Mahasiswa Berencana Bentuk Pemburu Money Politic

Kompas.com - 03/04/2009, 20:08 WIB

YOGYAKARTA, KOMPAS — Mahasiswa di Yogyakarta berencana membentuk gugus relawan pemburu pelaku money politic dalam pemilu legislatif yang tinggal lima hari lagi. Hal itu disampaikan Koordinator Gerakan Rakyat Peduli Demokrasi, Sujatmiko, di sela-sela unjuk rasa di bundaran Kampus Universitas Gadjah Mada, Jumat (3/4).

"Kami menuntut kepada polisi, panitia pengawas pemilu, dan pihal lainnya untuk membuat tindakan preventif dan progresif yakni menangkal money politic sekaligus melakukan proses hukum. Setelah itu, kami akan membentuk gugus relawan pemburu money politic," ujar Sujatmiko.

Unjuk rasa menolak money politic atau politik uang diikuti 13 organisasi, di antaranya Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) DIY, Lembaga Kajian Isu-Isu Strategis dan Kawasan (LISAN), Himpunan Mahasiswa Pascasarjana (HMP) UGM, Badan Eksekutif Mahasiswa REMA Universitas Negeri Yogyakarta, BEM Universitas Pembangunan Nasional, dan forum Silaturahmi Remaja Masjid Yogyakarta.

Menurut mahasiswa indikasi terjadinya politik uang kian memprihatinkan. Kemungkinan tindakan tak terpuji itu diperkirakan kian merebak sesaat sebelum pemberian suara dilakukan. Calon anggota legislatif yang bertanggung jawab diperkirakan akan melakukan serangan fajar untuk membeli suara.

Ironisnya, selama ini tindakan hukum terhadap pelaku masih belum maksimal. Tahun 2004 lalu, misalnya, terdapat 1.253 kasus yang dilimpahkan ke kejaksaan. Namun, hanya 1.065 kasus yang sampai dibawa ke pengadilan. "Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) mengakui dari ribuan dugaan pelanggaran pemilu yang diajukan, tak sampai 100 kasus yang sampai ke meja hijau," ujar Sujatmiko.

Terjadinya politik uang, menurut mahasiswa salah satunya akibatkan oleh kondisi yang ada saat ini. Jumlah partai dan calon legislatif yang berjibun membingungkan masyarakat.

Adapun di sisi lain janji yang diobral caleg tidak sesuai kenyataan sehingga memunculkan kekecewaan. Akibatnya, banyak pemilih bimbang yang berpotensi golput atau mudah dibeli.

Marhadi dari HMP UGM mengingatkan agar pemilih tidak mudah tertipu oleh janji-janji manis caleg. Berdasar pengalaman pada pemilu sebelumnya, banyak caleg yang ingkar atau mengkhianati mandat rakyat.

"Mereka tidak akan bisa membawa perubahan. Mereka lebih mengutamakan kepentingan sendiri," ujarnya.

 

 

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau