Melukis Mural Bagian dari Pendidikan Politik

Kompas.com - 02/04/2009, 23:45 WIB

BENGKULU, KOMPAS.COM--Lomba melukis mural (melukis di dinding atau tembok) dengan tema "Melukis Demokrasi" merupakan bagian dari pendidikan politik khususnya bagi pemilih pemula, kata asisten III Pemerintah Kota (Pemkot) Bengkulu, Hilman Fuadi, Kamis.

"Kegiatan ini adalah manifestasi dari pendidikan politik yang dituangkan dalam seni lukis mural, dan saya sangat mendukung acara semacam ini," katanya.

Menurut dia, acara-acara seni yang mengarah pada pendidikan politik ataupun sebagai wadah mengasah kreatifitas siswa di Kota Bengkulu saat ini masih sangat kurang.

Selain bermakna pendidikan politik, lomba melukis mural juga dianggap sebagai lomba yang mendukung tiga program pemerintah Kota Bengkulu saat ini yang menekankan pada bidang pendidikan, ekonomi kerakyatan dan kesehatan.

"Lomba melukis bertema demokrasi ini termasuk dalam bidang pendidikan yaitu pendidikan politik bagi pemilih pemula," katanya.

Untuk itu, Pemkot Bengkulu sangat mendukung acara yang diselenggarkan oleh organisasi KAMMI sebagai organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan.

Sementara itu, sekretaris Umum KAMMI daerah Bengkulu, Haris Sugara, mengakui lomba melukis mural dengan tema demokrasi ini merupakan yang pertama kalinya di selenggarakan oleh KAMMI daerah Bengkulu.

"Ini adalah program KAMMI pusat bekerjasama dengan Departeman dalam Negeri (Depdagri) dan KAMMI daerah hanya sebagai kepanjangan tangan dari pusat," ujarnya.

Menurut dia, selain di Bengkulu kegiatan yang sama juga diselenggarakan  KAMMI pada 21 provinsi lainnya. Ini merupakan bentuk kepercayaan dari pemerintah terhadap organisasi tersebut dalam rangka menyukseskan Pemilu 2009.

Dia juga menambahkan, biaya untuk menyelengarkana lomba lukis mural itu semuanya berasal KAMMI pusat dan Depdagri. KAMMI Daerah Bengkulu hanya sebagai penyelenggaran.

Di tempat terpisah, Jujun, juri lomba melukir mural, ketika ditemuai di SMA Muhammadiyah IV mengakui siswa yang mengikuti lomba cukup kreatif terlihat dari tema yang disampaikan dalam lukisan yang sangat mengena dengan pesta demokrasi.

"Semuanya bebas menekspresikan diri mengenai pemahaman pemilu, dan kita lihat pemahaman mengenai pesta demokrasi cukup tinggi," ujarnya.

Sementara itu, Natalian, salah seorang peserta lomba lukis yang sedang sibuk mengoleskan kuas di tembok seluas 1x1,5 meeter itu mengaku akan melukis kesibukan dan suasa di Tempat Pemungutan Suara (TPS).

"Tim saya akan membuat suasana TPS dan ekspresi pemilih saat melihat kertas suara yang cukup lebar," ujarnya.

Lomba melukis mural tersebut diikuti oleh empat sekolah seingkat SMA/sederajat yang terbagi atas delapan tim.

Sekolah tersebut antara lain, SMA Negeri II Kota Bengkulu, SMA  Muhammadiya IV, SMK Negeri IV Kota Bengkulu dan SMA Negeri VI Kota Bengkulu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau