Krisis Jangan Ganggu Hubungan RI-Malaysia

Kompas.com - 08/04/2009, 05:50 WIB

Ninok Leksono

PUTRA JAYA, KOMPAS.com - Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Najib Razak mengharapkan bahwa kondisi krisis yang dihadapi baik oleh Indonesia maupun Malaysia sekarang ini janganlah mengganggu hubungan kedua negara.

Memang ada perusahaan Malaysia yang harus mengurangi karyawan asal Indonesia, tetapi hal itu diharapkan bisa dipahami. Permasalahan ini juga telah disampaikan oleh PM Malaysia kepada Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dalam pembicaraan melalui telepon beberapa hari lalu seusai ia dilantik.

Dalam penjelasannya kepada sejumlah wartawan Indonesia di kantor PM yang baru dua hari dihuninya, Selasa (7/4), PM Najib Razak juga menegaskan bahwa tidak ada masalah mendesak antara Indonesia dan Malaysia. Sebagian permasalahan bahkan sudah ditangani pendahulunya, Abdullah Badawi.

Ia berharap dapat terus menjalin hubungan hangat dengan pemimpin Indonesia hingga jika ada masalah apa pun antara kedua bangsa dapat ia tanggapi karena kedekatan hubungan pribadi antara dirinya dan pemimpin Indonesia.

Ekonomi dan keamanan

Untuk membicarakan lebih rinci hubungan bilateral dan isu regional serta krisis ekonomi global, PM Najib Razak akan bertemu dengan Presiden Yudhoyono dalam KTT ASEAN dengan mitra dialognya yang dijadwalkan berlangsung di Pattaya, Thailand, 10-12 April ini.

Khusus menyangkut penanggulangan krisis dan peningkatan hubungan ekonomi kedua negara, Najib Razak mengharapkan adanya peningkatan investasi dan integrasi dua arah, tidak saja dari pihak Malaysia ke Indonesia, tetapi juga sebaliknya. Ia juga ingin mendorong adanya usaha patungan baru antara investor kedua negara.

Di pihak Malaysia, upaya terus dilakukan untuk terus menggairahkan perekonomian melalui program stimulus sehingga permintaan dalam negeri bisa dipertahankan. Untuk lingkup global, pemerintahannya berharap akan ada pemulihan tahun depan.

Selain menanggulangi langsung krisis yang ada, Malaysia juga berharap ditegakkannya sistem keuangan global yang baru, yang antara lain bisa mengatur perbankan secara lebih disiplin.

Menyangkut masalah keamanan, Malaysia melihat baik secara internal maupun regional tidak ada ancaman serius dalam jangka dekat. Meski demikian, PM Najib Razak melihat adanya permasalahan yang perlu diselesaikan segera dengan Presiden Gloria Macapagal-Arroyo menyangkut perkembangan di Filipina Selatan.

Adapun masalah perbatasan yang masih ada antara Malaysia dan Indonesia, Najib berjanji menyelesaikannya melalui perundingan dan lewat keputusan politik. ”Kita mesti memilih jalan itu,” ujar PM Malaysia.

Pada bagian lain wawancara, pemimpin baru Malaysia ini juga mengakui, sekali waktu ada ketegangan hubungan kedua negara. Namun, asal ada komunikasi yang baik di antara pemimpin, masalah yang ada bisa diatasi.

Indonesia dan Malaysia harus menjauhi persaingan negatif dan sama-sama meyakini bahwa kemajuan salah satu pihak adalah juga kemajuan di pihak lain,” tutur PM Najib Razak.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau