melihat ada rekannya, Indah (8), yang tewas dihantam air bah," katanya.

Namun, Arsih selamat dari bencana karena letak rumahnya lebih tinggi sehingga air bah tidak menerjang permukiman lainnya yang lokasinya berdekatan.

Walau begitu, Arsih berupaya untuk merayu anaknya dengan berbagai cara dan jika masih tetap tidak sekolah akan mengajak untuk rekreasi ke obyek wisata lainnya.

Situ Gintung sebelum terkena bencana merupakan obyek wisata bahari yang diminati warga setempat. Ketika tanggul jebol, Jumat (27/3), akibat curah hujan tinggi, maka sebanyak 99 korban meninggal dan 135 orang hilang.  

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau