YOGYAKARTA, KOMPAS — Mahasiswa di Yogyakarta berencana membentuk gugus relawan pemburu pelaku money politic dalam pemilu legislatif yang tinggal lima hari lagi. Hal itu disampaikan Koordinator Gerakan Rakyat Peduli Demokrasi, Sujatmiko, di sela-sela unjuk rasa di bundaran Kampus Universitas Gadjah Mada, Jumat (3/4).
"Kami menuntut kepada polisi, panitia pengawas pemilu, dan pihal lainnya untuk membuat tindakan preventif dan progresif yakni menangkal money politic sekaligus melakukan proses hukum. Setelah itu, kami akan membentuk gugus relawan pemburu money politic," ujar Sujatmiko.
Unjuk rasa menolak money politic atau politik uang diikuti 13 organisasi, di antaranya Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) DIY, Lembaga Kajian Isu-Isu Strategis dan Kawasan (LISAN), Himpunan Mahasiswa Pascasarjana (HMP) UGM, Badan Eksekutif Mahasiswa REMA Universitas Negeri Yogyakarta, BEM Universitas Pembangunan Nasional, dan forum Silaturahmi Remaja Masjid Yogyakarta.
Menurut mahasiswa indikasi terjadinya politik uang kian memprihatinkan. Kemungkinan tindakan tak terpuji itu diperkirakan kian merebak sesaat sebelum pemberian suara dilakukan. Calon anggota legislatif yang bertanggung jawab diperkirakan akan melakukan serangan fajar untuk membeli suara.
Ironisnya, selama ini tindakan hukum terhadap pelaku masih belum maksimal. Tahun 2004 lalu, misalnya, terdapat 1.253 kasus yang dilimpahkan ke kejaksaan. Namun, hanya 1.065 kasus yang sampai dibawa ke pengadilan. "Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) mengakui dari ribuan dugaan pelanggaran pemilu yang diajukan, tak sampai 100 kasus yang sampai ke meja hijau," ujar Sujatmiko.
Terjadinya politik uang, menurut mahasiswa salah satunya akibatkan oleh kondisi yang ada saat ini. Jumlah partai dan calon legislatif yang berjibun membingungkan masyarakat.
Adapun di sisi lain janji yang diobral caleg tidak sesuai kenyataan sehingga memunculkan kekecewaan. Akibatnya, banyak pemilih bimbang yang berpotensi golput atau mudah dibeli.
Marhadi dari HMP UGM mengingatkan agar pemilih tidak mudah tertipu oleh janji-janji manis caleg. Berdasar pengalaman pada pemilu sebelumnya, banyak caleg yang ingkar atau mengkhianati mandat rakyat.
"Mereka tidak akan bisa membawa perubahan. Mereka lebih mengutamakan kepentingan sendiri," ujarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang