Rombongan Pengantar Jenazah Dikira Pawai Golkar

Kompas.com - 02/04/2009, 14:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Musim kampanye terbuka kadang membuat sebagian pengendara kendaraan bermotor, baik mobil atau motor, terpaksa berhenti di tengah jalan ketika arak-arakan massa peserta kampanye lewat.

Kebiasaan ini pula yang membuat beberapa pengendara mobil dan motor memutuskan untuk menepi setelah melihat beberapa pengendara motor mengibar-ngibarkan bendera kuning yang meminta semua kendaraan lain berhenti. Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 10.00 dekat underpass Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis (1/4).

Wartawan Persda yang kebetulan juga berada di tempat itu memutuskan berhenti, menunggu beberapa sepeda motor yang membawa bendera kuning lewat lebih dulu.

Setelah beberapa pengendara sepeda motor pembawa bendera kuning lewat, dua mobil jenis Kijang dan sebuah sedan hitam dengan lampu depan menyala, tetapi tanpa bendera kuning menyusul kemudian.

Nah, yang membuat sedikit geli adalah di belakangnya terdapat sebuah mobil putih bertuliskan "Mobil Jenazah" dengan sirene meraung-raung, lewat persis di depan para pengendara motor yang menepi.

"Kirain (kampanye) Golkar (yang lewat)," kata salah seorang pengendara sambil menoleh ke arah temannya.

Sepertinya, ia mengira pembawa bendera kuning yang mendahului mobil pembawa jenazah adalah pembuka jalan bagi arak-arakan peserta kampanye Golkar. Memang dari jauh mobil jenazah belum terlihat karena jaraknya dengan pembawa bendera kuning agak berjauhan sehingga tak ada tanda-tanda yang akan lewat adalah mobil jenazah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau