Mata Hatimu Matahariku.
Oleh: Irwan dwi Kustanto
Bahkan gelap sekalipun
Takkan mampu menahan
Kaki-kaki dan tongkat Melangkah beriringan
Ke lautan dalam,
Ke langit penuh bintang,
Ke cakrawala angan-angan yang penuh harapan
Bila jiwa bercahaya,
Bila hati tercerah asa
Bila matahatimu menjadi matahariku
Dan Menggema pada bola mata kami yang buta
hingga telinga kami dapat menangkap warna, hingga jemari kami sanggup melihat dunia dan mendekap semesta
bahkan gelap sekalipun tak dapat membuat kami (orang buta)
putus asa
sepercik sinar dari hatimu itu
telah cukup membuat bola mata kami yang redup gulita
benderang seketika
dan seberkas cahaya matahatimu itu
membuat hidup kami penuh warna dan
bahagia
Itulah puisi karya Irwan Dwi Kustanto – seorang tunanetra sejak usia remaja, yang khusus diciptakannya untuk mengajak sahabat-sahabatnya “memberikan sedikit hati dan mata mereka” untuk para tunanetra di negeri ini.
Aku masih ingat, sekitar tiga tahun lalu, saat Mitra Netra – lembaga di mana saat ini Irwan berkiprah sebagai Wakil Direktur, bekerja sama dengan Gagas Media – sebuah perusahaan penerbit buku, dan Perpustakan Departemen Pendidikan Nasional untuk pertama kalinya meluncurkan “tujuh novel dalam huruf Braille”, ia mengatakan “duapuluh tahun lamanya saya menunggu saat seperti ini, saat di mana saya bisa membaca buku-buku sastra yang saya ingin baca”. Kata-kata itu tentu saja membuat semua yang hadir terperangah, termasuk ketujuh penulis yang Novel versi Braille karya mereka diluncurkan siang itu.
Apa yang Irwan sampaikan itu adalah fakta; dan Irwan juga mewakili lebih dari tiga juta orang tunanetra di negeri ini. Bagi tunanetra di Indonesia, memiliki kesempatan membaca buku yang diinginkan adalah ”kemewahan yang amat sangat”. Berdasarkan data Mitra Netra, dari sepuluh ribu buku baru yang beredar di masyarakat setiap tahun, hanya satu persennya saja yang dapat diproduksi oleh Yayasan ini untuk para tunanetra. Hal ini bisa dimengerti, karena hingga kini, Mitra Netra masih menjadi satu-satunya lembaga yang secara terus-menerus memproduksi buku bagi mereka yang punya hambatan penglihatan di Indonesia.
Menyadari keterbatasan ini, pada tanggal 30 Januari lalu – bertepatan dengan ulang tahun ketiga Gerakan Seribu Buku Untuk Tunanetra --, Yayasan Mitra Netra, organisasi nir laba yang memusatkan perhatiannya pada upaya peningkatan kualitas dan partisipasi tunanetra di bidang pendidikan dan lapangan kerja, meluncurkan kegiatan kampanye kepedulian bertajuk “celengan Untuk Sahabat”.
“Celengan Untuk Sahabat” adalah ajakan menabung di sekolah masing-masing yang ditujukan kepada siswa-siswa sekolah dasar; dengan menabung melalui “Celengan Untuk Sahabat” seorang siswa memiliki kesempatan membantu teman-teman mereka yang tunanetra dapat membaca lebih banyak buku.
Mengapa di sekolah? Ada beberapa alas an yang melatarbelakanginya. Pertama, melibatkan sekolah untuk memperkenalkan kepada para siswa bagaimana teman-teman mereka yang tunanetra membaca buku, dan agar teman-teman ini punya lebih banyak buku, para siswa juga punya kesempatan untuk membantu. Kedua, dengan menabung di sekolah, diharapkan kegiatan ini menjadi bagian dari aktivitas murid-murid di sekolah masing-masing.
Untuk keperluan ini, Mitra Netra, setelah mendapatkan persetujuan dari pihak sekolah, akan mengirimkan sejumlah “celengan” yang nantinya disimpan di kelas masing-masing, para guru kelas diharapkan mengkoordinir kegiatan ini di kelas masing-masing. Dalam waktu yang disepakati, rata-rata tiga bulan, petugas dari Mitra Netra akan mengambil kembali “celengan tersebut”, dan akan menyampaikan laporan secara resmi kepada pihak sekolah, untuk kemudian juga diinformasikan kepada orang tua para siswa. Tidak hanya itu, sebagai laporan kepada public, Yayasan ini juga akan mengumumkan nama-nama sekolah yang bergabung dalam kegiatan kampanye kesadaran ini pada website www.mitranetra.or.id.
“Celengan Untuk Sahabat Bantu Teman-Teman Tunanetra membaca Lebih Banyak Buku Braille”.
Jakarta, 5 Februari 2009
Aria Indrawati
Kabag Humas Yayasan Mitra Netra