Ketika Hari Ini Seperti Hari itu

Kompas.com - 07/04/2009, 00:49 WIB

Cerpen Riyan Apriansyah

Aku berdiri di depan sebuah banner besar tentang pengumuman pelaksanaan ujian semester. Di depanku terlihat Marina berjalan menghampiri lalu berdiri di sampingku.

“Pengumuman apa, Yan?”

“Bayar SPP ama pengumuman waktu ujian” jawabku.

“Waduh, bayar lagi nih”.

Aku pun menoleh dan terlihat senyum manisnya. Aku tersentak. Ada rasa yang aneh menjalar di tubuhku yang membuat jantungku berdetak sedikit cepat. Senyum itu terasa begitu ku kenal. Ya, itu senyummu, Tini.

Kartini, wanita yang begitu mempengaruhi hidupku walau kini aku tak tahu lagi dia di mana. Aku hanya tahu dia ada di hatiku. Sudah 4 tahun sejak terakhir kali ku bertemu dengannya.

Sejak malam itu perasaanku berubah, tidak seperti biasanya, rasanya ada yang lain setiap kali bertemu dengan Marina. Tapi perasaan ini sudah sering kurasakan sama seperti setiap kali ku bertemu dengan Kartini. Kini ketika ngobrol dengan Marina aku selalu melihat jauh ke dalam matanya. Dan aku pun melihatmu, Tini.

***

Sudah dua jam Pak Zainal memberi kuliah. Mataku pun sudah terasa berat. Jam di HP-ku menunjukkan pukul 21:45, kulihat teman-temanku juga tak sabar untuk segera pulang, semua sudah tak berkonsentrasi lagi.

"Baiklah, saya kira cukup untuk malam ini, minggu depan kita ketemu lagi” ucap Pak Zainal.

Semua segera beranjak dari tempat duduk. “Riyan, aku duluan ya” Galih berpamitan padaku.”Ya”.

Sesampainya di parkiran, kulihat Marina mendekatiku.

“Riyan, boleh nggak aku numpang sampai halte depan?”

“Boleh aja. Ayo” jawabku. Marina pun segera menaiki motorku.

“Emang jam segini masih ada angkot?”

” Nggak tau, moga-moga aja masih ada,” jawab Marina.

“Aku anterin aja sampai rumah.”

“Jangan deh, rumahku jauh.” Marina berbasa-basi. “Sudahlah gak papa kok” “Makasih ya.”

Angin terasa dingin seiring malam yang semakin larut. Marina mencoba menghangatkan suasana dengan banyak bertanya, sedangkan aku hanya menjawab sekenanya. Ada keraguan menggelayut di pikiranku. Aku ragu, apa yang akan terjadi selanjutnya setelah malam ini? Haruskah ku biarkan kedekatan ini? Haruskah ku biarkan hatiku terjatuh ke dalam hati Marina?

“Pertigaan itu belok kiri,” Marina menyela lamunanku.

“Itu rumahku, depan wartel.”

Aku menghentikan motorku tepat di depan pintu besi rumahnya.

“Nggak mampir dulu?”

“Kapan-kapan aja deh, sudah malam.”

“Makasih ya.” Marina tersenyum lagi kepadaku. Senyum yang sangat ku kenal. Hanya saja ada lesung pipit yang menambah manis senyumannya. Tapi cara dia tersenyum dan menatapku sama seperti senyum Kartini yang selalu menenangkanku.

“Marina, Aku pulang dulu ya”

Hari-hari berikutnya kulalui dengan jarak yang semakin dekat dengan Marina. Tetapi semakin hari semakin bercampur aduk rasa di hatiku. Ada rasa rindu ketika Marina tak datang ke kampus. Ada juga rasa ingin menjauh ketika dia mendekatiku dan tersenyum padaku. Sering ku merasa gugup ketika hanya membalas sapanya. Perang di hatiku membuat pikiranku sangat sibuk dan kadang sulit mengistirahatkannya ketika tidur.

Namun terkadang sesuatu terlihat lebih jelas ketika kita mundur selangkah. Seminggu sengaja aku tak datang ke kampus. Aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan hati ini. Kucoba menyelami sendiri rasa hatiku yang sudah lama kubekukan. Tapi ternyata jawaban yang kutemukan malah bukanlah hal baru. Semua kejadian yang pernah kualami nampaknya akan terulang. Kurasa cinta mendekapku sekali lagi.

“Ke mana aja seminggu ini?”

“Ehm, ada perlu sedikit,” jawabku gugup.

“Ada banyak tugas loh.”

“Oh ya?”

“Nih, aku dah ngerjain, besok dikumpulin,” Marina mengulurkan beberapa lembar kertas.

“Makasih”

“Gak pa pa, kamu juga sering bantuin aku,” ucap Marina disertai senyum lesung pipitnya yang selalu manis. Aku balas tersenyum dengan keraguan. Hingga tak kusadari Marina pun berlalu untuk mengikuti mata kuliah yang tak kuambil.

Setelah Lusi berpamitan, maka tinggallah Marina dan aku duduk berdua di taman kampus. “Nih, punya kamu, makasih,” aku mengulurkan tangan menyerahkan lembaran tugas Marina.

“Loh, kok dikembaliin.”

“Dah aku fotokopi.”

“Oh.”

Malam itu begitu indah. Obrolan ringan dengan Marina menghangatkan malam. Kadang kutatap Marina tepat di matanya yang bening. Rasanya, di bening matanya itu ada mata air yang menyejukkan. Atau mungkin bisa saja menenggelamkanku.

Sebenarnya aku ingin melepas dekapan cinta ini. Aku tak ingin terjebak dan terbakar dalam kehangatannya. Tapi bagaimana? Kehangatan Marina begitu memikatku. Seperti kehangatan mentari yang selalu dirindukan ketika malam begitu dingin menggigil.

Dan malam itu aroma cinta membumbung tinggi menuju bulan terang yang belum bundar sempurna. Aku biarkan hati ini terjatuh lagi. Kartini mungkin pernah melihat hatiku hancur berantakan beberapa tahun lalu. Tapi hati ini telah kusatukan, kurekatkan satu persatu walau sulit menemukan pecahan-pecahannya.

***

Suatu senja terlihat langit merah menyala. Bias merahnya menerpa daun-daun kering yang berserakan di bawah bangku kayu yang kududuki. Tiba-tiba saja wajah Kartini yang merona kembali melintas, menyuguhkan senyuman manis yang begitu khas. Ku nikmati setiap teguk senyumnya, seperti segelas teh yang sering dia suguhkan padaku. Kulihat binar matanya yang sebening telaga yang telah menenggelamkanku, semua terlihat jelas di anganku. Hingga sapa Marina menghapus semuanya.

“Ngapain sendirian?”

“Lagi nunggu Toni,” jawabku bohong. Meski sudah sejam aku menunggu Marina. “Aku pulang dulu ya.” Marina berpamitan.

“Dah selesai ta kuliahnya?”

“Udah. Aku duluan ya.” Ternyata Marina hanya melintas, meninggalkanku sendiri dalam kerinduan yang belum tuntas.

Tak biasanya Marina begitu dingin. Kali ini tak ada senyum lesung pipit yang biasanya begitu manis untukku. Mungkinkah dia menjauh seperti Tini dulu? Tapi kenapa juga semua ini terasa biasa bagiku? Semua seolah ulangan masa lalu yang sudah ku hafal setiap episodenya. Ku hanya memandangi sosok Marina yang memudar seiring menghitamnya langit merah di ufuk barat. Aku pun beranjak dari dudukku, tak ada gunanya lagi menunggu di sini. Kartini tak akan muncul lagi.

Beberapa bulan kemudian di suatu senja yang lain, Marina terlihat duduk sendiri di taman. Aku sengaja tak menghampirinya, aku berjalan melintasi taman menuju gedung fakultas. Aku melihat-lihat papan pengumuman dan isinya cuma berita lama. Hingga Marina memanggilku, dan ku lihat masih tak ada senyum di wajahnya. “Ada pengumuman apa?”

“Nggak ada yang baru,” jawabku singkat.

“Aku pengen ngomong sesuatu ke kamu.”

“Masalah apa sih?” aku mengeryitkan dahi.

“Aku minta maaf, akhir-akhir ini aku mengacuhkanmu. Aku mencoba menghindar dari kamu. Aku tak ingin kedekatan kita nantinya malah membuat kita jauh. Aku merasa ada sesuatu yang lain ketika kau memandangku.”

“Iya. Kamu benar, Marina. Aku cinta kamu”

Angin sama sekali tak beranjak. Diam tak ada suara. Daun-daun kering yang berserakan benar-benar mati tak bergerak. Tak ada kata-kata yang keluar dari mulutku ataupun mulutnya. Ku lihat tak ada yang berubah pada raut wajah Marina. Namun perlahan samar-samar ku lihat rona ayu wajah Kartini. Bukan Marina lagi. Aku pun tersenyum. Lama aku memandangi wajah cantik yang lama tak temui itu. Rasanya hari ini seperti hari itu. Aku pun kembali ke masa lalu saat kunyatakan cinta pada Kartini, sampai suara Marina membuyarkannya. “Riyan?”

“Iya?”

Kami saling berpandangan. Hanya itu saja, suasana kembali sepi. Beberapa detik tatap mata sudah cukup untuk menggantikan sejuta kata di hati.

Marina bangkit dan duduk di sisiku. Jemarinya yang lentik menyentuh jari-jariku. Kurasakan butiran es di hatiku mencair oleh kehangatan yang menjalar dari ujung jari hingga ke dadaku. Dipompa oleh jantung dan kemudian mengalir ke seluruh tubuh. “Yan, aku tahu kamu mencintaiku. Tatapan matamu mengatakan semua. Tapi aku hatiku sudah untuk orang lain. Maafkan aku.”

“Aku tak ingin memilikimu. Mencintaimu sudah cukup bagiku,” jawabku singkat. “Kamu nggak marah kan?”

“Kenapa harus marah?”

“Kamu nggak sakit hati kan?”

“Kenapa harus sakit hati?”

Langit semakin kelabu dan garis merah di cakrawala telah menghilang. Begitu pun Marina. Semenit lalu telah berpamitan padaku “Aku pulang dulu” begitu katanya. Ah, Marina, Aku sama sekali tak sakit hati atau kecewa. Hati ini tak mungkin hancur lagi. Harusnya aku berterima kasih padamu, senyum dan bening matamu mempertemukanku lagi dengan Kartini.

Aku masih duduk sendiri menanti wajah Kartini yang sempat muncul tadi. Tapi angin seolah berbisik, “Dia pergi telah pergi.”

Ah, itu hanya kabar angin. Hanya orang bodoh yang percaya pada kabar angin. Ku lihat senyum manis Kartini melayang-layang di angkasa dan sebentar lagi turun di taman ini, menemaniku.

***

Surabaya, Maret 2009

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau